Selasa, 16 September 2014

Pengin Nangis Sesiangan? Yuuuukkk .....

Musim kemarau seperti ini, harga bawang merah di pasaran “terjun bebas”. Bila biasanya harganya berkisar antara Rp19.000,- sampai Rp 22.000,-  tapi kali ini harganya berada di kisaran Rp 12.000,-sampai dengan Rp 15.000,-. Itu untuk harga bawang merah yang berukuran besar. Kalau yang lebih kecil, harganya tentu lebih murah lagi. Iklim yang mendukung menyebabkan ketersediaan bawang merah melimpah di pasaran.



1410770646493974207

Sebagai penggemar bawang merah goreng, kesempatan ini tak saya sia-siakan. Apalagi, kakangbojo juga menggemari bawang merah goreng yang gurih buatan saya. Hayyaaahhh…..namanya juga hasil masakan istri.


Duluuu, saya suka membeli bawang merah goreng di warung. Alasannya tentu saja kepraktisan. Tapiii, ternyata bawang merah kemasan yang kita beli aromanya tak sesedap bila kita menggorengnya sendiri. Dengan alasan itulah makanya saya rela “menangis sesiangan”. Hehehehe……

Tentu saja tidak demikian. Ada beberapa kiat yang bisa kita praktekkan bila kita ingin menggoreng bawang merah yang gurih tanpa harus ‘tersiksa’ dengan air mata yang terus menetes selama mengiris bawang.

Mula-mula siapkan baskom berisi air setengahnya. Kupas bawang merah lalu langsung masukkan ke dalam baskom tersebut. Lakukan hingga bawang merah habis dikupas.

1410770842326849686

Cuci bersih bawang merah kupas, lalu rendam kedalam air es/air dingin yang sudah dibubuhi garam. Diamkan kira-kira 15 menit.

14107709651273677925

Iris halus bawang merah yang sudah direndam tadi.

14107710601722109421

Taburkan garam halus ke atas irisan bawang merah, aduk rata. Diamkan sebentar.Biasanya irisan tersebut akan sedikit berair sesudahnya.

menunggu garam meresap, kita panaskan minyak goreng secukupnya. Goreng irisan bawang merah, jangan lupa diaduk-aduk agar tidak gosong. Bila bawang merah sudah kelihatan sedikit menguning, segera angkat. Siramkan minyak bekas menggoreng tadi - yang masih panas tentunya - beberapa kali hingga bawang goreng menjadi kuning kecoklatan.

Segera tuang ke dalam wadah, jangan taruh bawang goreng di atas serok panas. Hal itu akan menyebabkan bawang gorengnya menjadi kecoklatan.

1410771277770690740

Tunggu hingga dingin, lalu simpan dalam wadah bertutup rapat.


Naah, selesai sudah. Nikmat disantap dengan nasi hangat, sambel tomat, dan kerupuk. Ingat waktu jaman susah dulu? Saya nggak bertanggung jawab lhoo….

Selamat mencoba.



=====&&&&&&&&=====

Kamis, 15 Mei 2014

Jalan-Jalan ala Mak: Segarnya Air Umbul Cokro

Liburan Hari Raya Waisak 2558 yang jatuh pada hari Kamis kemarin, membuat galau......halaah, istilahnya ini.. Bagaimana tidak? Mau pergi ke luar kota yang agak jauhan dikit, nggak bisa karena hari Jumat bukan hari libur. Sementara bila bepergian ke obyek wisata yang agak dekat dan terjangkau dalam waktu 1 (satu) hari ....kita kebingungan sendiri. Bingung kan??
Sebagian besar sudah pernah mengunjunginya.......hehehehehe. Ini menggayaa beneran.....nggayaaaa....


Yaahh, mumpung kakang bojo sedang "longgar atine" dan mengajak kami sekeluarga pergi melancong....jiaah.... maka hari itu kami memutuskan untuk pergi berenang dan dilanjut makan-makan. Peduli amat berat badan naik drastis, yang penting pergi rame-rame dan senang-senang.

Kami segera bersiap, setelah menghabiskan makan pagi yang ala kadarnya, kami meluncur ke daerah Prambanan untuk menjemput beberapa keponakan yang unyu-unyu. Tak makan waktu lama, kami segera menuju ke daerah Polanharjo Klaten tepatnya di daerah Cokrotulung. Jangan membayangkan kami menuju ke kolam renang mewah ala hotel berbintang...... Terus terang, kami tak begitu suka. Kami lebih memilih mengunjungi pemandian yang asri, sejuk, dan menantang. Kok bisa? Tentu saja. 

Niii......foto-fotonyaa.....






Dikelilingi oleh pepohonan besar dan rindang, pemandian ini menawarkan sensasi berenang yang susah untuk dilupakan begitu saja. Oooohh yaaa? Apa coba buktinya??



Tentu saja. Ada trik khusus bagi siapa saja yang berencana untuk berenang di pemandian ini. Apa itu?
Menurut orang-orang sekitar yang terbiasa mandi (berenang) di pemandian itu, kita harus membenamkan sekujur tubuh hingga kepala ke dalam air. Kenapa memangnya? Iiihh, banyak nanya deeh...hehehehehe
Mereka percaya, dengan cara demikian kita tak akan kedinginan selama berenang di air mengalir yang sejuk dan segar ini. Segar? Huaahh......bagi saya siiihh, membekukan. Bagai air dari kulkas disiramkan ke tubuh yang kepanasan.


Bagi anak-anak, disediakan kolam khusus yang kedalamannya tak lebih dari 1.5 meter dan ketinggian air tak lebih dari 75cm --lebih kurang--.... Tentu saja, ini untuk mencegah agar anak-anak tidak tenggelam karena belum mahir berenang. Tetapi jangan khawatir, karena beberapa penduduk sekitar yang berjualan membuka warung gorengan, menyewakan tikar, menyediakan beberapa minuman ringan dan snack, juga sekaligus menyediakan ban bekas yang bisa digunakan sebagai pelampung.....





 Tak hanya anak-anak kecil, beberapa orang dewasa pun tak sungkan menyewa ban tersebut untuk berenang....eeh mandi. Jangan membayangkan mereka menggunakan pakaian renang yang modis dan seksi, memakai celana pendek dan kaus sehari-hari pun oke jugaa...


 ~~~~~ooOOOoo~~~~~

 Berhubung kami berkunjung pada hari libur, kami dihibur oleh pertunjukan live music. Sebuah panggung permanen didirikan di salah satu sudut pemandian, siang itu kebetulan mereka menyuguhkan musik dangdut. Musik yang kata sebagian orang dianggap sebagai musik kampungan. Aaahh, peduli amat dengan anggapan itu.

Buktinya? Beberapa anak-anak dan remaja asyik bergoyang mengikuti irama lagu dangdut yang menghentak. Bahkan ada pasukan joget yang memakai kaus seragam berwarna hitam yang asyik menggoyang-goyangkan tubuhnya. Ulah mereka menyebabkan beberapa pengunjung agak kesulitan untuk berlalu lalang.





Uniknya lagi, beberapa pengunjung dengan santainya duduk di bawah panggung pertunjukan....hahahahaha


Pokoknya seruuu deeh, nggak bisa berkata-kata lagi. Buktikan sendiri bila kebetulan sedang berkunjung ke Klaten, Jogja atau pun Solo.....sempatkan deh berkunjung ke sini....



Menjelang makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke kawasan Janti, dimana terdapat banyak sekali tempat pemancingan, tetapi bukan untuk memancing hehehehehe....

Di kawasan ini, mata pencaharian penduduk adalah memelihara ikan. Ketersediaan air yang melimpah dimanfaatkan benar-benar. Beberapa diantaranya sengaja membuka warung makan untuk melayani para pengunjung.
Sambil menunggu makan siang disiapkan, kami menghabiskan waktu dengan memancing di kolam yang terletak di belakang rumah. Seandainya kita berhasil mendapatkan ikan, kita dpersilahkan untuk memilih: membawa ikan itu pulang dalam keadaan hidup, dibawa pulang dalam keadaan matang (dimasak di tempat) atau dikembalikan ke kolam......dengan catatan masih hidup..... Enak kan?








Naaaahhh, berenang sudah, perut kembali kenyang juga sudah.......akhirnya kami memutuskan untuk pulang.

Ketemu lagi di cerita jalan-jalan selanjutnya yaaahhh.....


=====%%%%%%%%%%=====





Sabtu, 03 Mei 2014

Itung Itungan ala Mak: Cara Memilih Sekolah Lanjutan

Tahun ajaran baru hampir menjelang. Berbagai persiapan untuk menyambutnya sudah mulai dilakukan oleh orang tua, khususnya yang memiliki putra putri yang akan memasuki jenjang pendidikan lebih tinggi.

Tak dapat dipungkiri, memilih dan menentukan sekolah yang tepat untuk buah hati kita bukanlah persoalan yang mudah. Kita harus cermat berhitung untuk memutuskan sekolah mana yang akan kita pilih nantinya. Tentu saja, kita tak dapat mengesampingkan faktor nilai yang dimiliki oleh anak kita.
Beberapa tahun terakhir ini, di Jogjakarta khususnya di Kotamadya; Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru sudah melalui online. Real Time Online - begitu istilahnya. Sebagai orang tua, kita dimudahkan dengan adanya sistem ini.

Meskipun tahun ini saya tak lagi disibukkan dengan acara memilih dan mencari sekolah yang tepat untuk anak, tetapi ada beberapa hal yang pernah saya lakukan dulu yang ingin saya bagi di sini.

Kira-kira sebulan sebelum pembagian raport kenaikan ke kelas IV, saya sengaja membeli surat kabar lokal Jogja. Biasanya menjelang Tahun Ajaran Baru, mereka akan memuat beberapa tabel yang berisikan data lengkap tentang Penerimaan Peserta Didik Baru tahun sebelumnya. (sayangnya, saya tak punya satu pun contoh tabel dimaksud....hiks).......

Dari tabel tersebut, kita bisa menghitung dan mengira-ira kemana anak kita bisa mendaftar. Eits ....nanti dulu. Itung-itungan ini tidak asal hitung lhooo. Naah, setelah mengetahui persis jumlah siswa baru yang akan diterima, sebaran nilai terrendah hingga tertinggi dari siswa yang berhasil diterima di sekolah tujuan (biasanya sekolah negeri dan beberapa sekolah swasta yang bergabung di sistem RTO).... kita sisihkan dulu pemikiran ini.
Kenapa? Tentu saja karena kita harus menunggu. Apa yang ditunggu? Hehehe...raport anak kita tentunya. Lalu apa hubungannya?? Masih bingung?? .....Sabar yaaaa......


Setelah raport hasil belajar anak kita sudah diterima, saatnya mengajak anak untuk melihat dan membandingkan jumlah nilai raportnya dengan besaran jumlah NEM yang ada di tabel harian lokal tersebut.
Kita lihat nilai yang dicapai anak kita untuk mata pelajaran yang diujikan di Ujian Nasional. Berapa total jumlahnya?
Naah, setelah mengetahui total jumlah tersebut, kita bisa menentukan sekolah mana yang akan kita tuju nantinya. Terlalu dini? Tentu saja tidak...menurut saya lhooo....
Sebelumnya, tanyakan kepada anak, kemana ia ingin melanjutkan sekolahnya. Biasanya anak sudah punya gambaran kemana ia akan mendaftar.

Apa tidak terlalu terburu-buru? Ini anak baru mau naik ke kelas IV lhoo?
Tidak. Menurut saya, akan lebih baik bila anak dilibatkan sejak dini untuk memilih sekolah yang diinginkannya. Tak rasional? Tergantung dari mana kita melihatnya bukan?
Sejauh pengalaman saya selama ini, anak akan ikut bertanggung jawab dengan pilihannya bila dilibatkan dalam menentukan pilihan.

Voilaa.... point pertama sudah kita dapatkan. Anak sudah mempunyai gambaran SLTP yang akan ditujunya nanti.

Point yang kedua adalah..... jika anak sudah memilih, kita melangkah ke tahap selanjutnya. Apa itu?
Setelah SLTP dipilih, kita melihat ke total nilai UN di raport kenaikan kelasnya, lalu bandingkan dengan nilai terrendah dan tertinggi di tabel yang kita punya sebelumnya.

Sebagai contoh: 
Total nilai 3 mata pelajaran = 26
Nilai di SMP 1 = 28
Terdapat selisih nilai = 2.

Jelaskan kepada anak tentang kondisinya saat ini. Ia mempunyai kekurangan nilai 2 untuk bisa diterima di SMP 1. Tanyakan kepada anak, apa yang akan ia lakukan untuk mengejar kekurangan nilai tersebut?
Banyak alternatif pilihan: les privat, ikut kelas bimbingan belajar, les di sekolah atau belajar sendiri.Biarkan ia menentukan pilihannya sendiri. Tunggu.....kalau pilihannya tidak sesuai dengan keinginan kita? Bagaimana?
Untuk sementara kita yang mengalah. Setidaknya point yang kedua sudah kita peroleh.

Selanjutnya kita akan dampingi anak untuk melalui pelajarannya  di kelas IV seperti biasa. Biarkan anak melaluinya dengan perasaan senang. Karena saya seorang ibu rumah tangga, saya sediakan waktu untuk mengantarnya pergi ke sekolah, mengirim bekal makan siangnya, lalu menjemputnya saat sekolah usai. Kebetulan saya memilih SD yang tidak terlalu jauh dari rumah sehingga saya tak terlalu repot meskipun harus bolak balik dari rumah ke sekolah beberapa kali.
Tak lupa saya sempatkan untuk mengantarnya pergi ke tempat les pilihannya. Bila dirasa perlu, saya akan menungguinya selama ia mengikuti les.
Repot? Ya dan tidak. Kita hanya dituntut untuk bisa membagi waktu kita sebaik mungkin.

Point ketiga....... saat menerima raport  semester I di klas IV. Ajak anak untuk bersama-sama melihat pencapaiannya selama 6 bulan terakhir. Memuaskan atau ada yang harus digenjot kekurangannya?
Syukur bila nilainya bisa mendekati nilai SLTP tujuannya. Kalau tidak?
Ajak bicara anak kita. Berikan alternatif pilihan yang harus diambilnya. SLTP lain atau belajar lebih giat. Jangan lupa, berikan reward untuknya bila nilainya melebihi target yang kita tentukan (nilai SLTP yang ditujunya)..
Ribet yaaa..........?? Hehehe, yaa dan tidaak.

Kuncinya hanya pada kesepakatan antara saya dan anak. Bila nilainya memuaskan, anak tak harus ribet dengan les dan tambahan jam belajar yang menyita waktu bermainnya. Sementara bila hasilnya sebaliknya? Arahkan anak untuk lebih giat belajar dan mendampinginya selama waktu yang dibutuhkan.

Naah, tiba waktunya penerimaan raport kenaikan kelas ke kelas V. Sebelum itu, pastikan bahwa kita sudah mendapatkan tabel Penerimaan Peserta Didik Baru tahun ini dari harian lokal. Bandingkan tabel tahun lalu dengan tahun sekarang. Berapa banyak perbedaan sebaran nilai di SLTP yang dipilih anak?
Lalu bandingkan (lagi) dengan nilai raport anak. Berapa selisihnya? Besar kecilnya selisih ini lah yang kita pakai untuk menentukan gaya belajar anak kita di kelas V.

Balik lagi....bila kekurangan nilainya sedikit, anak tak perlu susah payah mengikuti segala macam bimbingan belajar, les privat atau pun pelajaran tambahan di sekolah. Biarkan anak menikmati waktu luangnya dengan bermain, mengerjakan hobinya atau kesenangan lain yang disukainya. Menggambar, nonton kartun, berenang, naik sepeda keliling kampung atau pun kegiatan lain. Tentu tak bijaksana kalau kita merampas masa bermainnya hanya demi memenuhi ambisi kita akan nilai terbaik.

Menginjak ke kelas VI, baru kita 'menyingsingkan lengan baju'. Dari dua tabel berbeda yang kita miliki kita sudah bisa mengira-ira kemana anak kita harus mendaftar. Sistem RTO di Kotamadya Jogjakarta memungkinkan siswa didik memilih 3 sekolah tujuan, 2 sekolah negeri dan 1 sekolah swasta. Disini kita diharuskan pintar pintar memilih. Kalau anak kita tidak diterima di sekolah pilihan ke-1, secara otomatis anak akan terlempar ke sekolah pilihan ke-2, dan atau terlempar ke sekolah pilihan ke-3.
Pastikan bahwa nilai anak kita berada dalam posisi aman di sekolah pilihan ke-1 kalau tidak ingin anak terlempar ke pilihan ke-2 atau ke-3. Jadi, berpikir masak-masak sebelum menentukan pilihan. Tetap lilbatkan anak dalam penentuan ini, karena dia lah yang akan menjalani pilihan ini. Bukan kita.

Selama duduk di bangku kelas VI, usahakan agar anak berada dalam kondisi prima. Hindarkan pertengkaran sesama anggota keluarga yang tak perlu, tekanan, perintah, bentakan atau pun hardikan yang bisa melemahkan semangat dan mood belajar anak. Jangan lupa untuk mengajaknya beribadah sesuai keyakinan kita, untuk memohon kemudahan dan pertolongan dariNya. Beberapa keluarga bahkan ada yang mengajak anak untuk berpuasa Senin Kamis...... selain mengajarkan kesederhanaan, puasa sunah ini diyakini bisa memuluskan jalan untuk menggapai cita-cita. Wallahu'alam.

Naah.......tibalah saat Ujian Nasional. Saya tak pernah meminta anak untuk mendapatkan nilai terbaik, tetapi selalu menekankan hasil maksimal sesuai kemampuan anak. Bila ia hanya mampu mendapat nilai 7, tentu tak bijak bila kita mengharuskan anak mendapatkan nilai 9 misalnya..... Biarkan anak menempuh ujiannya dengan tenang, bekali dengan sarapan yang disukainya, besarkan hatinya, beri semangat agar anak mengerjakan soal ujiannya dengan tenang. Tentu saja, doa dari kedua orang tua sebagai support spiritual tak boleh dilupakan.

Sambil menunggu pengumuman Nilai Ujian Nasional, kita bisa sedikit berlega hati. Setidaknya, kita sudah mulai mempersiapkan anak untuk menuju ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi jauh jauh hari. Menurut pengalaman saya, hal ini jauh lebih bermanfaat daripada membebani anak yang duduk di bangku klas VI dengan les  privat, tambahan jam belajar, bimbingan belajar selama seminggu penuh.
Tanpa kita sadari, kita telah merampas kegembiraannya, keceriaannya, masa 'bocah'nya dan memberinya tekanan bertubi-tubi. Bukan tidak mungkin, anak akan stress berkepanjangan hingga nilai Ujian Nasional yang digadang-gadang akan terbang entah kemana.

Naah, itu saja. Berdasar pengalaman saya, anak bungsu bisa mencapai target yang kita tetapkan bersama sejak awal. Tak ada rasa keterpaksaan atau pun keengganan dari pihak anak, dan kita sebagai orang tua tinggal memantau perkembangan anak. Tentu saja, jangan lupakan support dan bimbingan kita sebagai orang tua. Apa itu?
Mudah dan sederhana sebenarnya, tetapi belum tentu setiap orang rela melakukannya.
Salah satu contohnya: matikan televisi pada saat anak kita sedang sibuk belajar. Meskipun anak belajar di kamarnya dan kita menonton di ruang keluarga, tetapi itu sangat 'njomplang'....... Anak butuh contoh nyata, bukan hanya kata-kata yang tanpa bukti.
Kalau memungkinkan, dampingi mereka. Sediakan camilan sebagai penyemangat. Elusan dan tepukan di pundaknya pun bolehlah. Anak akan merasa orang tuanya ada bersamanya melewati hari-hari sulitnya.

Berani mencoba??
Salam


=====&&&&&&&&&&=====

Kamis, 01 Mei 2014

Ini Gara Gara Hujan

Seringkah anda bepergian dengan mengendarai motor berdua dengan suami? Tentu pertanyaan ini tak berlaku bagi mereka yang "baru" memiliki sepeda motor saja, belum mempunyai mobil. Saya salah satunya....hahahaha, jujur banget.

Banyak kejadian lucu yang bisa kita temui saat mengendarai motor. Angin yang menerpa wajah bila kita berkendara pelan-pelan, seperti elusan tangan malaikat mungil --hayyaahh-- anak  anak kecil yang tanpa dosa. Beberapa tahun terakhir kami memang sengaja mengendarai motor pelan-pelan. Bukan kenapa kenapa, lebih karena faktor umur saja. Semakin tua, rasanya hati ini semakin was was saja kalau memacu motor di jalanan.

Apalagi, suasana  jalanan di kota Jogjakarta sudah berubah banyak bila dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Kurangnya moda angkutan kota yang memadai untuk menjangkau setiap sudut kota, kemudahan mendapatkan kredit kendaraan bermotor dan juga akibat banyaknya mahasiswa yang menempuh pendidikan di kota pelajar ini menyebabkan beberapa ruas jalanan di Jogjakarta hampir mirip suasana di beberapa kota besar lainnya. Macet di saat jam-jam sibuk, bertambahnya polusi  udara yang menyesakkan dada dan waktu tempuh yang bertambah lama untuk jarak yang tidak terlampau jauh.

Menyebalkan? Kadang kadang iya. Apalagi saat kita sedang terburu-buru untuk menghadiri suatu acara, atau takut terlambat sampai di tempat kerja misalnya. Tapi inilah problem yang dihadapi oleh hampir sebagian besar kota.

Pengalaman lucu yang saya alami tadi malam mungkin saja pernah dialami oleh mereka yang mengendarai motor. Pulang dari rumah kakak di daerah Jalan Godean, hujan baru saja reda. Saya dan kakang bojo segera melaju meskipun dengan rasa khawatir kalau kehujanan di jalan. Betul saja. Baru saja berbelok ke arah Jalan Magelang, tiba-tiba hujan cukup lebat menyambut kami.

Tanpa pikir panjang, kakang bojo segera meminggirkan sepeda motornya. Ia segera membuka jok motor, mengeluarkan jas hujan dan meminta saya mengenakannya. Sementara kakang bojo? Ia memilih menggunakan jaket tebalnya saja, membiarkan jaket itu basah tertimpa hujan.

Berhubung kakang bojo berhenti di sebelah lapak penjual bensin eceran, ibu si pemilik lapak dengan sigap meraih botol berisi bensin dan torong-corong untuk menuang bensin ke tangki. Dengan perasaan malu dan nggak enak saya menoleh ke arah ibu itu dan berkata perlahan-lebih tepatnya berbisik- "bu, kami tidak membutuhkan bensin"......
Muka saya terasa panas, untung suasana di sekitar kami berhenti itu tidak terlalu terang cahayanya. Mungkin wajah saya sudah kelihatan merah padam menahan rasa tidak enak itu. Haduuuhhh, gimanaaa gitu. Dalam hati saya menyesali keputusan kakang bojo yang asal berhenti, tidak melihat suasana dimana kita menghentikan kendaraan.


Selesai mengenakan jas hujan dan membetulkan helm, saya beserta kakang bojo segera melaju meninggalkan ibu pemilik lapak bensin eceran. Masih terdengar gelak tawa dari beberapa remaja yang duduk di sebelah lapak si ibu. Mereka mentertawakan kami, mungkin. Atau bahkan mentertawakan si ibu yang sigap meraih botol bensinnya. Entahlaaahh....






=====%%%%%%%=====

Rabu, 23 April 2014

Dunia Maya dan Dunia Nyata - Tak Terasa Bedanya

Oktober 2012, pertama kali aku ketemu Jingga Rangkat. Sosok perempuan yang sebelumnya hanya kukenal lewat dunia maya. Dari sosial media itulah pada akhirnya kami bisa bertemu, saling bertukar cerita dalam kebersamaan yang terasa singkat.

Hanya tiga hari, tetapi waktu yang tiga hari itu telah merubah segalanya. Dulu.......aku agak takut dengan komentar-komentar yang dituliskannya di status teman sesama grup fb. DESA RANGKAT , itulah grup yang mempertemukanku dengannya.

Siapa sangka, dibalik ketegasannya, kegarangannya dalam mengawal dan berkomunikasi dengan sesama teman Desa Rangkat, terselip sifat kelembutan, keringkihan seorang anak perempuan. Aku menemukan sifat yang bertolak belakang dengan penampilannya sehari-hari.


==foto kenangan saat Kopdar Rangkat di Bandung, Oktober 2012 [koleksi Jingga]==


Sejak itu, aku seperti punya 'anak perempuan' yang manja, ringkih, aleman tetapi tegar menghadapi kerasnya kehidupan. Tak banyak yang kuketahui tentangnya, karena aku sungguh tak hendak mengorek kehidupan pribadinya yang disimpannya rapat-rapat. Hanya beberapa penggal kisah hidupnya yang sungguh membuat perasaanku haru biru.

~~*****~~




Hari Selasa 22 April 2014 yang lalu, Jingga mengirim pesan lewat bbm. Ia tengah dalam perjalanan ke Yogya bersamaAiya Aiy naik bus. Bbm yang dikirimkannya bikin aku tertawa ngakak. Jingga ketinggalan kereta api. Tentu saja, peristiwa ini mengingatkanku pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Ia pernah mengalami kejadian yang menggelikan. Ia ketinggalan pesawat. Hahahahaha............... tekor deeh.

Sorenya, akhirnya kami bisa ketemuan di sebuah rumah makan di daerah Kotabaru. Aku bisa memeluknya, yaaa, memeluknya lagi. Sama seperti saat perpisahan ketika Kopdar Rangkat dua tahun yang lalu. Kami mengobrol bertiga, sambil menyantap makanan yang kita pesan.

























==foto-foto koleksi Jingga==




Ada satu kalimat Jingga yang terasa menohok ulu hati. Dia tanyakan cerpenku yang bernada satire, sedikit nyrempet-nyrempet soal esek-esek.....Aku hanya bisa bengong. Jujur, aku tak tahu harus menjawab apa soal pernyataannya itu.

Sudah beberapa bulan ini aku mengalami writer's block - berhenti menulis. Entah apa sebabnya. Beberapa cerpen yang kutulis akhir-akhir ini tak ada gregetnya sama sekali. Datar, mengalir, tapi tanpa ciri khas. Begitu yang dikatakan Jingga padaku. Aku sendiri tidak mengerti, kenapa semangat menulisku mandeg seperti sekarang.


Pertanyaan dan pernyataan itu benar benar membuatku tak bisa berkata-kata. Tak ada satu kalimat pun yang bisa menjelaskan alasannya kenapa. Entah. Mungkin karena badmood, males, lebih asyik dengan kegiatan membaca hingga terlupa menulis atau.....entahlah. Yang jelas, pertemuan kami sore hingga menjelang malam itu sangat menggembirakan.

Pada akhirnya, waktulah yang memisahkan kami, aku Jingga dan Aiya Aiy. Mereka berdua segera meluncur ke stasiun Tugu untuk kembali ke Solo dengan kereta api. Sementara aku pun segera meluncur pulang ke rumah dengan sepeda motorku.
Pertemuan yang penuh kesan, melepas kangen, dan ngrumpi ngalor ngidul khas perempuan..

Rasanya tak sabar menunggu Bulan Oktober, bulan dimana kami, warga DESA RANGKAT hendak mengadakan Kopdar dalam rangka memperingati Ulang Tahun yang ke-4. Semoga dimudahkan dan dilancarkan. Aamiin.


=====%%%%%%%=====


















Sabtu, 19 April 2014

Iseng Iseng ... Eeh, Menang. Balik Modal Laaa

Setelah mengutak atik resep maccaroni schotel kiriman dari jeng Lis Suwasono yang dengan senang hati membaginya untuk saya, tibalah hari yang ditunggu-tunggu. Sejak pagi saya sudah berkutat di dapur. Biasaaa.....menyiapkan sarapan untuk ndara bojo yang harus berangkat kerja pagi-pagi.
Sebenarnya agak kecewa juga siih, hari Sabtu gini....hari kejepit nasional karena hari Jumat kemarin libur Paskah eeh, ndara bojo malah harus masuk bekerja.
Tapi ga papa laah, dari pada nanti ngrecokin acara saya masak memasak, lebih baik kalau dia pergi ke kantornya dan saya aman di 'daerah kekuasaan saya' alias jadi ratu dapur. Hahahaha ..........

Selesai membereskan piring bekas sarapan ndara bojo dan peralatan dapur bekas memasak sarapan, saya segera berangkat ke pasar. Membeli wortel, cup dari aluminium untuk cetakan schotel, keju, susu tanpa rasa dan beberapa keperluan dapur lainnya. Semangat saya makin berkobar saat terbersit sebuah harapan, aah kali ini saya bakalan menjadi salah satu pemenangnya.

Siapa siih, yang nggak ingin menjadi pemenang dalam suatu perlombaan? Juara harapan pun jadilah.....hahahaha, dasar banci lomba.

Catatan yang saya buat dari menyalin link tulisan jeng Lis Suwasono masih tergeletak di meja dapur. Segera saya mengupas ubi rambat, memotongnya menjadi bentuk dadu ukuran 1X1X1cm,  memotong wortel seukuran korek api, mencincang daging ayam, mengupas bawang bombay dan mencincangnya kasar, mengupas bawang putih dan mencincangnya menjadi halus.
Alunan lagu-lagu lawas menemani saya menyelesaikan persiapan memasak schotel. Hahahaha, kebiasaan yang sangat sulit saya hilangkan. Menyelesaikan pekerjaan rumah tangga diiringi lagu-lagu kesukaan.

Tepat jam 12 siang, schotel ubi rambat buatan saya sudah matang dan dikeluarkan dari oven. Lega terasa. Ternyata cup yang saya beli saat di pasar tadi sesuai dengan kebutuhan. Nggak sengaja, karena saat membeli tadi pagi, saya hanya mengira-ira berapa jumlah yang dibutuhkan. Lumayan, tak ada cup yang terbuang percuma.

Tiba saatnya mengantarkan schotel ubi rambat ke tempat bu Ning Tetuko selaku tuan rumah Lomba Memasak. Sebuah meja panjang berhiaskan taplak berwarna lila terhampar di sisi selatan halaman. Alamak, ternyata saya hampir saja terlambat menyerahkan hasil masakan. Untunglah, masih ada toleransi beberapa menit. Selamatlah schotel masakan saya.....Maklum, karena merasa masakannya sudah rampung, saya keasyikan berselancar di sosmed. Ganjarannya? Saya hampir saja batal ikutan lomba........Dasar mak-mak, kalau sudah memelototi laptop, lupa segala......hahahaha.


Sessi penjurian kali ini oleh Ibu Bekti, Ibu Nurwendah, Ibu Bibit, Ibu Dartomo......meriah, apalagi setiap peserta lomba masak mengajak serta buah hatinya sambil menunggu para juri menilai satu demi satu masakan yang dihidangkan.



Bayangkan, ada 20 jenis masakan berbahan baku ubi rambat. Ada yang dibuat pudding, gethuk, kroket, timus, pastel, dan tentu saja schotel. Ketentuannya, bahan baku masakan yang dilombakan tak boleh melebihi Rp 15.000,- , setiap peserta melampirkan nama masakan berikut daftar harga bahan baku yang dibutuhkan. Seru? Tentu saja.


 Apalagi anak-anak yang berlarian di sekitar tempat penjurian sesekali mendekat. Nampak sekali kalau mereka sudah ngiler ingin mencolek berjenis-jenis masakan yang terhidang. Warnanya menggoda selera, aromanya pun menerbitkan air liur siapa saja yang mendekat meja panjang itu. Hmmmmm........


Lomba Memasak kali ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Kartini yang jatuh setiap tanggal 21 April. Karena masih dalam suasana pemilu, maka kali ini peringatan diselenggarakan dalam suasana yang sangat sederhana. Tapiiiii......tak mengurangi kemeriahan. Ibu-ibu yang berkumpul, bergerombol di sana sini, saling mengomentari hasil masakan, sesekali berteriak memperingatkan anak-anaknya yang berantem......riuh rendah pokoknya.


Setelah berunding lumayan lama, akhirnya para juri memutuskan siapa yang menjadi juara Lomba Memasak.


 Akhirnyaaaaa...............penantian saya terbayar sudah. Schotel Ubi Rambat with Carrot buatan saya mendapatkan hadiah sebagai Juara II. Senangnyaaaa..... saking semangatnya, saya sampai lupa mencatat siapa yang menjadi Juara I dan Juara III....Hahahaha, dasaarr....





Note: foto-foto koleksi pribadi.

=====%%%%%%%%=====





















Sabana Hati

aah, tengah hari
tak pernah rela temaniku
menjala beningbening rindu
yang terantuk pada bulir halimun
dan terbawa entah ke seberang mana
saat senyum mentari panaskan ubunubun

di sini
terduduk sendiri
menanti sisasisa mendung
yang kemarin tlah semaikan janji
basahkan sabana
padang hati

~*
**~