Rabu, 03 Desember 2014

Cara Mudah Memperpanjang STNK ala Jogja

Siapa yang tak kenal STNK?

Yaa, Surat Tanda Nomor Kendaraan. Surat inilah yang selalu kita tanyakan kepada anggota keluarga yang hendak bepergian menggunakan sepeda motor atau pun mobil. Kenapa demikian? Bagi kami, dan juga bagi keluarga-keluarga yang lain, STNK menjadi hal yang 'wajib' ditanyakan setiap hendak ke luar rumah. Bukan karena di minggu minggu ini Kepolisian sedang giat melakukan Operasi Zebra 2014, bukan pula karena takut kena tilang. Tetapi alasan utamanya adalah perasaan tenang selama berkendara.

Okee...saya tidak akan membahas tentang perasaan saat bepergian tetapi terlupa membawa STNK.


*********

Beberapa minggu yang lalu, di awal bulan Nopember anak sulung saya sudah mengingatkan untuk memperpanjang STNK sepeda motor kesayangannya. Secara kebetulan, tanggal kadaluwarsa masa berlaku STNK tersebut berbeda satu hari dengan ulang tahun ayahnya. Saya bilang: "iya nak. Nanti mama yang akan urus perpanjangannya".

Tapi apa lacur? Karena kesibukan dan jeda yang terlalu jauh antara telepon dan tanggal kadaluwarsa STNK....saya pun lupa. Bukan hanya sehari dua, tetapi bahkan hingga bulan berganti. Alamaakk..gimana ini?

Sementara dhenok, dengan perasaan menyesal memberitahukan bahwa ia tidak bisa pulang ke Jogja dalam waktu dekat. Pekerjaannya tidak memungkinkan untuk ditinggal-tinggal, sementara untuk mengirimkan KTPnya via ekspedisi ..... terus terang kami sedikit khawatir. Takut tidak sampai , takut hilang, malas bila harus mengurus KTP lagi bila hilang dan sebagainya. Bingung kan?

Mengingat STNK kendaraan itu atas nama dhenok, mau tidak mau saya harus menunggu KTP aslinya untuk memperpanjang. Khawatir dan was was tentu saja melanda saya setiap kali ke luar rumah mengendarai motor itu. Betapa tidak, STNK motor itu sudah kadaluwarsa.

Untunglah, sejak tanggal 28 Nopember 2014 yang lalu, Pemerintah Kota Yogyakarta menyelenggarakan event tahunan Pasar Malam Perayaan Sekaten. Bertempat di Alun Alun Utara, acara ini dihelat sebagai acara yang menyedot animo masyarakat untuk sarana hiburan murah meriah.

Dua buah tenda berukuran besar berdiri megah di sisi sebelah Selatan bagian Barat. Beberapa kantor dinas membuka stand di sana. Salah satunya adalah Samsat (Sistem Administrasi Satu Atap) milik Kepolisian.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Di suatu sore yang cerah --beberapa hari Jogja diguyur hujan setiap sore-- kami mengunjungi stand Samsat. Sebelumnya saya mampir di stand BPJS untuk menanyakan beberapa hal yang ingin kami ketahui.

Di stand Samsat kami mendapatkan brosur seperti ini.


1417669468528498943


Jujur, saya terkaget-kaget membaca brosur yang diberikan petugas bagian informasi di stand Samsat. Selama ini yang kami pahami adalah, setiap kali memproses perpanjangan STNK, kami membutuhkan KTP asli beserta BPKB, Notice Pajak tahun terakhir dan sebagainya. Kenapa kami tidak tahu yaa? Apakah karena kami yang "kurang piknik" -- istilah kami bila ketinggalan berita atau informasi -- atau karena pihak Samsat yang kurang mensosialisasi peraturan ini ke masyarakat? Entahlah, saya kurang mengerti dimana kesalahannya.

Akhirnya, tanpa menunggu dhenok mengirimkan KTPnya yang asli, kami berangkat ke Sekaten --demikian kami biasa menyebutnya-- untuk yang kedua kalinya.


Berbekal BPKB, Kartu Keluarga asli, STNK, Notice Pajak --semuanya dilengkapi dengan fotocopynya-- kami segera menuju ke stand Samsat tanpa berputar-putar dahulu. Tidak butuh waktu lama, sekitar 5 menit proses perpanjangan masa berlaku STNK kendaraan kami pun selesai. Ada denda yang harus kami bayar, tetapi itu tidak kami sesali. Kecerobohan kami lah penyebab timbulnya denda tersebut.

Nah ...selesai. Setelah mengulurkan STNK berikut BPKB dan Kartu Keluarga yg asli, petugas yang ramah itu menyelipkan selebaran (lagi) sebagai berikut:


1417670020923293026


Lega? Tentu saja. Kenapa harus menunggu-nunggu begitu lama bila proses perpanjangan itu hanya butuh beberapa menit saja? Apalagi, stand Samsat buka dari jam 17.00 - 20.30 setiap hari. Jadi, tanpa harus meninggalkan pekerjaan utama pun kita bisa melakukan perpanjangan STNK. Cukup membantu kan?


*******


Jadi, siapa bilang perpanjangan STNK itu ribet dan memakan waktu? Datang saja ke Sekaten di Alun Alun Utara Yogyakarta, temukan kemudahan prosesnya di sana.
(ini bukan iklan atau promosi -- buktikan sendiri)


Semoga bermanfaat.
Salam.



=====&&&&&&&&&&=====

Biarlah Foto-foto yang Berbicara

==Yang Tersisa dari Penyelenggaraan Kompasianival 2014==


Kopdar akbar yang bertajuk Kompasianival 2014 sudah beberapa waktu usai. Selama itu pula, bertebaran tulisan tentang penyelenggaraan pesta ini di Kompasiana. Tentu saja, tulisan tersebut berdasarkan sudut pandang dari masing-masing Kompasianer yang menuliskannya.

Saya sempat mengunjungi tulisan beberapa Kompasianer, terutama yang berada di ter - ter - ter dan terutama yang sempat nangkring di HeadLine Kompasiana. Karena keterbatasan waktu, tidak semua tulisan tentang penyelenggaraan Kompasianival 2014 saya kunjungi. Maaf banget.

Dari beberapa tulisan yang telah saya baca, ada satu yang membuat saya merasa sedih. Sebagai warga dari komunitas Desa Rangkat, yang kebetulan posisi boothnya bersebelahan dengan KoplakYoBand --berselang satu-- saya betul-betul merasa nyesek luar biasa.

Booth Desa Rangkat yang kereeenn abiis ..... muji karya komunitas sendiri boleh doong .... dengan backdropwarna warni berisi informasi kegiatan Desa Rangkat sejak berdiri hingga berusia 4 tahun, juga foto-foto Kades dari periode pertama hingga periode ke-lima. Juga maskot Rangkat yang super duper pinky - Pongky si Pocong Pingky - keriuhan booth yang tak pernah henti karena selalu ada gelak tawa dan canda juga pelukan kerinduan dari masing-masing warganya yang datang, tumpeng nasi kuning yang nangkring di meja display bersebelahan dengan buku-buku yang pernah dihasilkan oleh komunitas Desa Rangkat, Duta Rangkat yang memakai selempang biru dengan senyum manisnya .... semuanya terlalu sayang bila dilewatkan.

Saya tidak ingin membahas tulisan yang membuat saya nyesek luar biasa. Saya hanya ingin membagikan foto-foto tentang booth Desa Rangkat, kemeriahannya, kasih sayang yang terpancar dari masing-masing warganya, dan cinta luar biasa yang bisa kami berikan kepada sesama warga.

14172538892133065801
booth Desa Rangkat
141725393659195185
Narsis dan narsis di setiap kesempatan
1417253985309659535
booth Desa Rangkat pagi hari...sebelum riuh oleh warga DeaR yang hadir
1417254069201839700
banner kegiatan dan Riwayat Desa Rangkat
14172542161539959931
serius membahas perkembangan Desa Rangkat
14172542592057347752
mantan Kades sedang in action -- melayani wawancara dengan wartawan Kompas.com
14172543131333169653
makan dan narsis .... tak pernah terlewatkan setiap kali warga DeaR ngumpul...dimana pun
14172544191432389143
Duta Rangkat
141725448279544454
Sekdes Rangkat periode 2014 - 2015 bersama maskot Rangkat
14172545211714163886
penasaran dengan tali si pocong
14172545671812309317
narsis dan narsis ...everywhere
14172546231038689968
kamera itu wajib .....
1417254653773984647
tak bisa menghindari
14172547101955571352
maskot Rangkat .... cantik yaa?
141725475624231245
tak terpisahkan ... ngeriung dan ngerumpi
1417254816575745743
makan duluuu
14172548471421020696
lokasi
1417254908513074366
Sekdes Rangkat, disela kesibukannya masih sempat narsis
14172549481021680107
speechless
14172549791090670583
tawaran menulis biografi dari pak dokter
14172550231670923747
tumpeng ulang tahun Desa Rangkat
14172550751399153427
pose yang maniiiissss
14172551051273638779
maskot Rangkat selalu jadi rebutan
Dengan begitu, saya tak perlu merasa sedih berkepanjangan. Kalau pun ada yang mengatakan bahwa booth Desa Rangkat tidak terlihat, biarlah foto-foto berikut ini yang menerangkannya dengan lebih jelas dan gamblang.

Tidak, saya tidak marah dengan kenyataan ini. Kenyataan bahwa Desa Rangkat tidak seterkenal komunitas lain yang membuka booth di Kompasianival 2014.

Sampai ketemu lagi di Kompasianival 2015 yaaa....jangan lupa berkunjung ke desa kami. Desa Rangkat. Desa yang berhiaskan Diskusi Elok aSah-Asih-asuh meRANGkai KATa.



=====%%%%%%%=====

note: foto-foto koleksi komunitas Desa Rangkat

Selasa, 16 September 2014

Pengin Nangis Sesiangan? Yuuuukkk .....

Musim kemarau seperti ini, harga bawang merah di pasaran “terjun bebas”. Bila biasanya harganya berkisar antara Rp19.000,- sampai Rp 22.000,-  tapi kali ini harganya berada di kisaran Rp 12.000,-sampai dengan Rp 15.000,-. Itu untuk harga bawang merah yang berukuran besar. Kalau yang lebih kecil, harganya tentu lebih murah lagi. Iklim yang mendukung menyebabkan ketersediaan bawang merah melimpah di pasaran.



1410770646493974207

Sebagai penggemar bawang merah goreng, kesempatan ini tak saya sia-siakan. Apalagi, kakangbojo juga menggemari bawang merah goreng yang gurih buatan saya. Hayyaaahhh…..namanya juga hasil masakan istri.


Duluuu, saya suka membeli bawang merah goreng di warung. Alasannya tentu saja kepraktisan. Tapiii, ternyata bawang merah kemasan yang kita beli aromanya tak sesedap bila kita menggorengnya sendiri. Dengan alasan itulah makanya saya rela “menangis sesiangan”. Hehehehe……

Tentu saja tidak demikian. Ada beberapa kiat yang bisa kita praktekkan bila kita ingin menggoreng bawang merah yang gurih tanpa harus ‘tersiksa’ dengan air mata yang terus menetes selama mengiris bawang.

Mula-mula siapkan baskom berisi air setengahnya. Kupas bawang merah lalu langsung masukkan ke dalam baskom tersebut. Lakukan hingga bawang merah habis dikupas.

1410770842326849686

Cuci bersih bawang merah kupas, lalu rendam kedalam air es/air dingin yang sudah dibubuhi garam. Diamkan kira-kira 15 menit.

14107709651273677925

Iris halus bawang merah yang sudah direndam tadi.

14107710601722109421

Taburkan garam halus ke atas irisan bawang merah, aduk rata. Diamkan sebentar.Biasanya irisan tersebut akan sedikit berair sesudahnya.

menunggu garam meresap, kita panaskan minyak goreng secukupnya. Goreng irisan bawang merah, jangan lupa diaduk-aduk agar tidak gosong. Bila bawang merah sudah kelihatan sedikit menguning, segera angkat. Siramkan minyak bekas menggoreng tadi - yang masih panas tentunya - beberapa kali hingga bawang goreng menjadi kuning kecoklatan.

Segera tuang ke dalam wadah, jangan taruh bawang goreng di atas serok panas. Hal itu akan menyebabkan bawang gorengnya menjadi kecoklatan.

1410771277770690740

Tunggu hingga dingin, lalu simpan dalam wadah bertutup rapat.


Naah, selesai sudah. Nikmat disantap dengan nasi hangat, sambel tomat, dan kerupuk. Ingat waktu jaman susah dulu? Saya nggak bertanggung jawab lhoo….

Selamat mencoba.



=====&&&&&&&&=====

Kamis, 15 Mei 2014

Jalan-Jalan ala Mak: Segarnya Air Umbul Cokro

Liburan Hari Raya Waisak 2558 yang jatuh pada hari Kamis kemarin, membuat galau......halaah, istilahnya ini.. Bagaimana tidak? Mau pergi ke luar kota yang agak jauhan dikit, nggak bisa karena hari Jumat bukan hari libur. Sementara bila bepergian ke obyek wisata yang agak dekat dan terjangkau dalam waktu 1 (satu) hari ....kita kebingungan sendiri. Bingung kan??
Sebagian besar sudah pernah mengunjunginya.......hehehehehe. Ini menggayaa beneran.....nggayaaaa....


Yaahh, mumpung kakang bojo sedang "longgar atine" dan mengajak kami sekeluarga pergi melancong....jiaah.... maka hari itu kami memutuskan untuk pergi berenang dan dilanjut makan-makan. Peduli amat berat badan naik drastis, yang penting pergi rame-rame dan senang-senang.

Kami segera bersiap, setelah menghabiskan makan pagi yang ala kadarnya, kami meluncur ke daerah Prambanan untuk menjemput beberapa keponakan yang unyu-unyu. Tak makan waktu lama, kami segera menuju ke daerah Polanharjo Klaten tepatnya di daerah Cokrotulung. Jangan membayangkan kami menuju ke kolam renang mewah ala hotel berbintang...... Terus terang, kami tak begitu suka. Kami lebih memilih mengunjungi pemandian yang asri, sejuk, dan menantang. Kok bisa? Tentu saja. 

Niii......foto-fotonyaa.....






Dikelilingi oleh pepohonan besar dan rindang, pemandian ini menawarkan sensasi berenang yang susah untuk dilupakan begitu saja. Oooohh yaaa? Apa coba buktinya??



Tentu saja. Ada trik khusus bagi siapa saja yang berencana untuk berenang di pemandian ini. Apa itu?
Menurut orang-orang sekitar yang terbiasa mandi (berenang) di pemandian itu, kita harus membenamkan sekujur tubuh hingga kepala ke dalam air. Kenapa memangnya? Iiihh, banyak nanya deeh...hehehehehe
Mereka percaya, dengan cara demikian kita tak akan kedinginan selama berenang di air mengalir yang sejuk dan segar ini. Segar? Huaahh......bagi saya siiihh, membekukan. Bagai air dari kulkas disiramkan ke tubuh yang kepanasan.


Bagi anak-anak, disediakan kolam khusus yang kedalamannya tak lebih dari 1.5 meter dan ketinggian air tak lebih dari 75cm --lebih kurang--.... Tentu saja, ini untuk mencegah agar anak-anak tidak tenggelam karena belum mahir berenang. Tetapi jangan khawatir, karena beberapa penduduk sekitar yang berjualan membuka warung gorengan, menyewakan tikar, menyediakan beberapa minuman ringan dan snack, juga sekaligus menyediakan ban bekas yang bisa digunakan sebagai pelampung.....





 Tak hanya anak-anak kecil, beberapa orang dewasa pun tak sungkan menyewa ban tersebut untuk berenang....eeh mandi. Jangan membayangkan mereka menggunakan pakaian renang yang modis dan seksi, memakai celana pendek dan kaus sehari-hari pun oke jugaa...


 ~~~~~ooOOOoo~~~~~

 Berhubung kami berkunjung pada hari libur, kami dihibur oleh pertunjukan live music. Sebuah panggung permanen didirikan di salah satu sudut pemandian, siang itu kebetulan mereka menyuguhkan musik dangdut. Musik yang kata sebagian orang dianggap sebagai musik kampungan. Aaahh, peduli amat dengan anggapan itu.

Buktinya? Beberapa anak-anak dan remaja asyik bergoyang mengikuti irama lagu dangdut yang menghentak. Bahkan ada pasukan joget yang memakai kaus seragam berwarna hitam yang asyik menggoyang-goyangkan tubuhnya. Ulah mereka menyebabkan beberapa pengunjung agak kesulitan untuk berlalu lalang.





Uniknya lagi, beberapa pengunjung dengan santainya duduk di bawah panggung pertunjukan....hahahahaha


Pokoknya seruuu deeh, nggak bisa berkata-kata lagi. Buktikan sendiri bila kebetulan sedang berkunjung ke Klaten, Jogja atau pun Solo.....sempatkan deh berkunjung ke sini....



Menjelang makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke kawasan Janti, dimana terdapat banyak sekali tempat pemancingan, tetapi bukan untuk memancing hehehehehe....

Di kawasan ini, mata pencaharian penduduk adalah memelihara ikan. Ketersediaan air yang melimpah dimanfaatkan benar-benar. Beberapa diantaranya sengaja membuka warung makan untuk melayani para pengunjung.
Sambil menunggu makan siang disiapkan, kami menghabiskan waktu dengan memancing di kolam yang terletak di belakang rumah. Seandainya kita berhasil mendapatkan ikan, kita dpersilahkan untuk memilih: membawa ikan itu pulang dalam keadaan hidup, dibawa pulang dalam keadaan matang (dimasak di tempat) atau dikembalikan ke kolam......dengan catatan masih hidup..... Enak kan?








Naaaahhh, berenang sudah, perut kembali kenyang juga sudah.......akhirnya kami memutuskan untuk pulang.

Ketemu lagi di cerita jalan-jalan selanjutnya yaaahhh.....


=====%%%%%%%%%%=====





Sabtu, 03 Mei 2014

Itung Itungan ala Mak: Cara Memilih Sekolah Lanjutan

Tahun ajaran baru hampir menjelang. Berbagai persiapan untuk menyambutnya sudah mulai dilakukan oleh orang tua, khususnya yang memiliki putra putri yang akan memasuki jenjang pendidikan lebih tinggi.

Tak dapat dipungkiri, memilih dan menentukan sekolah yang tepat untuk buah hati kita bukanlah persoalan yang mudah. Kita harus cermat berhitung untuk memutuskan sekolah mana yang akan kita pilih nantinya. Tentu saja, kita tak dapat mengesampingkan faktor nilai yang dimiliki oleh anak kita.
Beberapa tahun terakhir ini, di Jogjakarta khususnya di Kotamadya; Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru sudah melalui online. Real Time Online - begitu istilahnya. Sebagai orang tua, kita dimudahkan dengan adanya sistem ini.

Meskipun tahun ini saya tak lagi disibukkan dengan acara memilih dan mencari sekolah yang tepat untuk anak, tetapi ada beberapa hal yang pernah saya lakukan dulu yang ingin saya bagi di sini.

Kira-kira sebulan sebelum pembagian raport kenaikan ke kelas IV, saya sengaja membeli surat kabar lokal Jogja. Biasanya menjelang Tahun Ajaran Baru, mereka akan memuat beberapa tabel yang berisikan data lengkap tentang Penerimaan Peserta Didik Baru tahun sebelumnya. (sayangnya, saya tak punya satu pun contoh tabel dimaksud....hiks).......

Dari tabel tersebut, kita bisa menghitung dan mengira-ira kemana anak kita bisa mendaftar. Eits ....nanti dulu. Itung-itungan ini tidak asal hitung lhooo. Naah, setelah mengetahui persis jumlah siswa baru yang akan diterima, sebaran nilai terrendah hingga tertinggi dari siswa yang berhasil diterima di sekolah tujuan (biasanya sekolah negeri dan beberapa sekolah swasta yang bergabung di sistem RTO).... kita sisihkan dulu pemikiran ini.
Kenapa? Tentu saja karena kita harus menunggu. Apa yang ditunggu? Hehehe...raport anak kita tentunya. Lalu apa hubungannya?? Masih bingung?? .....Sabar yaaaa......


Setelah raport hasil belajar anak kita sudah diterima, saatnya mengajak anak untuk melihat dan membandingkan jumlah nilai raportnya dengan besaran jumlah NEM yang ada di tabel harian lokal tersebut.
Kita lihat nilai yang dicapai anak kita untuk mata pelajaran yang diujikan di Ujian Nasional. Berapa total jumlahnya?
Naah, setelah mengetahui total jumlah tersebut, kita bisa menentukan sekolah mana yang akan kita tuju nantinya. Terlalu dini? Tentu saja tidak...menurut saya lhooo....
Sebelumnya, tanyakan kepada anak, kemana ia ingin melanjutkan sekolahnya. Biasanya anak sudah punya gambaran kemana ia akan mendaftar.

Apa tidak terlalu terburu-buru? Ini anak baru mau naik ke kelas IV lhoo?
Tidak. Menurut saya, akan lebih baik bila anak dilibatkan sejak dini untuk memilih sekolah yang diinginkannya. Tak rasional? Tergantung dari mana kita melihatnya bukan?
Sejauh pengalaman saya selama ini, anak akan ikut bertanggung jawab dengan pilihannya bila dilibatkan dalam menentukan pilihan.

Voilaa.... point pertama sudah kita dapatkan. Anak sudah mempunyai gambaran SLTP yang akan ditujunya nanti.

Point yang kedua adalah..... jika anak sudah memilih, kita melangkah ke tahap selanjutnya. Apa itu?
Setelah SLTP dipilih, kita melihat ke total nilai UN di raport kenaikan kelasnya, lalu bandingkan dengan nilai terrendah dan tertinggi di tabel yang kita punya sebelumnya.

Sebagai contoh: 
Total nilai 3 mata pelajaran = 26
Nilai di SMP 1 = 28
Terdapat selisih nilai = 2.

Jelaskan kepada anak tentang kondisinya saat ini. Ia mempunyai kekurangan nilai 2 untuk bisa diterima di SMP 1. Tanyakan kepada anak, apa yang akan ia lakukan untuk mengejar kekurangan nilai tersebut?
Banyak alternatif pilihan: les privat, ikut kelas bimbingan belajar, les di sekolah atau belajar sendiri.Biarkan ia menentukan pilihannya sendiri. Tunggu.....kalau pilihannya tidak sesuai dengan keinginan kita? Bagaimana?
Untuk sementara kita yang mengalah. Setidaknya point yang kedua sudah kita peroleh.

Selanjutnya kita akan dampingi anak untuk melalui pelajarannya  di kelas IV seperti biasa. Biarkan anak melaluinya dengan perasaan senang. Karena saya seorang ibu rumah tangga, saya sediakan waktu untuk mengantarnya pergi ke sekolah, mengirim bekal makan siangnya, lalu menjemputnya saat sekolah usai. Kebetulan saya memilih SD yang tidak terlalu jauh dari rumah sehingga saya tak terlalu repot meskipun harus bolak balik dari rumah ke sekolah beberapa kali.
Tak lupa saya sempatkan untuk mengantarnya pergi ke tempat les pilihannya. Bila dirasa perlu, saya akan menungguinya selama ia mengikuti les.
Repot? Ya dan tidak. Kita hanya dituntut untuk bisa membagi waktu kita sebaik mungkin.

Point ketiga....... saat menerima raport  semester I di klas IV. Ajak anak untuk bersama-sama melihat pencapaiannya selama 6 bulan terakhir. Memuaskan atau ada yang harus digenjot kekurangannya?
Syukur bila nilainya bisa mendekati nilai SLTP tujuannya. Kalau tidak?
Ajak bicara anak kita. Berikan alternatif pilihan yang harus diambilnya. SLTP lain atau belajar lebih giat. Jangan lupa, berikan reward untuknya bila nilainya melebihi target yang kita tentukan (nilai SLTP yang ditujunya)..
Ribet yaaa..........?? Hehehe, yaa dan tidaak.

Kuncinya hanya pada kesepakatan antara saya dan anak. Bila nilainya memuaskan, anak tak harus ribet dengan les dan tambahan jam belajar yang menyita waktu bermainnya. Sementara bila hasilnya sebaliknya? Arahkan anak untuk lebih giat belajar dan mendampinginya selama waktu yang dibutuhkan.

Naah, tiba waktunya penerimaan raport kenaikan kelas ke kelas V. Sebelum itu, pastikan bahwa kita sudah mendapatkan tabel Penerimaan Peserta Didik Baru tahun ini dari harian lokal. Bandingkan tabel tahun lalu dengan tahun sekarang. Berapa banyak perbedaan sebaran nilai di SLTP yang dipilih anak?
Lalu bandingkan (lagi) dengan nilai raport anak. Berapa selisihnya? Besar kecilnya selisih ini lah yang kita pakai untuk menentukan gaya belajar anak kita di kelas V.

Balik lagi....bila kekurangan nilainya sedikit, anak tak perlu susah payah mengikuti segala macam bimbingan belajar, les privat atau pun pelajaran tambahan di sekolah. Biarkan anak menikmati waktu luangnya dengan bermain, mengerjakan hobinya atau kesenangan lain yang disukainya. Menggambar, nonton kartun, berenang, naik sepeda keliling kampung atau pun kegiatan lain. Tentu tak bijaksana kalau kita merampas masa bermainnya hanya demi memenuhi ambisi kita akan nilai terbaik.

Menginjak ke kelas VI, baru kita 'menyingsingkan lengan baju'. Dari dua tabel berbeda yang kita miliki kita sudah bisa mengira-ira kemana anak kita harus mendaftar. Sistem RTO di Kotamadya Jogjakarta memungkinkan siswa didik memilih 3 sekolah tujuan, 2 sekolah negeri dan 1 sekolah swasta. Disini kita diharuskan pintar pintar memilih. Kalau anak kita tidak diterima di sekolah pilihan ke-1, secara otomatis anak akan terlempar ke sekolah pilihan ke-2, dan atau terlempar ke sekolah pilihan ke-3.
Pastikan bahwa nilai anak kita berada dalam posisi aman di sekolah pilihan ke-1 kalau tidak ingin anak terlempar ke pilihan ke-2 atau ke-3. Jadi, berpikir masak-masak sebelum menentukan pilihan. Tetap lilbatkan anak dalam penentuan ini, karena dia lah yang akan menjalani pilihan ini. Bukan kita.

Selama duduk di bangku kelas VI, usahakan agar anak berada dalam kondisi prima. Hindarkan pertengkaran sesama anggota keluarga yang tak perlu, tekanan, perintah, bentakan atau pun hardikan yang bisa melemahkan semangat dan mood belajar anak. Jangan lupa untuk mengajaknya beribadah sesuai keyakinan kita, untuk memohon kemudahan dan pertolongan dariNya. Beberapa keluarga bahkan ada yang mengajak anak untuk berpuasa Senin Kamis...... selain mengajarkan kesederhanaan, puasa sunah ini diyakini bisa memuluskan jalan untuk menggapai cita-cita. Wallahu'alam.

Naah.......tibalah saat Ujian Nasional. Saya tak pernah meminta anak untuk mendapatkan nilai terbaik, tetapi selalu menekankan hasil maksimal sesuai kemampuan anak. Bila ia hanya mampu mendapat nilai 7, tentu tak bijak bila kita mengharuskan anak mendapatkan nilai 9 misalnya..... Biarkan anak menempuh ujiannya dengan tenang, bekali dengan sarapan yang disukainya, besarkan hatinya, beri semangat agar anak mengerjakan soal ujiannya dengan tenang. Tentu saja, doa dari kedua orang tua sebagai support spiritual tak boleh dilupakan.

Sambil menunggu pengumuman Nilai Ujian Nasional, kita bisa sedikit berlega hati. Setidaknya, kita sudah mulai mempersiapkan anak untuk menuju ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi jauh jauh hari. Menurut pengalaman saya, hal ini jauh lebih bermanfaat daripada membebani anak yang duduk di bangku klas VI dengan les  privat, tambahan jam belajar, bimbingan belajar selama seminggu penuh.
Tanpa kita sadari, kita telah merampas kegembiraannya, keceriaannya, masa 'bocah'nya dan memberinya tekanan bertubi-tubi. Bukan tidak mungkin, anak akan stress berkepanjangan hingga nilai Ujian Nasional yang digadang-gadang akan terbang entah kemana.

Naah, itu saja. Berdasar pengalaman saya, anak bungsu bisa mencapai target yang kita tetapkan bersama sejak awal. Tak ada rasa keterpaksaan atau pun keengganan dari pihak anak, dan kita sebagai orang tua tinggal memantau perkembangan anak. Tentu saja, jangan lupakan support dan bimbingan kita sebagai orang tua. Apa itu?
Mudah dan sederhana sebenarnya, tetapi belum tentu setiap orang rela melakukannya.
Salah satu contohnya: matikan televisi pada saat anak kita sedang sibuk belajar. Meskipun anak belajar di kamarnya dan kita menonton di ruang keluarga, tetapi itu sangat 'njomplang'....... Anak butuh contoh nyata, bukan hanya kata-kata yang tanpa bukti.
Kalau memungkinkan, dampingi mereka. Sediakan camilan sebagai penyemangat. Elusan dan tepukan di pundaknya pun bolehlah. Anak akan merasa orang tuanya ada bersamanya melewati hari-hari sulitnya.

Berani mencoba??
Salam


=====&&&&&&&&&&=====

Kamis, 01 Mei 2014

Ini Gara Gara Hujan

Seringkah anda bepergian dengan mengendarai motor berdua dengan suami? Tentu pertanyaan ini tak berlaku bagi mereka yang "baru" memiliki sepeda motor saja, belum mempunyai mobil. Saya salah satunya....hahahaha, jujur banget.

Banyak kejadian lucu yang bisa kita temui saat mengendarai motor. Angin yang menerpa wajah bila kita berkendara pelan-pelan, seperti elusan tangan malaikat mungil --hayyaahh-- anak  anak kecil yang tanpa dosa. Beberapa tahun terakhir kami memang sengaja mengendarai motor pelan-pelan. Bukan kenapa kenapa, lebih karena faktor umur saja. Semakin tua, rasanya hati ini semakin was was saja kalau memacu motor di jalanan.

Apalagi, suasana  jalanan di kota Jogjakarta sudah berubah banyak bila dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Kurangnya moda angkutan kota yang memadai untuk menjangkau setiap sudut kota, kemudahan mendapatkan kredit kendaraan bermotor dan juga akibat banyaknya mahasiswa yang menempuh pendidikan di kota pelajar ini menyebabkan beberapa ruas jalanan di Jogjakarta hampir mirip suasana di beberapa kota besar lainnya. Macet di saat jam-jam sibuk, bertambahnya polusi  udara yang menyesakkan dada dan waktu tempuh yang bertambah lama untuk jarak yang tidak terlampau jauh.

Menyebalkan? Kadang kadang iya. Apalagi saat kita sedang terburu-buru untuk menghadiri suatu acara, atau takut terlambat sampai di tempat kerja misalnya. Tapi inilah problem yang dihadapi oleh hampir sebagian besar kota.

Pengalaman lucu yang saya alami tadi malam mungkin saja pernah dialami oleh mereka yang mengendarai motor. Pulang dari rumah kakak di daerah Jalan Godean, hujan baru saja reda. Saya dan kakang bojo segera melaju meskipun dengan rasa khawatir kalau kehujanan di jalan. Betul saja. Baru saja berbelok ke arah Jalan Magelang, tiba-tiba hujan cukup lebat menyambut kami.

Tanpa pikir panjang, kakang bojo segera meminggirkan sepeda motornya. Ia segera membuka jok motor, mengeluarkan jas hujan dan meminta saya mengenakannya. Sementara kakang bojo? Ia memilih menggunakan jaket tebalnya saja, membiarkan jaket itu basah tertimpa hujan.

Berhubung kakang bojo berhenti di sebelah lapak penjual bensin eceran, ibu si pemilik lapak dengan sigap meraih botol berisi bensin dan torong-corong untuk menuang bensin ke tangki. Dengan perasaan malu dan nggak enak saya menoleh ke arah ibu itu dan berkata perlahan-lebih tepatnya berbisik- "bu, kami tidak membutuhkan bensin"......
Muka saya terasa panas, untung suasana di sekitar kami berhenti itu tidak terlalu terang cahayanya. Mungkin wajah saya sudah kelihatan merah padam menahan rasa tidak enak itu. Haduuuhhh, gimanaaa gitu. Dalam hati saya menyesali keputusan kakang bojo yang asal berhenti, tidak melihat suasana dimana kita menghentikan kendaraan.


Selesai mengenakan jas hujan dan membetulkan helm, saya beserta kakang bojo segera melaju meninggalkan ibu pemilik lapak bensin eceran. Masih terdengar gelak tawa dari beberapa remaja yang duduk di sebelah lapak si ibu. Mereka mentertawakan kami, mungkin. Atau bahkan mentertawakan si ibu yang sigap meraih botol bensinnya. Entahlaaahh....






=====%%%%%%%=====