Senin, 10 Agustus 2015

Kopdar ala Mak: Konvoi yang Thimik Thimik dan Kangen-Kangenan

Minggu 9 Agustus 2015 merupakan hari yang kami: anggota komunitas Ibu Ibu Doyan Nulis tunggu tunggu dengan penuh antusias. Bagaimana tidak, sudah lebih dari sebulan kami tak bersua darat. "Aturan main" yang disepakati selama ini; Kopdar diselenggarakan setiap dua bulan sekali.

Lama yaa?

Memang. Terasa sangat lama ketika ada beberapa hal yang lebih enak bila dibicarakan ataupun dibahas secara face to face. Keseruan, keharuan, kegembiraan, 'ngrabuk nyawa' dan segala rasa yang entah ...(hayaahh) bercampur baur di sana. Rasa ini tidak didapatkan ketika anggota komunitas ini saling bercengkerama via salah satu media sosial.

Kesepakatan pertama, Jeng Fika akan memberi tumpangan pada saya dengan titik kumpul di Denggung Sleman.


Seiring berjalannya waktu, ternyata Jeng Titin yang akan menjemput karena ternyata Jeng Fika berangkat dari daerah Sleman.

Kesepakatan berubah di saat-saat terakhir menjelang keberangkatan ke Muntilan. Yaa, kali ini giliran Ibu Korwil yang menjadi tuan rumah Kopdar IIDN. Dikarenakan rumah Jeng Ety letaknya lebih dekat ke rumah saya bila dibandingkan dengan Jeng Titin, akhirnya Jeng Ety yang akan menjemput.

Pada hari Minggu 9 Agustus 2015 itu bertepatan dengan Pemilihan Kepala Desa di beberapa daerah di Kabupaten Sleman. Kalau tidak salah, ada 35 Desa yang menyelenggarakan coblosan serentak.
Akhirnya, kami pergi ke TPS mruput dan lalu segera meluncur ke Muntilan.
Jujur,  saya memanfaatkan abi untuk mendapatkan nomor antrian awal di TPS.....--aja ditiru yaa--

Selesai dari TPS, saya menunggu Jeng Ety di ujung gang dekat TPS. Sempat error sebentar, karena ternyata Jeng Ety menjemput di rumah. Olalaaa .....

Meluncurlah kami ke Denggung, titik kumpul yang telah disepakati.



Sesampai di sana, ternyata Jeng Dwi sudah duduk manis di DPR - di bawah pohon rindang. Kami masih menunggu teman lain yang akan berkumpul di Denggung. Ternyata mba Flo telat berangkat karena harus merawat ibunya dahulu.

Akhirnya, kami meluncur ke arah Muntilan setelah lebih dulu nyamperin Jeng Fika yang menunggu di depan warung soto. Kelaparan kaliii, nyoto duluu ...hehehehe.





Coba lihat benda yang terpasang di tiang spion sebelah kanan ....jangan Jeng Liya dengan senyum lebarnya ... Itu benda keramat yang menemani kami, khususnya Jeng Fika agar tidak nyasar di jalan. Namanya? Hehehe, obat anti nyasar.


Berombongan, kami meluncur menyusuri Jalan Magelang yang lumayan padat. Setelah bertemu Jeng Tini yang imyuuutt  dan Jeng Lia yang sedang berbadan dua kami segera konvoi ke Muntilan.

Tak seperti lazimnya konvoi sepeda motor, rombongan kami berjalan kisaran 30 - 40 km/jam. Konvoi apa iring-iringan? Aah, embuh lah, mau dibilang gimana. Kenyataannya kami bisa sampai dengan selamat di Muntilan.

Ada yang hilang di jalan. Karena fokus pada perjalanan, kami tak menyadari bila Jeng Tini, Jeng Liya dan Jeng Fika tertinggal jauh di belakang. Usut punya usut, ternyata ban sepeda motor Jeng Tini bocor kena paku. Terpaksa mampir ke bengkel dan mengganti ban dalam lebih dahulu. Adduuuhh, sakke men...
Lak dadi saya imyuuutt noo ...

Akhirnya kami tiba di rumah Ibu Korwil, meskipun harus dijemput di ujung gang dekat masjid. "Kurang sak belok'an maneh..."kata Mas Fathur sambil tersenyum kecil. Mungkin beliau maklum, penunjuk jalan kali ini lalen, pelupa. Maka tak heran kalau kami pakai acara nyasar lebih dahulu. Upss, maaf jeng Ety.


Di lokasi, sudah hadir lebih dahulu Jeng Sulis, Jeng Neni dan Jeng Nunung bersama  Hazid. Tentu saja, si ganteng ini langsung menjadi pusat perhatian kami semua. Sumeh, murah senyum, tidak takut pada orang lain yang belum dikenal, lasak, dan tingkah polah lucu lainnya yang menggemaskan. Maklum, Hazid baru berusia kurang dari 2 tahun. Lagi lucu-lucunya.



Mungkin, foto-foto berikut bisa bercerita lebih lengkap dan lebih berwarna.....hayaaa, kok kaya spidol ajaa.













Narsis? Itulah kelebihan kami. Tak ada acara kopdar tanpa diwarnai aksi pasang gaya macam gini, Lihatlah... Trio IIDN sedang beraksi, wajah imyut polos tanpa 'warna a.k.a make up' ....









Tuuuhh... Mbak Dwi Lestari sudah ketularan narsis tuuh, pasang aksi depan sendiri..wkwkwkwkwkwk.





Inilah moment yang sukses membuat bu guru Budiarti, biasa kami panggil Mahde, menangis karena haru dan bahagia. Mukanya memerah, speechless.
Lilinnya pun, lilin ukuran jumbo. Bukan lilin hias seperti lazimnya yang disematkan di kue ulangtahun. Gapapa ya Mahde, tak ada akar rotan pun jadilah.





Tak ketinggalan, selfie bareng bikin suasana tambah meriah.


Pembagian hadiah oleh Pije yang cantik imut dan penuh senyum.... Senangnyaaa.



Daaan... Ini yang terakhir sebagai gong dari semua keseruan sesiangan di Muntilan.





=======&&&&&&&&&&=======


Sampai ketemu di Kopdar selanjutnya di tempat dan acara yang berbeda tentunya. Mau ikutan narsis dan berbagi ilmu serta menikmati keseruan saat berkumpul bersama? Yuukk, joint di IIDN Jogjakarta.

* foto foto koleksi IIDN Yogyakarta


===========the end============



Senin, 12 Januari 2015

Transfer Ilmu ala Mak: Hati-hati Memberi Informasi kepada Anak

Memiliki banyak teman yang berasal dari berbagai komunitas memang menyenangkan. Banyak pelajaran yang bisa kita petik dalam berinteraksi sehari-hari bersama mereka.

Seperti pagi ini, kami para member IIDN Korwil Jogjakarta asyik bercanda saling sapa dalam chatroom sebuah media sosial. Segala hal bisa dibahas di sana, dari mulai canda tawa, berbagi ilmu, berbagi resep masakan, sampai membicarakan materi buku atau cerita pendek yang hendak ditulis.
Tak ada sekat antara member yang baru bergabung dengan member 'senior' yang sudah malang melintang --hayaah...bahasane-- lama di IIDN Jogja. Semuanya melebur dalam pembicaraan yang beragam. Terkadang sangat cair hingga sesama member bisa saling meledek satu sama lain. Yang dudul lah, yang pelupa lah, yang doyan ngemil lah, yang anteng lah [kalau pegang toples camilan], yang celelekan lah..... Terkadang pembicaraan mengarah pada pembahasan serius tentang suatu hal.

Keseriusan itu bermula ketika salah seorang member menuliskan: siput hamil tua. Pembahasan yang panjang pun dimulai. Tau kenapa?

Pertanyaan yang muncul adalah: benarkah siput itu hamil?

Percakapan melebar kemana-mana. Ada yang akan menyimpan kosa kata itu untuk bakal bukunya. Ada pula yang menimpali dengan menuliskan bahwa kosa kata tersebut bisa dijadikan bahan untuk 'ngebom' salah satu majalah anak-anak dengan cerita tentang siput hamil tua yang jalan di lantai licin. Nah looo...makin nggak jelas kan?

Chat makin hangat dengan salah satu member yang 'agaknya' berpikir lama tentang kosa kata tersebut. Secara biologi, siput itu beranak atau bertelur tho? Kita seperti dipaksa untuk mengingat kembali pelajaran biologi semasa SMP dulu. Hehehehe, pagi-pagi tapi sarapannya berat begini.

Sebenarnya pemakaian kosa kata tersebut sebagai penyangat, kalau anak-anak sekarang menyebutnya sebagai lebay ...untuk mengungkapkan atau menggambarkan sesuatu yang super duper lelet. Sempet diprotes: memangnya kalau lagi hamil terus gerakannya jadi super duper lelet begitu? Hehehe, iya kalii.

Ada lagi pertanyaan yang menggelitik. Sebenarnya binatang yang bertelur atau beranak itu sebutannya apa siih? Hamil? Ini tentang pemilihan kosa kata yang tepat untuk binatang. Bunting?
Jawabannya kami peroleh dari member yang bersuamikan dokter hewan. Apa? Bunting, tentu saja.

Kembali ke kosa kata siput hamil tua. Menurut kami, kosa kata itu memberikan informasi yang salah. Apa lagi bila kosa kata itu akan dipergunakan sebagai salah satu materi cerita anak nantinya. Karena siput itu ovipar, bertelur. Kosa kata hamil biasa digunakan untuk manusia.
Sedangkan kosa kata bunting lebih banyak diistilahkan untuk vivipar, hewan beranak.

Pembahasan makin panas, makin bernas, makin menguras otak untuk mengingat kembali pelajaran saat SMP dulu. Meskipun rentang usia kami beragam, tetapi beberapa pengetahuan dasar yang kami pelajari tidak jauh berbeda, makanya diskusi pagi ini cukup menarik untuk diikuti. Sayang bila dilewatkan.

Obrolan beralih ke diksi buat humor. Katanya sii diksi buat humor itu sepertinya bebas, istilahnya tidak harus ilmiah. Benarkah begitu?

Member yang lain berpendapat  bahwa bahasa bahasa humor memiliki segmen tertentu. Bahasanya mungkin secara ilmiah dan EYD tidak sesuai, tetapi hal itu tidak dipermasalahkan karena segmen pembacanya kalangan remaja dan dewasa. Sementara untuk cerita anak, kita tidak bisa melakukan hal seperti itu.
Beda segmen beda perlakuan...itu yang perlu dipegang saat menuliskan sebuah naskah cerita. Apalagi bila kita bicara tentang fiksi fantasi, yang sangat tiada batas. Tetapi pengetahuan dasar tetap utama. Jangan sampai ada 'bias' dalam pemilihan kosa kata yang kita pergunakan.
Berat yaa? Hehehehe, sarapan yang luaar biaasaa.....

Saya punya pengalaman pribadi yang mungkin bisa dijadikan bahan pelajaran. Anak bungsu saya itu punya sifat yang keras kepala. Eit nanti dulu, bukan dalam konotasi negatif. Justru sebaliknya. Informasi apapun yang diterimanya pertama kali, itu yang dianggapnya benar. 
Suatu ketika, ia pernah bertanya tentang suatu hal kepada asisten rumah tangga kami. Oleh asisten rumah tangga dijawab asal-asalan. Naah, si bungsu ini meyakini bahwa jawaban yang diberikan tersebut adalah benar, sehingga ketika kami orang tuanya berusaha meluruskan jawaban tersebut, ia marah besar. Ia tetap bersikukuh bila jawaban asisten rumah tangga kami lah yang benar.


Saat itu ia berusia 3 tahun an. Usia dimana rasa keingintahuannya demikian besar. Segala hal akan dia tanyakan. Kalau dia bertanya tentang billboard misalnya, dia akan bertanya itu apa? Tulisannya bunyinya apa? Kenapa dipasang di situ? Kenapa warna biru (misalnya)? Kenapa bintang iklannya harus laki-laki?  ....terus seperti itu hingga dia puas dengan jawaban yang kami berikan. 

Hal inilah yang membuat kami sebagai orang tuanya sadar dan berusaha untuk selalu mencari jawabannya di buku yang relevan untuk pertanyaan yang ia ajukan. 


Intinya, sebagai penulis [ciiee....] kita harus membiasakan diri untuk memberikan informasi tentang pengetahuan dasar --dalam hal ini siput--  kepada anak dengan benar. Ini tugas belajar untuk penulis fiksi [terutama] untuk belajar dan menggali lagi ilmu tentang biologi....
Untuk hal-hal yang eksakta serupa itu kita tidak boleh ngawur, sebab kita berharap bacaan yang kita tuliskan untuk anak bisa dipergunakan untuk menambah pengetahuan melalui cerita yang menarik. Bahasa yang dipergunakan pun tak harus kaku, buatlah se cair mungkin agar lebih menarik minat anak-anak untuk gemar membaca.

Naah....beberapa ilmu sudah diserap tanpa sadar. Obrolan panjang yang bernas, menurut saya.
Semoga bermanfaat.

Peluk hangat.

=====%%%%%%%=====





Minggu, 07 Desember 2014

Kopdar ala Mak: Pertemuan Rutin yang Penuh Ilmu

Hari ini  Minggu 7 Desember 2014, sebagai warga dari komunitas Ibu Ibu Doyan Nulis, yang sesekali suka diplesetkan menjadi Ibu Ibu Doyan Narsis....kadang juga melenceng dari niat awalnya menjadi Ibu Ibu Doyan Ngeksis... kalau lagi pengin jalan-jalan menjadi Ibu ibu Doyan Ngebolang.... Kalau ditanya umur? Hahaha .... kepanjangannya berubah lagi menjadi Ibu Ibu Doyan Ngibul ....kalau lagi kumat jailnya dan pengin "ngeces" rame rame berubah kepanjangannya menjadi Ibu Ibu Doyan Nglotis ... lhoo?? Hehehe, suka suka saja bagaimana mengartikannya ....siang ini saya menghadiri Pertemuan Rutin yang "lebih istimewa" terasa. 

Betapa tidak, pertemuan kali ini diselenggarakan di rumah jeng Ita --begitu saya biasa menyapa nyonya rumah-- yang sejuk teduh dan adem. Meskipun cuaca dan suasana sangat mendukung, tetapi acara demi acara berlangsung dalam suasana yang sedikit panas.

Panas?

Iyaa... Hari ini dilaksanakan pemilihan Pengurus IIDN Korwil Jogjakarta yang baru. Setelah periode kepengurusan yang lama dibawah kendali dan komando jeng Astuti Rahayu, mulai hari ini tongkatnya berpindah ke tangan jeng Irfa Hudaya. Kami, para member yang hadir diberi secarik kertas kosong. Kita diminta untuk menuliskan satu nama yang dipandang bisa dan mampu untuk menduduki jabatan sebagai Pengurus IIDN Korwil Jogja.

Meskipun  pemilihan tersebut berlangsung dalam suasana yang "tegang" ...MC beberapa kali harus mengingatkan para hadirin untuk segera mengumpulkan nama yang sudah dipilih kedalam sebuah kotak, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Masing-masing dari kami sibuk bercengkerama sambil menikmati hidangan yang tersedia.

Oh iya....kebiasaan kami bila sedang berkumpul rame rame seperti ini adalah: masing-masing yang hadir akan membawa potluck untuk dinikmati bersama-sama. Nyonya rumah akan memberitahukan kesanggupannya untuk menyediakan nasi dan minuman misalnya....lalu kami-kami yang akan hadir juga memberitahukan "bawaannya". Misalnya si A akan membawa sayur oseng tempe, lalu si B akan membawa trancam, lalu si C mengajukan diri membawa bakwan jagung....begitu seterusnya.

Selain pemilihan pengurus baru, kopdar kali ini kita berbagi cerita "behind the scene" dari buku Pondok Mertua Indah. Seruuu.....Apalagi si nara sumber; jeng Nunung Nurlaela menjelaskan proses menulis buku tersebut sambil mengasuh si kecil. Hebat bukan? Sesekali penjelasannya diselingi dengan acara menyusui. Hehehehe ......dimana lagi ada pertemuan yang diwarnai dengan acara menyusui dan momong si kecil?








Sessi kedua, kami mendapatkan ilmu tentang food fotography. Nara sumber kami yang cantik ternyata tidak main-main dalam menyiapkan materinya. Selain materi dalam bentuk power point, jeng Vanny Mediana tak lupa membawa serta property pelengkap yang dipakai saat mengambil gambar suatu masakan.

Bayangkan......jeng Vanny rela "ngotong-otong" -- membawa pernak pernik yang tak pernah kami pikirkan sebelumnya.




Potongan karpet, styrofoam, aluminium foil lembaran yang ditempel di styrofoam, baki/nampan dari kayu dengan motif garis garis yang cantik dll.
Tak lupa, jeng Vanny juga menyelenggarakan kursus kilat bagaimana cara mengambil gambar masakan yang sudah di platting lengkap berikut prakteknya. Kalau kita kursus di luaran, berapa duit tuuh? Hahahaha .....
Mau liat bagaimana serunya kami belajar memotret masakan dan segala pernak perniknya? Foto-foto berikut mungkin bisa bercerita lebih jelas.





















Selesai makan siang, kami masih membahas beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan pada hari Senin 8 Desember 2014. Tidak banyak yang dibicarakan, kami hanya memastikan sampai seberapa jauh persiapan yang sudah dilakukan sekaligus checking terakhir.


Tapi dasar emak-emak, sepenting apapun persoalan yang dibahas, ujung-ujungnya tetap saja......."ngguyu ngakak". Hehehehe. Seruuuu pokoknya.

Selesai acara, seperti biasa nyonya rumah akan menyediakan kantung plastik untuk kami. Dengan wajah penuh senyum, nyonya rumah mempersilahkan kami untuk membawa hidangan yang masih tersedia. Tahu artinya "kirmah" kan? Emak emak yang "mikirke ngomah" ....Hahahaha.












foto-foto koleksi IIDN Korwil Jogja.


Hujan mengiringi kami pamit dan menuju rumah masing-masing. Siapkan tenaga untuk kegiatan esok hari. 


=====%%%%%%%%=====

Rabu, 03 Desember 2014

Cara Mudah Memperpanjang STNK ala Jogja

Siapa yang tak kenal STNK?

Yaa, Surat Tanda Nomor Kendaraan. Surat inilah yang selalu kita tanyakan kepada anggota keluarga yang hendak bepergian menggunakan sepeda motor atau pun mobil. Kenapa demikian? Bagi kami, dan juga bagi keluarga-keluarga yang lain, STNK menjadi hal yang 'wajib' ditanyakan setiap hendak ke luar rumah. Bukan karena di minggu minggu ini Kepolisian sedang giat melakukan Operasi Zebra 2014, bukan pula karena takut kena tilang. Tetapi alasan utamanya adalah perasaan tenang selama berkendara.

Okee...saya tidak akan membahas tentang perasaan saat bepergian tetapi terlupa membawa STNK.


*********

Beberapa minggu yang lalu, di awal bulan Nopember anak sulung saya sudah mengingatkan untuk memperpanjang STNK sepeda motor kesayangannya. Secara kebetulan, tanggal kadaluwarsa masa berlaku STNK tersebut berbeda satu hari dengan ulang tahun ayahnya. Saya bilang: "iya nak. Nanti mama yang akan urus perpanjangannya".

Tapi apa lacur? Karena kesibukan dan jeda yang terlalu jauh antara telepon dan tanggal kadaluwarsa STNK....saya pun lupa. Bukan hanya sehari dua, tetapi bahkan hingga bulan berganti. Alamaakk..gimana ini?

Sementara dhenok, dengan perasaan menyesal memberitahukan bahwa ia tidak bisa pulang ke Jogja dalam waktu dekat. Pekerjaannya tidak memungkinkan untuk ditinggal-tinggal, sementara untuk mengirimkan KTPnya via ekspedisi ..... terus terang kami sedikit khawatir. Takut tidak sampai , takut hilang, malas bila harus mengurus KTP lagi bila hilang dan sebagainya. Bingung kan?

Mengingat STNK kendaraan itu atas nama dhenok, mau tidak mau saya harus menunggu KTP aslinya untuk memperpanjang. Khawatir dan was was tentu saja melanda saya setiap kali ke luar rumah mengendarai motor itu. Betapa tidak, STNK motor itu sudah kadaluwarsa.

Untunglah, sejak tanggal 28 Nopember 2014 yang lalu, Pemerintah Kota Yogyakarta menyelenggarakan event tahunan Pasar Malam Perayaan Sekaten. Bertempat di Alun Alun Utara, acara ini dihelat sebagai acara yang menyedot animo masyarakat untuk sarana hiburan murah meriah.

Dua buah tenda berukuran besar berdiri megah di sisi sebelah Selatan bagian Barat. Beberapa kantor dinas membuka stand di sana. Salah satunya adalah Samsat (Sistem Administrasi Satu Atap) milik Kepolisian.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Di suatu sore yang cerah --beberapa hari Jogja diguyur hujan setiap sore-- kami mengunjungi stand Samsat. Sebelumnya saya mampir di stand BPJS untuk menanyakan beberapa hal yang ingin kami ketahui.

Di stand Samsat kami mendapatkan brosur seperti ini.


1417669468528498943


Jujur, saya terkaget-kaget membaca brosur yang diberikan petugas bagian informasi di stand Samsat. Selama ini yang kami pahami adalah, setiap kali memproses perpanjangan STNK, kami membutuhkan KTP asli beserta BPKB, Notice Pajak tahun terakhir dan sebagainya. Kenapa kami tidak tahu yaa? Apakah karena kami yang "kurang piknik" -- istilah kami bila ketinggalan berita atau informasi -- atau karena pihak Samsat yang kurang mensosialisasi peraturan ini ke masyarakat? Entahlah, saya kurang mengerti dimana kesalahannya.

Akhirnya, tanpa menunggu dhenok mengirimkan KTPnya yang asli, kami berangkat ke Sekaten --demikian kami biasa menyebutnya-- untuk yang kedua kalinya.


Berbekal BPKB, Kartu Keluarga asli, STNK, Notice Pajak --semuanya dilengkapi dengan fotocopynya-- kami segera menuju ke stand Samsat tanpa berputar-putar dahulu. Tidak butuh waktu lama, sekitar 5 menit proses perpanjangan masa berlaku STNK kendaraan kami pun selesai. Ada denda yang harus kami bayar, tetapi itu tidak kami sesali. Kecerobohan kami lah penyebab timbulnya denda tersebut.

Nah ...selesai. Setelah mengulurkan STNK berikut BPKB dan Kartu Keluarga yg asli, petugas yang ramah itu menyelipkan selebaran (lagi) sebagai berikut:


1417670020923293026


Lega? Tentu saja. Kenapa harus menunggu-nunggu begitu lama bila proses perpanjangan itu hanya butuh beberapa menit saja? Apalagi, stand Samsat buka dari jam 17.00 - 20.30 setiap hari. Jadi, tanpa harus meninggalkan pekerjaan utama pun kita bisa melakukan perpanjangan STNK. Cukup membantu kan?


*******


Jadi, siapa bilang perpanjangan STNK itu ribet dan memakan waktu? Datang saja ke Sekaten di Alun Alun Utara Yogyakarta, temukan kemudahan prosesnya di sana.
(ini bukan iklan atau promosi -- buktikan sendiri)


Semoga bermanfaat.
Salam.



=====&&&&&&&&&&=====

Biarlah Foto-foto yang Berbicara

==Yang Tersisa dari Penyelenggaraan Kompasianival 2014==


Kopdar akbar yang bertajuk Kompasianival 2014 sudah beberapa waktu usai. Selama itu pula, bertebaran tulisan tentang penyelenggaraan pesta ini di Kompasiana. Tentu saja, tulisan tersebut berdasarkan sudut pandang dari masing-masing Kompasianer yang menuliskannya.

Saya sempat mengunjungi tulisan beberapa Kompasianer, terutama yang berada di ter - ter - ter dan terutama yang sempat nangkring di HeadLine Kompasiana. Karena keterbatasan waktu, tidak semua tulisan tentang penyelenggaraan Kompasianival 2014 saya kunjungi. Maaf banget.

Dari beberapa tulisan yang telah saya baca, ada satu yang membuat saya merasa sedih. Sebagai warga dari komunitas Desa Rangkat, yang kebetulan posisi boothnya bersebelahan dengan KoplakYoBand --berselang satu-- saya betul-betul merasa nyesek luar biasa.

Booth Desa Rangkat yang kereeenn abiis ..... muji karya komunitas sendiri boleh doong .... dengan backdropwarna warni berisi informasi kegiatan Desa Rangkat sejak berdiri hingga berusia 4 tahun, juga foto-foto Kades dari periode pertama hingga periode ke-lima. Juga maskot Rangkat yang super duper pinky - Pongky si Pocong Pingky - keriuhan booth yang tak pernah henti karena selalu ada gelak tawa dan canda juga pelukan kerinduan dari masing-masing warganya yang datang, tumpeng nasi kuning yang nangkring di meja display bersebelahan dengan buku-buku yang pernah dihasilkan oleh komunitas Desa Rangkat, Duta Rangkat yang memakai selempang biru dengan senyum manisnya .... semuanya terlalu sayang bila dilewatkan.

Saya tidak ingin membahas tulisan yang membuat saya nyesek luar biasa. Saya hanya ingin membagikan foto-foto tentang booth Desa Rangkat, kemeriahannya, kasih sayang yang terpancar dari masing-masing warganya, dan cinta luar biasa yang bisa kami berikan kepada sesama warga.

14172538892133065801
booth Desa Rangkat
141725393659195185
Narsis dan narsis di setiap kesempatan
1417253985309659535
booth Desa Rangkat pagi hari...sebelum riuh oleh warga DeaR yang hadir
1417254069201839700
banner kegiatan dan Riwayat Desa Rangkat
14172542161539959931
serius membahas perkembangan Desa Rangkat
14172542592057347752
mantan Kades sedang in action -- melayani wawancara dengan wartawan Kompas.com
14172543131333169653
makan dan narsis .... tak pernah terlewatkan setiap kali warga DeaR ngumpul...dimana pun
14172544191432389143
Duta Rangkat
141725448279544454
Sekdes Rangkat periode 2014 - 2015 bersama maskot Rangkat
14172545211714163886
penasaran dengan tali si pocong
14172545671812309317
narsis dan narsis ...everywhere
14172546231038689968
kamera itu wajib .....
1417254653773984647
tak bisa menghindari
14172547101955571352
maskot Rangkat .... cantik yaa?
141725475624231245
tak terpisahkan ... ngeriung dan ngerumpi
1417254816575745743
makan duluuu
14172548471421020696
lokasi
1417254908513074366
Sekdes Rangkat, disela kesibukannya masih sempat narsis
14172549481021680107
speechless
14172549791090670583
tawaran menulis biografi dari pak dokter
14172550231670923747
tumpeng ulang tahun Desa Rangkat
14172550751399153427
pose yang maniiiissss
14172551051273638779
maskot Rangkat selalu jadi rebutan
Dengan begitu, saya tak perlu merasa sedih berkepanjangan. Kalau pun ada yang mengatakan bahwa booth Desa Rangkat tidak terlihat, biarlah foto-foto berikut ini yang menerangkannya dengan lebih jelas dan gamblang.

Tidak, saya tidak marah dengan kenyataan ini. Kenyataan bahwa Desa Rangkat tidak seterkenal komunitas lain yang membuka booth di Kompasianival 2014.

Sampai ketemu lagi di Kompasianival 2015 yaaa....jangan lupa berkunjung ke desa kami. Desa Rangkat. Desa yang berhiaskan Diskusi Elok aSah-Asih-asuh meRANGkai KATa.



=====%%%%%%%=====

note: foto-foto koleksi komunitas Desa Rangkat

Selasa, 16 September 2014

Pengin Nangis Sesiangan? Yuuuukkk .....

Musim kemarau seperti ini, harga bawang merah di pasaran “terjun bebas”. Bila biasanya harganya berkisar antara Rp19.000,- sampai Rp 22.000,-  tapi kali ini harganya berada di kisaran Rp 12.000,-sampai dengan Rp 15.000,-. Itu untuk harga bawang merah yang berukuran besar. Kalau yang lebih kecil, harganya tentu lebih murah lagi. Iklim yang mendukung menyebabkan ketersediaan bawang merah melimpah di pasaran.



1410770646493974207

Sebagai penggemar bawang merah goreng, kesempatan ini tak saya sia-siakan. Apalagi, kakangbojo juga menggemari bawang merah goreng yang gurih buatan saya. Hayyaaahhh…..namanya juga hasil masakan istri.


Duluuu, saya suka membeli bawang merah goreng di warung. Alasannya tentu saja kepraktisan. Tapiii, ternyata bawang merah kemasan yang kita beli aromanya tak sesedap bila kita menggorengnya sendiri. Dengan alasan itulah makanya saya rela “menangis sesiangan”. Hehehehe……

Tentu saja tidak demikian. Ada beberapa kiat yang bisa kita praktekkan bila kita ingin menggoreng bawang merah yang gurih tanpa harus ‘tersiksa’ dengan air mata yang terus menetes selama mengiris bawang.

Mula-mula siapkan baskom berisi air setengahnya. Kupas bawang merah lalu langsung masukkan ke dalam baskom tersebut. Lakukan hingga bawang merah habis dikupas.

1410770842326849686

Cuci bersih bawang merah kupas, lalu rendam kedalam air es/air dingin yang sudah dibubuhi garam. Diamkan kira-kira 15 menit.

14107709651273677925

Iris halus bawang merah yang sudah direndam tadi.

14107710601722109421

Taburkan garam halus ke atas irisan bawang merah, aduk rata. Diamkan sebentar.Biasanya irisan tersebut akan sedikit berair sesudahnya.

menunggu garam meresap, kita panaskan minyak goreng secukupnya. Goreng irisan bawang merah, jangan lupa diaduk-aduk agar tidak gosong. Bila bawang merah sudah kelihatan sedikit menguning, segera angkat. Siramkan minyak bekas menggoreng tadi - yang masih panas tentunya - beberapa kali hingga bawang goreng menjadi kuning kecoklatan.

Segera tuang ke dalam wadah, jangan taruh bawang goreng di atas serok panas. Hal itu akan menyebabkan bawang gorengnya menjadi kecoklatan.

1410771277770690740

Tunggu hingga dingin, lalu simpan dalam wadah bertutup rapat.


Naah, selesai sudah. Nikmat disantap dengan nasi hangat, sambel tomat, dan kerupuk. Ingat waktu jaman susah dulu? Saya nggak bertanggung jawab lhoo….

Selamat mencoba.



=====&&&&&&&&=====