Senin, 12 Januari 2015

Transfer Ilmu ala Mak: Hati-hati Memberi Informasi kepada Anak

Memiliki banyak teman yang berasal dari berbagai komunitas memang menyenangkan. Banyak pelajaran yang bisa kita petik dalam berinteraksi sehari-hari bersama mereka.

Seperti pagi ini, kami para member IIDN Korwil Jogjakarta asyik bercanda saling sapa dalam chatroom sebuah media sosial. Segala hal bisa dibahas di sana, dari mulai canda tawa, berbagi ilmu, berbagi resep masakan, sampai membicarakan materi buku atau cerita pendek yang hendak ditulis.
Tak ada sekat antara member yang baru bergabung dengan member 'senior' yang sudah malang melintang --hayaah...bahasane-- lama di IIDN Jogja. Semuanya melebur dalam pembicaraan yang beragam. Terkadang sangat cair hingga sesama member bisa saling meledek satu sama lain. Yang dudul lah, yang pelupa lah, yang doyan ngemil lah, yang anteng lah [kalau pegang toples camilan], yang celelekan lah..... Terkadang pembicaraan mengarah pada pembahasan serius tentang suatu hal.

Keseriusan itu bermula ketika salah seorang member menuliskan: siput hamil tua. Pembahasan yang panjang pun dimulai. Tau kenapa?

Pertanyaan yang muncul adalah: benarkah siput itu hamil?

Percakapan melebar kemana-mana. Ada yang akan menyimpan kosa kata itu untuk bakal bukunya. Ada pula yang menimpali dengan menuliskan bahwa kosa kata tersebut bisa dijadikan bahan untuk 'ngebom' salah satu majalah anak-anak dengan cerita tentang siput hamil tua yang jalan di lantai licin. Nah looo...makin nggak jelas kan?

Chat makin hangat dengan salah satu member yang 'agaknya' berpikir lama tentang kosa kata tersebut. Secara biologi, siput itu beranak atau bertelur tho? Kita seperti dipaksa untuk mengingat kembali pelajaran biologi semasa SMP dulu. Hehehehe, pagi-pagi tapi sarapannya berat begini.

Sebenarnya pemakaian kosa kata tersebut sebagai penyangat, kalau anak-anak sekarang menyebutnya sebagai lebay ...untuk mengungkapkan atau menggambarkan sesuatu yang super duper lelet. Sempet diprotes: memangnya kalau lagi hamil terus gerakannya jadi super duper lelet begitu? Hehehe, iya kalii.

Ada lagi pertanyaan yang menggelitik. Sebenarnya binatang yang bertelur atau beranak itu sebutannya apa siih? Hamil? Ini tentang pemilihan kosa kata yang tepat untuk binatang. Bunting?
Jawabannya kami peroleh dari member yang bersuamikan dokter hewan. Apa? Bunting, tentu saja.

Kembali ke kosa kata siput hamil tua. Menurut kami, kosa kata itu memberikan informasi yang salah. Apa lagi bila kosa kata itu akan dipergunakan sebagai salah satu materi cerita anak nantinya. Karena siput itu ovipar, bertelur. Kosa kata hamil biasa digunakan untuk manusia.
Sedangkan kosa kata bunting lebih banyak diistilahkan untuk vivipar, hewan beranak.

Pembahasan makin panas, makin bernas, makin menguras otak untuk mengingat kembali pelajaran saat SMP dulu. Meskipun rentang usia kami beragam, tetapi beberapa pengetahuan dasar yang kami pelajari tidak jauh berbeda, makanya diskusi pagi ini cukup menarik untuk diikuti. Sayang bila dilewatkan.

Obrolan beralih ke diksi buat humor. Katanya sii diksi buat humor itu sepertinya bebas, istilahnya tidak harus ilmiah. Benarkah begitu?

Member yang lain berpendapat  bahwa bahasa bahasa humor memiliki segmen tertentu. Bahasanya mungkin secara ilmiah dan EYD tidak sesuai, tetapi hal itu tidak dipermasalahkan karena segmen pembacanya kalangan remaja dan dewasa. Sementara untuk cerita anak, kita tidak bisa melakukan hal seperti itu.
Beda segmen beda perlakuan...itu yang perlu dipegang saat menuliskan sebuah naskah cerita. Apalagi bila kita bicara tentang fiksi fantasi, yang sangat tiada batas. Tetapi pengetahuan dasar tetap utama. Jangan sampai ada 'bias' dalam pemilihan kosa kata yang kita pergunakan.
Berat yaa? Hehehehe, sarapan yang luaar biaasaa.....

Saya punya pengalaman pribadi yang mungkin bisa dijadikan bahan pelajaran. Anak bungsu saya itu punya sifat yang keras kepala. Eit nanti dulu, bukan dalam konotasi negatif. Justru sebaliknya. Informasi apapun yang diterimanya pertama kali, itu yang dianggapnya benar. 
Suatu ketika, ia pernah bertanya tentang suatu hal kepada asisten rumah tangga kami. Oleh asisten rumah tangga dijawab asal-asalan. Naah, si bungsu ini meyakini bahwa jawaban yang diberikan tersebut adalah benar, sehingga ketika kami orang tuanya berusaha meluruskan jawaban tersebut, ia marah besar. Ia tetap bersikukuh bila jawaban asisten rumah tangga kami lah yang benar.


Saat itu ia berusia 3 tahun an. Usia dimana rasa keingintahuannya demikian besar. Segala hal akan dia tanyakan. Kalau dia bertanya tentang billboard misalnya, dia akan bertanya itu apa? Tulisannya bunyinya apa? Kenapa dipasang di situ? Kenapa warna biru (misalnya)? Kenapa bintang iklannya harus laki-laki?  ....terus seperti itu hingga dia puas dengan jawaban yang kami berikan. 

Hal inilah yang membuat kami sebagai orang tuanya sadar dan berusaha untuk selalu mencari jawabannya di buku yang relevan untuk pertanyaan yang ia ajukan. 


Intinya, sebagai penulis [ciiee....] kita harus membiasakan diri untuk memberikan informasi tentang pengetahuan dasar --dalam hal ini siput--  kepada anak dengan benar. Ini tugas belajar untuk penulis fiksi [terutama] untuk belajar dan menggali lagi ilmu tentang biologi....
Untuk hal-hal yang eksakta serupa itu kita tidak boleh ngawur, sebab kita berharap bacaan yang kita tuliskan untuk anak bisa dipergunakan untuk menambah pengetahuan melalui cerita yang menarik. Bahasa yang dipergunakan pun tak harus kaku, buatlah se cair mungkin agar lebih menarik minat anak-anak untuk gemar membaca.

Naah....beberapa ilmu sudah diserap tanpa sadar. Obrolan panjang yang bernas, menurut saya.
Semoga bermanfaat.

Peluk hangat.

=====%%%%%%%=====