Kamis, 28 Januari 2016

Kopdar ala Mak: Ketularan


Ketularan


Mungkin  sebagian dari kita sudah paham dan mengerti betul apa itu ketularan. Biar pun berasal dari Bahasa Jawa, akan tetapi kini hampir sebagian besar Orang Indonesia mengetahui artinya.

Ehee, nanti  dulu. Sebagian orang akan cenderung menganggap bahwa ketularan itu selalu berhubungan dengan suatu penyakit. Yaah, itu tidak salah, karena banyak sekali penyakit yang bisa menular ke orang lain melalui berbagai cara. 

Tidak, saya tidak sedang membahas penyakit dan segala tetek bengeknya yang rumit. Saya tidak berkecimpung dalam hal penyakit dan segala obatnya.

Okeee …. Kali ini saya akan membahas ketularan dari segi  yang ringan ringan saja.  Hari Minggu 24 Januari 2016 yang lalu IIDN Korwil Yogya mengadakan kopdar rutin. Tak seperti agenda kopdar sebelumnya, kali ini kami mengulas tentang pencapaian dan perkembangan IIDN Korwil Yogya selama setahun terakhir, tambal sulam pengurus dikarenakan kesibukan dan migrasi …hayaaahh, kok seperti burung saja … 

Jeng Etyastari  menjadi bendahara menggantikan Jeng Titin yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Jeng Yosi  menjadi sekretaris menggantikan Jeng  Indah yang harus pindah eeh pulang ke Makassar.


=====oooOOOooo=====


Seperti biasa, selalu ada keseruan setiap kali kami punya kesempatan untuk berkumpul.  Selain sebagai ajang untuk silaturahmi, kopdar selalu identik dengan makan makan, geguyon, berbagi oleh-oleh, jualan daaaannn ….  photo narsis.  

Lalu, kaitannya apa dengan judul  tulisan ini?

Tentu saja adaaaa …. Lihatlah keseruan mereka di photo photo berikut. Entah siapa yang ketularan siapa, atau siapa yang menulari siapa, tak begitu penting untuk dibahas. Yang jelas, narsis menjadi salah satu bagian yang tak terpisahkan dari kopdar dan IIDN Korwil Yogya.

Yuuukkk, cermati dengan suka cita. Saya berharap kalian bisa ikut menikmati kegembiraan dan keseruan kami setiap kali punya kesempatan untuk berkumpul. Ngariung bareng. Setidaknya, bagi teman teman yang tidak bisa ikut hadir, ketularan pula keriangan dan keceriaan di lokasi.

Yuuukkkk …….
























foto: koleksi pribadi, koleksi grup WA IIDN Yogya.


---oooOOOooo----

Naah .... terbukti kaaann? Tidak ada yang menyadari bahwa "masa narsis" itu tak kenal waktu, tak kenal siapa dan yang paling utama tak kenal usia. Lupa umur pokoknyaaahh sodara sodara.

Sekian dulu, keseruan dan keriangan kami. Lain kali, koleksi foto ini akan bertambah seiring kegiatan kami di masa masa mendatang.

Semoga bermanfaat.
Salam hangat.


=====&&&&&&&&=====


Selasa, 26 Januari 2016

Ngirit ala Mak: Memanfaatkan Sisa/Kelebihan Air Rebusan

Meskipun di Indonesia sudah beberapa bulan memasuki musim penghujan, akan tetapi beberapa minggu terakhir ini udara terasa demikian panas. Hal ini sangat dirasakan oleh mereka mereka, terutama yang tinggal di Jogja.
Saat pergi ke pasar jam 7 an pagi, berbelanja sebentar saja sudah mandi keringat. Apalagi nanti bila sampai di rumah, baju yang dikenakan pasti sudah basah kuyup oleh keringat yang membanjir.

=====oooOOOooo=====

Sudah menjadi kebiasaan di keluarga kami, setiap pagi selalu menyeduh teh (teh seduh, bukan teh celup) dalam teko blirik khusus. Jadi, bisa dipastikan rutinitas saat bangun pagi adalah menjerang air, sementara kompor yang satunya dipakai untuk menghangatkan nasi atau memasak.

Seringkali, saya tidak memperhatikan berapa banyak air yang dijerang di ceret. Asal saja memasukkan air, dikira-kira. Naah, tentu saja, selalu ada air rebusan yang sisa, tidak terpakai semuanya untuk menyeduh teh.

Beberapa kali, setiap pagi saya selalu membuang air sisa rebusan tersebut. Kadang sedikit, tetapi kadang kadang lumayan banyak juga. Lama lama kok berasa sayang yaa kalau dibuang? Sementara untuk kebutuhan air putih/bening, saya mengkonsumsi air mineral. Bukan apa-apa, pilihan itu lebih kepada alasan kepraktisan. Kami tak perlu ribet dengan teko, seandainya butuh air panas pun tinggal pencet tombol. Jadiiii, bila tiba tiba ada tamu yang bertandang ke rumah, tak butuh waktu lama untuk menghidangkan secangkir kopi, misalnya.

=====oooOOOooo=====

Suatu ketika, saya menjadi tuan rumah pembubaran panitya syawalan di kampung. Laiknya tradisi Jawa, saya menyiapkan bubur sungsum (kami menyebutnya demikian) yang akan disantap bersama-sama di acara pembubaran tersebut.
Belajar dari pengalaman yang sudah sudah, biasanya bubur sungsum tersebut tidak disantap di tempat, mereka memilih untuk dibawa pulang.
Atas saran tetangga, akhirnya bubur sungsum tersebut saya masukkan ke dalam mangkuk mangkuk plastik, sementara kuah gula jawanya saya masukkan ke dalam plastik es lilin, agar tidak tercampur dengan buburnya.
Praktis dan manis, tidak tumpah kemana-mana.

=====oooOOOooo=====

Karena plastik es lilin tidak bisa beli eceran, harus beli 1 pack isi 100 lembar; akhirnya saya punya sisa plastik es lilin lumayan banyak. Untuk apa yaa ini? Beberapa kali hanya disingkang-singkang (diperlakukan seolah sudah tidak berguna), dipindah sana, dipindah sini .... sampai bosan melihatnya.

Iseng, air sisa rebusan untuk menyeduh teh saya masukkan ke dalam plastik es lilin tadi. Kebetulan punya persediaan karet gelang bekas tali pembungkus makanan yang saya kumpulkan di sudut dapur. Setiap pagi dua atau tiga bungkus air sisa rebusan saya masukkan ke frezzer. Nanti sore, air sisa rebusan itu sudah berubah menjadi es batu.
Terkadang, bila persediaan es batu menipis, saya sengaja merebus air lebih banyak, agar besok paginya bisa saya bungkus menjadi es batu lagi.

=====oooOOOooo=====

Sekarang saya tak perlu repot membeli es batu setiap kali ingin membuat es teh atau es sirup. Cukup mengambil es batu secukupnya di frezzer, buka plastik pembungkusnya tanpa perlu repot memecahnya lalu masukkan ke gelas.

Praktis kan?

Kebetulan, si sulung sangat suka minum es. Mau pagi hari, tengah hari bolong, sore bahkan malam menjelang tidur, ia suka minum air putih yang dibubuhi es batu. Terkadang, sebelum berdandan, ia akan mengoleskan es batu ke seluruh wajahnya lebih dahulu.

Lhoo ...bukankan di kulkas ada cetakan es batunya?
Iyaa, cetakannya masih ada. Rapi jali. Dibungkus dengan plastik kedap udara dan disimpan di lemari perkakas. Kalau mengandalkan cetakan es batu bawaan kulkasnya, mungkin hanya satu orang yang menikmati, sementara bila membungkus sisa air rebusan saya bisa mendapatkan es batu lebih banyak.

Hahahaha, ini mah emak ngirit bin pelit dan kurang gawean ....

Semoga bermanfaat.
Salam hangat.


=======oooOOOooo=======



Kopdar ala Mak: Cantiiiikkkk dari Dapur

Masih berkutat tentang IIDN - Ibu Ibu Doyan Nulis Korwil Yogya. Di tulisan saya sebelumnya, IIDN bisa berarti banyak: Ibu Ibu Doyan Nulis, Ibu Ibu Doyan Nglotis, Ibu Ibu Doyan Narsis etc etc... Singkatan N itu selalu membuat kami tertawa gembira. Setiap kali kopdar, inisial N itu bertambah terus konotasinya.

Kali ini saya tidak akan membahas apa kepanjangan N di singkatan IIDN. Seperti biasa, setiap kali kopdar IIDN, setiap kali pula kami mendapatkan ilmu baru. Kali ini, kita bicara tentang kecantikan. Hal hal yang tidak jauh dari kami, para perempuan.

Seperti halnya perempuan pada umumnya, saya juga punya 'koleksi' alat make up. Jangan bayangkan alat make up itu selengkap milik para sosialita, para artis ternama atau para wanita pekerja kantoran yang selalu tampil rapi wangi dan cantik dengan make up sempurna. Hanya pelembab, alas bedak, bedak padat, eye shadow, blush on dan tentu saja lipstick beberapa warna.

Itu saja? Yaa  ... Itu sudah lebih dari cukup. Tidak semua jenis alat make up itu saya pakai setiap hari. Paling sering hanya bedak compact powder yang praktis dan sapuan lipstick tipis saja. Biar nggak kelihatan pucat saja, ada warna warnanya dikit di wajah ... Emang kanvass? Hehehehe ...

Naaah, kopdar di Bulan Oktober 2014 itu terasa sangat spesial karena pemateri kali ini adalah Bu Guru Syantik Umi Azzurasantika yang datang jauh jauh dari Magelang khusus untuk memberikan tips Cantik dari Dapur.


=======oooOOOooo=======


Apa thoo pengertian cantik itu?


Cantik itu adalah ketika kulit wajah terlihat sehat. Itulah cantik.
Hanya seperti itu?
Iyaa, seperti ituuu ... [jadi inget dialog di sinetron ...hihihi].

Untuk mendapatkan kulit wajah yang cantik tidak harus selalu mahal tetapi sebenarnya bisa dilakukan di rumah. Coba cek kembali apa isi lemari pendingin, barangkali ada beberapa bahan yang bisa kita gunakan untuk mempercantik wajah.


Ketimun.

Potong timun secara melintang, tipis saja. Berbaringlah dengan santai lalu tutupkan potongan timun berbentuk bulat ini di kelopak mata. Potongan timun ini berguna untuk mengurangi mata panda, mengurangi kelelahan. Cukup 5 menit saja, tak butuh waktu lama/

Bila punya cukup waktu luang, parutlah ketimun, tiriskan lebih dahulu lalu gunakan untuk menutup seluruh wajah. Untuk menghindari kontaminasi, gunakan parut stainless stell. Setelah 5 menit [lebih kurang], angkat dan bilas dengan air dingin.

Wortel.

Kita juga bisa menggunakan wortel. Parut wortel secukupnya, tiriskan sebentar lalu tutupkan ke seluruh wajah. Tunggu sekitar 5 menit lalu angkat dan bilas dengan air dingin.


Nanas.

Buah yang satu ini bisa kita gunakan sebagai peeling. Parut nanas, tiriskan sebentar agar kandungan airnya berkurang. Gosokkan parutan nanas ini ke seluruh wajah dengan cara melingkar ke arah atas. Peeling ini berguna untuk membantu pengelupasan sel kulit mati. Lakukan dua minggu sekali.



Tapii... kenapa cuma kompres wajah menggunakan buah? Bagaimana kalau kita ga punya kerjaan, lalu pengin ngadi salira?
Bisaaaa .... jangan khawatir.

Masih menggunakan buah-buahan yang tersedia di kulkas, kita bisa membuat masker.
jenis buah yang bisa digunakan sebagai masker: bengkoang, pepaya, apel, pisang ambon, kentang. Untuk mendapat hasil yang maksimal, gunakan masker tersebut seminggu sekali.
Bengkoang  berguna untuk menghilangkan bekas jerawat. Kentang bermanfaat untuk menghilangkan bekas jerawat dan flek hitam akibat terpapar sinar matahari.

Naaah, sudah cantik kita?
Cermin mana cermin ....hihihihihihi ...


=======oooOOOooo=======



Selain buah buahan yang mudah kita dapatkan di sekitar kita, bisa juga menggunakan garam. Naah lhoo ... 

Garam?

Iyaa. Garam dapur. Pilihlah garam dapur yang kasar. Kalau di jawa biasa disebut garam rosok atau garam enthon - garam yang dicetak kotak kotak, biasa dihancurkan dulu sebelum digunakan.

Campurkan garam dapur dengan air hangat secukupnya, masukkan ke dalam sprayer lalu semprotkan ke seluruh wajah. Ingat, merem dan tutup mulut yaa .... Jangan sampai mata kita terbuka, apalagi mulutnya. Asin pastinya ...
Semprotan air garam ini berguna untuk menyegarkan wajah, menghilangkan rasa capek. Akan lebih baik lagi hasilnya kalau kita gunakan garam mandi, yang bisa kita peroleh di apotik terdekat.

Bila ingin menggunakan garam dapur sebagai masker, begini caranya. Sediakan garam 2 sdm, tambahkan 4 sdm minyak zaitun. Lembutkan lebih dahulu garamnya, lalu aduk rata. Oleskan di seluruh wajah selama 15 menit [lebih kurang], lalu bersihkan menggunakan waslap yang dicelup ke air hangat, lalu bilas kembali dengan menggunakan air dingin.

Mau luluran? Malas atau tidak punya waktu untuk pergi ke salon? Atau, pas tanggal tua dan tidak ada budget untuk memanjakan diri di salon?
Masih ada garam.

Untuk membuat adonan lulur, sediakan garam enthon lalu campurkan dengan minyak zaitun secukupnya. Balurkan ke seluruh tubuh yang masih kering sambil digosok secara memutar. Setelah semua kulit mati tanggal, barulah kita mandi seperti biasa. Lebih baik lagi kalau mandi di bawah pancuran, bersihkan seluruh tubuh dari sisa garam, agar tidak ada yang tertinggal. Ingat, jangan disabun.
Luluran menggunakan garam ini bisa dilakukan maksimal seminggu sekali, jangan terlalu sering. Kenapa? Agar kulit kita tidak menjadi kering karenanya.


Pasta gigi.

Siapa sangka bila pasta gigi bisa berfungsi mengatasi jerawat?
Oleskan pasta gigi pada jerawat sebelum tidur, biarkan hingga esok paginya. Baru bilas dengan air dingin secukupnya.
Sebagai pemutih wajah, campurkan pasta gigi dengan air jeruk lemon, aduk rata dan gunakan sebagai masker.
Adonan ini juga berguna untuk mengatasi flek/perubahan warna kulit wajah.


Air cucian beras.

 Apa lagi ini? Leri? 
Mulai sekarang, jangan buang air cucian beras. Saat mencuci beras yang pertama kali [biasanya kita membilasnya dua atau tiga kali] tampunglah air cucian tersebut dalam baskom. Air cucian ini berguna untuk mencerahkan wajah.

Kita juga bisa menggunakan air teh basi. Bila kita menyeduh teh [bukan teh celup], kita bisa menggunakan air teh seduhan tersebut untuk mencerahkan wajah. Caranya, basahi seluruh wajah dengan air teh basi, tunggu hingga mengering. Wajah akan terasa seperti ditarik-tarik. Baru bilas dengan menggunakan air dingin secukupnya.

Kalau kita suka minum kopi, tentu punya persediaan kopi bubuk di dapur kan? Naah, sebelum tidur, seduhlah satu atau dua sendok teh bubuk kopi. Biarkan semalaman.
Paginya, buanglah air kopinya hingga menyisakan ampas. Balurkan ampas kopi itu ke seluruh wajah, lalu gosok wajah dengan cara memutar ke atas hingga seluruh kulit mati terangkat. Angkat ampas kopi itu lalu bilas dengan menggunakan air dingin.


Naga-naganya kita harus menyembunyikan cermin deeh, setelah ini tentu kita kita akan lebih sering senyum senyum sendiri di depan cermin.
Hayoooo .... siapa yang sudah praktek?

Saya tidak menjamin kalau diajeng IIDN Yogya diprotes oleh para suami.
Semoga bermanfaat.


=======oooOOOooo=======





















Sabtu, 19 September 2015

Kopdar ala Mak: Yang Tertinggal Yang Membahagiakan

Ini cerita lain yang belum sempat saya kisahkan, masih tentang Kopdar rutin Komunitas IIDN.
Beberapa member IIDN mendapat 'julukan' =kuter a.k.a kuis hunter=. Kenapa saya menuliskan tentang kuter ini? Tentu saja karena ada sebabnya. Trus apa hubungannya dengan judul di atas? Ehehehe, sabaarr. Akan saya ulas di paragraf berikut.

Seusai dari Kopdar Rutin di rumah Koordinator Wilayah di daerah Muntilan, salah seorang member memberikan kuis yang bisa diikuti oleh seluruh member IIDN. Kuis kali ini tergolong unik, para peserta 'dipaksa' membuat cerita bergambar dari dua buah foto yang telah ditentukan.
Oh yaa, kuis ini diadakan via chatroom sebuah media sosial dimana kami lebih sering dan lebih intensif berinteraksi.

Ini foto yang digunakan sebagai bahan menulis cerita bergambar.




Setiap peserta kuis harus membuat cerita berdasarkan pada dua foto di atas. Mudah kan?
Tidak. Beberapa member IIDN mengeluh bahwa mereka tidak ada ide untuk membuat 'meme'. Sebenarnya syaratnya cukup mudah, nggak njlimet atau pun aneh aneh. Cukup membuat 'meme' yang menarik. Nah lhoo ....

Berhubung saya termasuk salah satu member IIDN jadul yang gaptek, sebelum ikut kuis tersebut saya harus download beberapa aplikasi yang bisa mendukung. Sasar susur, salah pencet, bolak balik perbaiki dan kirim ulang foto lagi ke panitia ....menjadi keseruan yang makin membuat penasaran. Aku harus bisa...hahahaha, emak jadoel tapi pengin kekinian.

Setelah berkutat dengan hape, dengan aplikasi, memutar otak mencari kata-kata yang pas untuk foto tersebut, ditambah lagi dengan beberapa teman yang sudah lebih dulu mengirim foto 'meme'nya ke pihak panitia ....makin membuat saya gemes, tetapi sekaligus tertantang. Ini saatnya untuk belajar. Jika selama ini saya menjadi penikmat foto meme, kali ini saya menjadi si pembuat. Hahahaha, sombong amit. Udah mirip sombong kerupuk aja ....eeh, salah yaa. Kalau kerupuk itu krombong.... emang minta ditoyor niiihh.

Ini beberapa foto yang ikut dilombakan.









Kalau yang iniii .......hasil uji coba. 








=======&&&&&&&&&&=======


Naah, setelah mengalami beberapa penundaan pengumuman, makluuumm, bu jurinya superduper sibuk.... akhirnya saat yang ditunggu tunggu itu pun tiba.
Saya? Alhamdulillah, saya termasuk salah satu dari dua pemenang. Kalau sudah rejeki, emang ga kemana kan? Hehehehe.

Pelajaran yang bisa diambil dari kuis kali ini adalah:
1. harus download beberapa aplikasi pendukung
2. belajar cropping, edit dan memilih kata yang tepat untuk narasi
3. 'menterjemahkan' foto menjadi beberapa dialog menurut versi dan selera masing masing
4. merasakan 'sensasi' dikejar deadline.... hayaah, wis kaya wartawan ae...


Kemarin, hadiah kuis yang saya menangkan sudah nangkring manis di meja tamu. Sebuah hadiah indah, yang membuat saya tersipu malu ....ciiieee, maluu niiihh yeee



Ini hadiah yang diantarkan oleh neng PJ kuis yang imut dan cantik.




Jujur, seumur umur, saya belum pernah punya foto yang segede itu. Dipigura dengan cantik pula. Di keluarga kami, tidak ada kebiasaan untuk memajang foto apalagi foto diri dalam ukuran besar dan di tempel di dinding. Cicak kalii, nempel di dinding ....hehehehe.
 

Terima kasih banyak jeng Irfa Hudaya sebagai juri cantik bijaksana dan netral...halaah. Terima kasih untuk jeng Nunung Nurlaela sebagai 'penyandang dana'. Terima kasih juga untuk jeng Indah Novita yang sudah bersedia dititipi hadiah, terima kasih pula kepada neng PJ Kuis cantik imut Tini Naibaho yang sudah mengantarkan hadiah ke rumah.

Jangan tanyakan bagaimana perasaan saya. Senang, bahagia dan segala macam deh. Campur aduk.
*ketok'e saya sudah mulai ketularan virus kuter a.k.a kuis hunter yang disebarkan oleh jeng Wiwin.

Yuukk aah, sampai ketemu di tulisan selanjutnya.
Salam.


=======%%%%%%%%%%=======


Senin, 10 Agustus 2015

Kopdar ala Mak: Konvoi yang Thimik Thimik dan Kangen-Kangenan

Minggu 9 Agustus 2015 merupakan hari yang kami: anggota komunitas Ibu Ibu Doyan Nulis tunggu tunggu dengan penuh antusias. Bagaimana tidak, sudah lebih dari sebulan kami tak bersua darat. "Aturan main" yang disepakati selama ini; Kopdar diselenggarakan setiap dua bulan sekali.

Lama yaa?

Memang. Terasa sangat lama ketika ada beberapa hal yang lebih enak bila dibicarakan ataupun dibahas secara face to face. Keseruan, keharuan, kegembiraan, 'ngrabuk nyawa' dan segala rasa yang entah ...(hayaahh) bercampur baur di sana. Rasa ini tidak didapatkan ketika anggota komunitas ini saling bercengkerama via salah satu media sosial.

Kesepakatan pertama, Jeng Fika akan memberi tumpangan pada saya dengan titik kumpul di Denggung Sleman.


Seiring berjalannya waktu, ternyata Jeng Titin yang akan menjemput karena ternyata Jeng Fika berangkat dari daerah Sleman.

Kesepakatan berubah di saat-saat terakhir menjelang keberangkatan ke Muntilan. Yaa, kali ini giliran Ibu Korwil yang menjadi tuan rumah Kopdar IIDN. Dikarenakan rumah Jeng Ety letaknya lebih dekat ke rumah saya bila dibandingkan dengan Jeng Titin, akhirnya Jeng Ety yang akan menjemput.

Pada hari Minggu 9 Agustus 2015 itu bertepatan dengan Pemilihan Kepala Desa di beberapa daerah di Kabupaten Sleman. Kalau tidak salah, ada 35 Desa yang menyelenggarakan coblosan serentak.
Akhirnya, kami pergi ke TPS mruput dan lalu segera meluncur ke Muntilan.
Jujur,  saya memanfaatkan abi untuk mendapatkan nomor antrian awal di TPS.....--aja ditiru yaa--

Selesai dari TPS, saya menunggu Jeng Ety di ujung gang dekat TPS. Sempat error sebentar, karena ternyata Jeng Ety menjemput di rumah. Olalaaa .....

Meluncurlah kami ke Denggung, titik kumpul yang telah disepakati.



Sesampai di sana, ternyata Jeng Dwi sudah duduk manis di DPR - di bawah pohon rindang. Kami masih menunggu teman lain yang akan berkumpul di Denggung. Ternyata mba Flo telat berangkat karena harus merawat ibunya dahulu.

Akhirnya, kami meluncur ke arah Muntilan setelah lebih dulu nyamperin Jeng Fika yang menunggu di depan warung soto. Kelaparan kaliii, nyoto duluu ...hehehehe.





Coba lihat benda yang terpasang di tiang spion sebelah kanan ....jangan Jeng Liya dengan senyum lebarnya ... Itu benda keramat yang menemani kami, khususnya Jeng Fika agar tidak nyasar di jalan. Namanya? Hehehe, obat anti nyasar.


Berombongan, kami meluncur menyusuri Jalan Magelang yang lumayan padat. Setelah bertemu Jeng Tini yang imyuuutt  dan Jeng Lia yang sedang berbadan dua kami segera konvoi ke Muntilan.

Tak seperti lazimnya konvoi sepeda motor, rombongan kami berjalan kisaran 30 - 40 km/jam. Konvoi apa iring-iringan? Aah, embuh lah, mau dibilang gimana. Kenyataannya kami bisa sampai dengan selamat di Muntilan.

Ada yang hilang di jalan. Karena fokus pada perjalanan, kami tak menyadari bila Jeng Tini, Jeng Liya dan Jeng Fika tertinggal jauh di belakang. Usut punya usut, ternyata ban sepeda motor Jeng Tini bocor kena paku. Terpaksa mampir ke bengkel dan mengganti ban dalam lebih dahulu. Adduuuhh, sakke men...
Lak dadi saya imyuuutt noo ...

Akhirnya kami tiba di rumah Ibu Korwil, meskipun harus dijemput di ujung gang dekat masjid. "Kurang sak belok'an maneh..."kata Mas Fathur sambil tersenyum kecil. Mungkin beliau maklum, penunjuk jalan kali ini lalen, pelupa. Maka tak heran kalau kami pakai acara nyasar lebih dahulu. Upss, maaf jeng Ety.


Di lokasi, sudah hadir lebih dahulu Jeng Sulis, Jeng Neni dan Jeng Nunung bersama  Hazid. Tentu saja, si ganteng ini langsung menjadi pusat perhatian kami semua. Sumeh, murah senyum, tidak takut pada orang lain yang belum dikenal, lasak, dan tingkah polah lucu lainnya yang menggemaskan. Maklum, Hazid baru berusia kurang dari 2 tahun. Lagi lucu-lucunya.



Mungkin, foto-foto berikut bisa bercerita lebih lengkap dan lebih berwarna.....hayaaa, kok kaya spidol ajaa.













Narsis? Itulah kelebihan kami. Tak ada acara kopdar tanpa diwarnai aksi pasang gaya macam gini, Lihatlah... Trio IIDN sedang beraksi, wajah imyut polos tanpa 'warna a.k.a make up' ....









Tuuuhh... Mbak Dwi Lestari sudah ketularan narsis tuuh, pasang aksi depan sendiri..wkwkwkwkwkwk.





Inilah moment yang sukses membuat bu guru Budiarti, biasa kami panggil Mahde, menangis karena haru dan bahagia. Mukanya memerah, speechless.
Lilinnya pun, lilin ukuran jumbo. Bukan lilin hias seperti lazimnya yang disematkan di kue ulangtahun. Gapapa ya Mahde, tak ada akar rotan pun jadilah.





Tak ketinggalan, selfie bareng bikin suasana tambah meriah.


Pembagian hadiah oleh Pije yang cantik imut dan penuh senyum.... Senangnyaaa.



Daaan... Ini yang terakhir sebagai gong dari semua keseruan sesiangan di Muntilan.





=======&&&&&&&&&&=======


Sampai ketemu di Kopdar selanjutnya di tempat dan acara yang berbeda tentunya. Mau ikutan narsis dan berbagi ilmu serta menikmati keseruan saat berkumpul bersama? Yuukk, joint di IIDN Jogjakarta.

* foto foto koleksi IIDN Yogyakarta


===========the end============