Minggu, 25 Maret 2012

Bukan Jaman Siti Nurbaya

Murni mengatupkan matanya perlahan. Beberapa tetes bening airmatanya turun membasahi pipinya yang pucat. Sudah seminggu ini ia terbaring tak berdaya di tempat tidur. Entah, ini kali ke barapa ia jatuh pingsan di kantor, tanpa diketahui sebabnya. Yang diingatnya hanyalah rasa pusing luar biasa di kepala sebelah kiri. Lalu gelap. Ia tak ingat apa apa lagi.
Saat tersadar, Murni sudah berada di kamarnya sendiri. Ada buket bunga melati di meja kecil sisi ranjang, beberapa jenis obat tertata rapi di sana. Pandangannya beradu dengan sorot mata khawatir milik Burhan, yang entah sejak kapan berada di kamarnya.
“ sshh, jangan bangun dulu. Dokter melarangmu banyak bergerak dulu….” Sigap Burhan mendekat ke sisi ranjang saat Murni mencoba bangkit.
“ aku… aku kenapa ? siapa yang membawaku pulang ? “ keluhnya.
“ kau pingsan lagi “ jawab Burhan pendek. Wajahnya menyimpan kekhawatiran yang coba disembunyikannya dari pandangan Murni.
“ sudahlah, berbaring saja. Itu obat yang harus kau minum sampai habis…..” tunjuknya ke arah meja. Murni hanya mengangguk lemah. Pandangan matanya masih berkunang kunang.
“ okey, aku pamit pulang dulu. Ini sudah terlalu malam, nanti kau tak bisa beristirahat. Besok aku kemari lagi sebelum ke kantor….” Burhan pamit, mengecup kening Murni dan segera berlalu.

#####
Setahun terakhir Murni sering menderita nyeri kepala yang hebat. Nyeri itu semakin menghebat ketika malam hari ataupun pada saat bangun pagi. Selama ini dia tak pernah menghiraukannya. Dia hanya minum obat sakit kepala biasa yang dibelinya di warung dekat rumah. Terkadang, dia hanya meminum segelas teh hangat dan mencoba beristirahat hingga nyeri kepala itu reda sendiri.
Burhan tak bosan bosannya menyarankan Murni untuk ke dokter. Tetapi berkali kali pula Murni menolak saran itu. Entah kenapa, mendengar kata ‘ dokter ‘ itu saja telah membuat Murni alergi. Yaah, selama ini Murni sangat takut pergi ke dokter.
Kali ini Murni terpaksa menyerah. Ia tak sanggup lagi menahan sakit yang luar biasa ini. Dibiarkannya Badrun mengantarkannya ke rumah sakit, menungguinya diperiksa dan menemaninya saat sudah dipindahkan ke kamar perawatan.
Beberapa kali Burhan mencoba meraih handel pintu kamar perawatan Murni, tetapi selalu saja diurungkannya. Hatinya ragu ragu, takut mengganggu istirahat gadis itu. Dengan gelisah, dia mondar mandir di luar kamar, sambil menimbang nimbang.
Sesekali diintipnya melalui kaca jendela yang sedikit buram, tetapi tirai yang tertutup rapat itu menghalangi usahanya.
Setelah beberapa saat, akhirnya Burhan membuka pintu kamar, dan menghampiri Murni yang tengah tertidur. Pelan pelan dibetulkannya letak selimut yang sedikit tersingkap. Hatinya pedih seperti teriris iris menyaksikan gadis yang dicintainya terbaring lemah tak berdaya. Tak tega membangunkan gadis itu, Burhan meletakkan sehelai surat di sisi bantal. Setelah mengecup kening Murni, Burhan pun melangkah menjauh, meninggalkan Murni yang masih terlelap.
Tatapan matanya kosong memandang ke luar jendela bus yang ditumpanginya. Pikirannya kacau, perasaannya seperti tercabik cabik. Minggu yang lalu dia dipindah tugaskan ke kantor cabang di kota lain, hampir 500 km jauhnya. Mulanya dia ingin menolak, tetapi jenjang karier yang diharapkannya sejak lama kini ada dalam genggamannya.
Burhan tak kuasa mengabarkan berita ini pada Murni. Dia tak ingin melihat kesedihan terpancar di mata gadis itu. Entah apa yang akan dilakukannya setelah membaca surat yang ditinggalkannya di pembaringan.
Huff…. Burhan membanting ranselnya ke dipan. Dihabiskannya hampir duabelas jam perjalanan untuk mencapai kantor cabang tempatnya bekerja kini. Setelah mengeluarkan isi ranselnya, merapikan kamarnya yang tak terlalu luas ini, diapun beranjak keluar. Dia ingin mengisi perutnya yang keroncongan sejak tadi. Dihampirinya kedai makan yang terletak beberapa meter dari tempat kostnya.
Segera saja Burhan tenggelam dalam kesibukan kerja di kantor baru. Jabatannya sebagai Manager Pemasaran memaksanya untuk sering ke luar kantor untuk bertemu klient ataupun mengadakan presentasi.
Saat itulah ia bertemu dan berkenalan dengan Santi, sekretaris perusahaan dimana dia melakukan presentasi. Orangnya manis, ceria, dan sangat gesit dalam melakukan tugasnya. Beberapa kali mereka bertemu dan membicarakan proposal yang diajukan Burhan. Entah kali ke berapa, Burhan akhirnya mendapatkan nomor handphone gadis itu.
Keakraban diantara mereka mulai terjalin sejak proposal itu disetujui kantor tempat Santi bekerja. Pembicaraan mulai beralih dari draft proposal menjadi ke persoalan pribadi. Terkadang mereka janjian untuk makan malam berdua selepas jam kantor, dilanjutkan jalan jalan ke mall ataupun nonton.
Jauh di sudut hatinya, Burhan masih menyimpan nama Murni, gadis yang ditinggalkannya.
*****
Sepeninggal Burhan, kedua orang tua Murni menjodohkan gadis itu dengan anak sahabat mereka semasa masih sekolah. Murni tak kuasa menolak. Selama ini tak ada khabar sedikitpun dari Burhan. Nomor handphone yang diberikannya dulu tak bisa dihubungi. Murni tak berani menanyakan perihal pemuda itu ke kantornya. Dia malu.
Maka jadilah Murni sebagai istri Sigit, pemuda pilihan orang tuanya. Pernikahan berlangsung khidmad dan meriah. Senyum tak henti hentinya mengembang di bibir ibu Murni, juga kedua orang tua Sigit. Hanya Murni yang sesekali tampak murung, meski sekuat tenaga disembunyikannya di balik senyumnya yang hambar.
Hari hari dilaluinya dengan muram. Terkadang bayangan Burhan hadir di mimpinya. Murni berusaha melupakan cintanya, melupakan pemuda itu. Kini dia istri Sigit, tak boleh bila masih menyimpan pria lain di hatinya.
Sigit ternyata tak sebaik dugaan kedua orang tuanya. Dia pemberang, ringan tangan dan gampang memaki. Persoalan sepele saja bisa membuatnya naik darah. Beberapa kali Murni harus menahan tangis saat Sigit menempelengnya, rasa nyeri yang menyerang kepalanya tambah menghebat.
“ kau kenapa nak ? Sakit ? wajahmu pucat begitu ….. “ sapa ayahnya. Murni menggeleng dan berusaha tersenyum. Getir.
“ aku nggak kenapa kenapa kok pak…” sahutnya.
“ tapi kenapa pelipismu itu ? ini…. lenganmu juga biru biru…. “ khawatir sekali nada suara ayahnya, membuat Murni harus menahan tangisnya. Ia tak mau mengadukan persoalan rumah tangganya pada ayahnya.
“ ini terantuk pintu kamar mandi tadi pagi pak…. Lantainya licin, belum disikat, dan aku terpeleset…” sahut Murni lirih, menahan isaknya.
“ kita ke dokter yaa…”
Tanpa menunggu jawaban, pak Yahya mengajak Murni ke dokter. Setelah memeriksa dengan teliti, dokter Imam mengajak pak Yahya ke ruang dalam, sementara Murni dipersilahkan menunggu di ruang prakteknya.
“ langsung saja ya pak. Luka luka di tubuh Murni bukan karena terjatuh atau terpeleset pak. Tetapi ini KDRT, Kekerasan Dalam Rumah Tangga…..” hati hati dokter Imam menyampaikan hasil diagnosanya.
“ astaghfirullah… “ pak Yahya beristighfar. Tak pernah diduganya sama sekali bila menantunya ternyata laki laki pemarah dan kejam.
“ ini saya sudah buatkan pengantar untuk membuat visum di rumah sakit. Itu kalau pak Yahya ingin melaporkan kejadian ini ke pihak yang berwajib …”. Dokter Imam mengulurkan amplop putih.
“ te..terima ka…kasih dokter… permisi…” gemetaran pak Yahya menerima amplop itu dan pamit. Digandengnya tangan Murni, tanpa berani menatap wajah anak perempuannya. Tak henti hentinya dia mengutuki keputusannya dulu. Dia merasa sangat bersalah telah menjerumuskan anaknya ke lubang penderitaan. Murni hanya menurut, berbagai pertanyaan berkecamuk dalam hatinya, namun ditahannya karena wajah ayahnya demikian muram.
#####
Burhan melangkah riang. Hatinya tidak sabar ingin segera sampai ke rumah. Sudah dibayangkannya pertemuan dengan kedua orang tuanya dan juga Murni. Telah disiapkannya sebuah kado khusus untuk gadisnya. Sebuah kebaya berenda, kain pelekat dan tas tangan mungil berwarna perak. “ aah, Murni pasti sangat cantik mengenakan kebaya ini...” gumam Burhan. Tangannya sibuk membongkar barang bawaannya, hingga tak menyadari bila ibunya sudah berdiri di pintu kamarnya dengan raut wajah sedih.
“ ehm… banyak sekali bawaanmu nak ? “ sapa ibunya lembut sambil mengelus kain pelekat dan kebaya berenda itu. Sekuat tenaga disembunyikannya air mata yang hampir jatuh.
Burhan tersenyum lebar. “ ini bu… cantik kan ? ini khusus buat Murni…. “ girang sekali nada suara Burhan.
“ tapi nak…. “ suara ibunya tercekat, tak mampu melanjutkan kalimatnya.
“ tapi apa bu ? “ sahut Burhan tak sabar.
“ lupakan dia nak, demi kebaikanmu….” Lirih suara ibunya, lalu beranjak meninggalkannya sendirian.
Tak sengaja Burhan mendengar percakapan ibu dan ayahnya saat melangkah ke kamar mandi. Ibunya tengah menangis, sementara ayahnya hanya bisa terdiam tak bisa berkata apa apa.
“ inikah alasan ibu yang sebenarnya ? “ gumam Burhan lirih. “ kenapa ibu dan ayah tak pernah sekalipun mengabariku soal ini ? kenapa bu, kenapaa ? “
Burhan menghambur keluar rumah, dan berlari menuju ke dangau di tengah sawah tempat biasa dia menghabiskan waktunya. Hatinya hancur, harapannya kandas di tengah jalan.
“ percuma….percumaaaa “ jeritnya pilu. Kawanan pipit berhamburan, beterbangan karena terkejut. Beberapa petani yang sedang panen menoleh ke arahnya, tetapi segera melanjutkan pekerjaannya kembali.
Entah sudah berapa lama Burhan tertidur di dangau. Saat terbangun, hari sudah menjelang malam. Langit berwarna jingga, berhiaskan awan berarak, sesekali melintas kawanan sriti, burung pipit dan burung gereja bergegas pulang ke sarang. Angin mulai dingin, dan sekeliling dangau sunyi senyap. Dia bergegas pulang, takut bila orangtuanya cemas menantikannya.
#####
Pengadilan mengabulkan gugatan cerai Murni berdasarkan visum dari rumah sakit. Tak henti hentinya pak Yahya meminta maaf pada anak perempuannya. Dia telah gegabah menentukan nasib anaknya, yang berakhir dengan kejadian memilukan. Nyeri di kepala Murni makin sering menyerangnya. Terkadang dia tak bisa bangun dari tempat tidur seharian. Kedua orang tuanya dengan penuh kasih menjaganya, merawatnya dan menemaninya. Seolah mereka ingin menebus semua kesalahan dengan makin menyayangi anak perempuannya.
……….

Burhan tak terdengar lagi khabar beritanya, hilang ditelan bumi. Sesekali Murni menatap foto terakhir mereka sebelum berpisah. Surat yang ditinggalkan Burhan pun masih tetap disimpannya rapi, meskipun Murni tak tahu kenapa.
“ oalah nduk … nduk…. Bangun…. “
“ pak ..pak….ini gimana ? “ suara ibu Murni memecah pagi yang masih sunyi itu. Bergegas keduanya membawa Murni ke rumah sakit.
Pak Yahya terduduk lemas, sementara istrinya pingsan di sebelahnya. Murni menderita kanker otak stadium lanjut, dan selama ini dia menyembunyikan penyakitnya dari kedua orang tuanya. Ditambah lagi pukulan dan tempelengan Sigit dulu, makin menambah parah penyakitnya.
………..

Tergopoh gopoh Burhan menelusuri lorong rumah sakit, dan menjumpai kedua orang tua Murni di kamar perawatan.
“ pak, bu ..” disalaminya tangan kedua orang tua itu. Berbagai pertanyaan yang sudah di ujung lidahnya dibiarkan mengambang di udara. Tak tega rasanya bertanya, dengan melihat kondisi Murni saja dia sudah mengerti.
“ dinda…. Murni… ini aku, mas Burhanmu….”
“ aku datang memenuhi janjiku dulu….” Bisiknya di telinga Murni. Kelopak mata itu terbuka sebentar, menatap nanar lalu kembali mengatup.
Seharian itu Burhan tak beranjak dari sisi pembaringan. Digenggamnya jemari Murni yang lemah, sesekali diusapnya wajah pucat pasi itu. Hatinya menangis, seandainya bisa tentu sudah dipindahkannya rasa sakit itu pada tubuhnya sendiri. Tapi apa mungkin ??
Kesehatan Murni terus memburuk. Tubuhnya tak sanggup lagi menahan sakit yang dideritanya. Dia hanya sempat terbangun sebentar,tangannya lemah terulur mengelus wajah Burhan lalu terkulai. Dia telah pergi.
Pak Yahya tertegun, tubuhnya sempoyongan menahan istrinya yang lemas bersandar di pundaknya.
“ anakku….maafkan kami orang tuamu nak….” Isaknya pelan. Tubuhnya limbung dan tak ingat apa apa lagi.
Burhan hanya bisa tegak mematung. Separuh jiwanya telah pergi, bersama Murni yang dicintainya.
“ pergilah dinda. Hari ini kau telah terbebas dari penderitaanmu….” Lirih suaranya.
Diapun melangkah menjauh, tak tahu entah kemana.


13326773801960900309
gambar dari google





malam mulai merambat menyapa sepi yang mengelana
menelusuri tepian pematang bertemankan senyuman bulan
daun daun merunduk dalam gigil beku pelukan halimun
tipis melayang membuai burung burung malam

aku masih sendiri di sini
menganyam buhul dan untai ilalang menguning
bersulam putih kelopak melati
berserak menutup tanah basah sisa hujan

hadirmu bak seleret sinar bintang yang jatuh
saat pengharapan mengembara mencapai langi
t

……….

yang tersisa tinggallah sebait ilusi
tatkala hasrat menggapai ulur lenganmu sebatas pagutan mimpi

---000---

Kamis, 22 Maret 2012

Kamar lantai duapuluh tiga


Cerana yang kau ulurkan kini teronggok muram
Usang dan berdebu, bertemankan laba laba
 Di bibir jendela, kamar lantai duapuluh tiga
Seburam kaca yang mengalanginya menatap cakrawala
*****
Anggur yang kau tuang tlah lama mengudara
Sisakan seleret noda merah, dan sehelai karpet basah
Sepotong cerita dan remasan jemari menggigil
Dalam debur genderang jantung, degub sempurna
*****
Temaram lampu berona jingga, berbaur pagut
Hangat menjalar di ujung kelambu
Putaran jarum waktu berlari menjauh
Melesat, bagai tak hendak menunggu
*****

Dan kini, jambangan pun berhias bunga melayu
Tak hendak luruh, meski hari mengejar suluh
Kegelapan tlah luluh, menyusuri jantung kota yang gemuruh
Tak sisakan warta untuk sekedar berbagi keluh
*****

Rabu, 14 Maret 2012

Miranti, Hans dan Hubungan Tanpa Status

Dari balik jendela kamarnya di lantai dua, Miranti berdiri mematung. Dipandanginya lembayung senja yang terhampar di luaran sana. Dia mendesah lirih. Masih dirasakannya perih yang menghunjam di dadanya.


penghujung hari ini muram, tangis langit
tlah kelabukan semburat jingga
teman menyongsong malam


sisakan kelokan tepian yang basah
bertaburkan guguran dedaunan menguning
yang 'kan suburkan padang gersang



tarian angin mengayun buluh bambu
lengkapi orkestra senja


Di tangannya tergenggam secarik kertas berisi bait bait puisi karya Hans, yang diselipkannya saat mereka berpisah bulan lalu. Miranti masih tak mengerti, mengapa mereka harus dipisahkan oleh alasan yang tak bisa diterimanya.

###




13317094821627204586
gambar dari google





maaf mungil, kita tak bisa meneruskan hubungan ini……” keluh Hans, saat memeluknya di tepian pantai. Senja hampir memeluk ujung malam, mereka masih berdiri terdiam di bibir pantai. Ombak yang mengecupi ujung jemari kaki mereka, tak dihiraukan.
tapi kenapa mas ? adakah yang salah pada diriku, sikapku atau ….?? “ pertanyaan Miranti menggantung di udara, saat kibasan tangan Hans menghentikan pertanyaan itu.
maafkan aku mungil. Aku tak bisa menjelaskannya sekarang. Minggu depan, aku menduduki jabatan baru di kantor. Apa kau ingin karierku hancur karena hubungan ini ? “ getar suara Hans. Ia tahu, hati Miranti hancur berkeping keping karena jawaban ini. tetapi ia harus jujur, betapapun menyakitkannya kenyataan yang harus mereka hadapi.
Hans seperti memakan buah simalakama, antara karier dan Miranti. Perempuan yang mulai dicintainya setahun belakangan ini. Dulu mereka satu sekolahan, meski beda kelas. Pertemanan yang terjalin beberapa tahun itu terpisah karena kuliah mereka yang tak satu kota. Sejak itulah mereka seperti kehilangan jejak masing masing. Apalagi mereka kemudian menemukan tambatan hati dan kemudian membangun rumah tangga. Hans sibuk dengan kariernya yang makin menanjak, sementara Miranti memilih berkutat sebagai ibu rumah tangga, dan tenggelam dalam kesibukannya.
Reuni akbar itu mempertemukan mereka kembali. Hans telah menjadi seorang pejabat penting di kantor pemerintahan. Pada awalnya mereka hampir tak mengenali satu sama lain. Secara kebetulan mereka mendapatkan tempat duduk bersebelahan saat di ruang makan.
Hubungan di antara mereka kembali terjalin. Miranti yang sedang mengalami masalah dalam rumah tangganya seperti mendapatkan oase yang memabukkan. Hans seakan menemukan nafsu petualangan yang dulu sangat disukainya pada diri Miranti. Sebuah hubungan tanpa status, yang makin lama makin menjerat mereka hingga tak bisa terpisahkan lagi.

Tapi kini Hans harus memilih. Ia mulai mencintai Miranti, hal yang tak boleh dilakukannya sekarang. Perempuan itu lembut dan ringkih, bersamanya Hans merasa menjadi seorang laki laki kokoh yang memberikan perlindungan untuk Miranti. Ia tak ingin mengorbankan karier yang diperolehnya dengan perjuangan bertahun tahun. Ia juga tak ingin anak anaknya menderita hanya karena kesenangannya sesaat saja.


#####


Miranti masih menggenggam kertas berisi coretan puisi itu. Sore ini dia sendirian di lantai atas. Rintik hujan masih terus turun, membasahi hamparan sawah di seberang jalan. Tak dipedulikannya air mata yang mengalir turun membasahi pipinya.
Meski tak dapat menerima keputusan Hans untuk berpisah, tetapi Miranti tetap diam. Perasaan bersalah yang selama ini mengganggu pikirannya seakan menahannya untuk menghubungi Hans kembali. Jauh di lubuk hatinya Miranti menyimpan sesal karena telah menghianati cinta suami dan anak anaknya.
Keluarga kecilnya ini demikian tulus mencintainya, menyayanginya dan memanjakannya. Miranti bagaikan seorang ratu di rumahnya sendiri. Dia selalu punya banyak waktu untuk dirinya sendiri. Namun dia telah tega menyakiti hati mereka, tanpa mereka sadari. Perasaan berdosa ini seakan makin membebani hari harinya.
Dipandanginya foto keluarga yang tergantung di dinding kamarnya. Betapa berseri wajah anak anaknya. Tangan suaminya menggenggam erat jemarinya, dengan senyum tulus di wajahnya. Miranti tak kuasa memandangi foto itu berlama lama. Air matanya kembali turun membasahi pipinya.
maafkan aku sayang, hatiku tlah mendua. Maafkan ibu nak. Aku bukan ibu yang baik buat kalian…..” isaknya makin keras, jantungnya seperti di remas remas. Sakit sekali.

Perlahan dia bangkit, dihapuskan sisa air mata di pipinya. Sebelum suami dan anak anaknya pulang, Miranti ingin tampil lebih segar. Diraihnya handuk, sejurus kemudian ia sudah mengguyur tubuhnya dengan air dingin.
Setelah mengganti bajunya, Miranti turun. Disiapkannya segelas teh hangat kesukaan suaminya, dan beberapa roti bakar buat anak anaknya. Ditunggunya mereka sambil menonton televisi, dipilihnya acara siaran berita.
Suara reporter di TV mengejutkannya.
“ telah terjadi kecelakaan di persimpangan Taman Kota beberapa saat yang lalu. Sebuah mobil melaju kencang dan menabrak tiang listrik hingga terbakar. Semua penumpang berhasil menyelamatkan diri meskipun mengalami luka bakar. Sementara si pengemudi tewas terpanggang. Dia masih terikat dengan sabuk pengaman di kursinya…….”
Miranti tak percaya dengan apa yang didengar dan dilihatnya. Itu plat mobil mas Hans, yang dihapalnya di luar kepala. Dia terduduk, jantungnya berdegup sangat kencang. Keringatpun berbutir butir di keningnya.
mas Hans….. “ keluhnya lirih, sebelum akhirnya dia pingsan.


#####


aku dimana ini ….” Miranti membuka matanya. Dilihatnya suaminya, anak anaknya sudah berkumpul mengelilinginya. Ada gurat kekhawatiran di wajah mereka, membuat Miranti menangis.
sssttt sudahlah ma. Sudah, jangan menangis lagi…..” suaminya sigap menghapus air matanya, membuat perasaan bersalah di dada Miranti makin besar. Ia menyesali kebodohannya, kerapuhan hatinya, dan ketidaksetiaannya kepada keluarganya.
Suaminya penuh perhatian, anak anaknya sangat menyayanginya….. Miranti telah mengabaikan semua yang ada di hadapannya. Oase yang direguknya saat bersama Hans hanyalah fatamorgana yang semu. Hanya sesaat, tak ada ketulusan di dalamnya. Tak henti hentinya Miranti menyesalinya kini. Perasaannya seperti terbelah dua. Dia tak ingin kehilangan keluarganya, sementara hatinya terkoyak pedih karena kematian Hans.

Pagi ini udara cerah, secerah senyum suami dan anak anaknya menyambut kepulangannya dari rumah sakit. Meskipun masih lemah, Miranti mencoba menguatkan hatinya. Dienyahkannya bayang bayang Hans yang masih sering muncul di hadapannya. Dicobanya merangkai kembali keping keping cintanya yang terkoyak, ingin diraihnya kembali mimpi mimpi manis bersama keluarganya.


#####

Hingga suatu pagi.
tok tok tok…. Assalamu’alaikum….” Didengarnya sapaan di pintu. Sebuah suara asing yang belum pernah di dengar sebelumnya.
maaf, apakah benar ini rumah jeng Miranti ? “ suara lembut seorang perempuan memecah keheningan. Miranti mengangguk. Dia masih sibuk mengingat ingat siapa dan dimana pernah ketemu dengan perempuan ini.
ehm, boleh saya masuk ? saya ingin menyampaikan sesuatu buat jeng ….”
ooh eeh, silahkan silahkan….” Balas Miranti.

Diperhatikannya tamunya. Seorang perempuan seusianya yang nampak lebih tua dari usia yang sebenarnya. Dia menyerahkan sebuah bungkusan berpita pada Miranti.
Dibukanya perlahan, dan Miranti sangat terkejut dibuatnya. Sebuah lingerie berwarna merah jambu, buku bertuliskan puisi dan kata kata mesra, sapu tangan pemberiannya, jepit dasi…..dan semua barang yang diberikannya pada Hans ada di hadapannya.
Sambil menahan air matanya, perempuan itu menyebutkan namanya, Siska. Dia meminta agar Miranti mau menyimpan semua benda itu atas permintaan Hans.
seminggu sebelum mas Hans meninggal, dia memohon ampun kepada saya jeng…..” suara Siska tercekat di tenggorokan. Hampir saja air matanya tumpah, namun sekuat tenaga ditahannya.
dia memohon maaf telah mengkhianati perkawinan kami, dan mengakui kalau dia punya affair dengan jeng….” Miranti masih terdiam.
dia sudah bertekad untuk melupakan jeng, dan kembali ke keluarganya. Bagaimanapun, anak anak tak boleh menjadi korban keegoisan orang tuanya… “ Siska menghentikan ucapannya. Dadanya turun naik, seperti menahan gejolak kemarahan, juga kesedihan yang sangat berat.
sebelum berangkat ke kantor pagi itu, mas Hans telah membungkus semua benda ini, dan menuliskan sehelai surat. Ia meminta saya untuk mengirimkan ke rumah jeng…. “ tangis Siska pun meledak. Miranti hanya bisa diam. Sungguh, dia tak tahu harus berbuat apa menghadapi kejadian ini.
penuhilah permintaan terakhir mas Hans jeng, biar dia tenang di alam baka …” kata kata Siska menyadarkan Miranti dari diamnya. Dia mengangguk. Jauh di lubuk hatinya dia menangis darah. Laki laki yang mulai mengisi hatinya itu rapi menyimpan benda pemberiannya, dan meninggalkannya dengan tragis.

#####

Miranti memandangi rinai hujan dari balik jendela kamarnya. Sesekali ingatannya melayang pada Hans. Kali ini dia tak ingin menangis lagi. Dikibaskannya tangannya ke udara, seakan ingin mengusir segala bayangan buruk di hadapannya. Miranti tak ingin terbelenggu masa lalunya yang kelam.
Beruntung suami dan anak anaknya bisa memahami perasaannya, cinta dan kasih sayang mereka tak pernah berkurang karena peristiwa itu. Tak henti hentinya Miranti menyesali diri, tetapi dia lebih bersyukur kini.

---000---

special thanks to :Mira dan Hans

terinspirasi dari kisah kalian

Minggu, 04 Maret 2012

Melangkah Menjuju Senja [ Sebuah Perenungan ]

Sengaja kuluangkan waktu menyusuri setapak jalan di pinggiran kampung. Hari masih pagi benar, masih kulihat tetes tetes sisa embun semalam, yang menggelayuti ujung ilalang, juga pucuk pucuk cemara yang berjajar menyambut fajar. Nampaknya matahari akan tersenyum cerah pagi ini, hanya sesekali seleret awan putih melintas bersama desau angin. Langit tlah berwarna tembaga kekuningan, menandakan matahari akan segera menyapa hari dan menyebarkan kehangatan untuk mereka yang tlah terjaga dari mimpi.


Entah kenapa, aku punya banyak waktu untuk sendiri kali ini. Semua seakan kompak membiarkanku menanyai hati, menyapa ke kedalaman palung jiwa dan ke luasan samodra yang tersimpan rapi di dada.
masihkah kau simpan gunungan asa sebesar saat pertama ? “ bisikku pada hati. Puluhan tahun tlah kulewati bersamanya, dan aku tak tahu jawab apa yang akan kau beri.
masihkah kau jaga cinta sekuat saat pertama ? “ bisikku pada jiwa. Ribuan hari tlah kulalui bersamanya, dan aku tak tahu kata apa yang akan kau ucap.
“ masihkah kau hangati cemburu dan iri hati sepanas saat pertama ? bisikku pada rasa. Berbilang waktu tlah kulewati bersamanya, dan aku tak tahu keluh apa yang akan kau desah.

...meski tetes embun masih menggelayuti ujung daun
terangguk bersama sapaan bayu
diwarnai semburat jingga rona matahari


saat saat menjelang pergantian waktu
mari nikmati romantisme hati
agar butir pengharapan di awal jumpa
tetap terjaga...





#####

Tlah kutempuh jatah waktuku, separuh atau bahkan lebih. Aku belum mengetahui sampai kapan pastinya. Kini, nanti atau bahkan bertahun lagi. Kulalui dengan irama dan gaya seperti mauku. Mulus dan lancar di awal, tikungan berliku, tanjakan terjal dan juga lobang dalam menganga di pertengahan, dan berharap bila di akhir ini waktuku akan mengalir landai tanpa hambatan.
Setiap orang akan menuju ke satu titik nadir yang entah kapan. Hanya tujuan kita yang sama, dan waktunyalah yang berbeda. Semua tlah punya jatah masing masing, lama atau sebentar.
…….
Dalam perenunganku, aku masih menyimpan sejuta bimbang. Sesekali kubawa berkeranjang keranjang, tetapi sesekali ku tinggalkan. Ada banyak tanya yang sering kusimpan dalam dalam. Bahagiakah aku ??


dalam perenungan menjelang pergantian waktu

selaksa kenangan serasa berkejaran

hari demi hari, bulan berbilang tahun

tak terasa, torehkan berlembar lembar sejarah



saat bersenda, saat berduka

saat semaikan benih kasih sayang

juga saat menangguk sekeranjang cinta

mereka yang terkasih, tertangkup dalam genggaman



yang tersisa hanyalah sejuta tanya

dikelebatan asa yang menjulang

sudahkah kubahagiakan orang orang sekeliling ?


Langkahku tlah menapak ujung pematang. Beberapa bulir padi yang merunduk mencumbui betis telanjangku, mengalirkan lelehan embun yang tersisa, memberikan kesejukan. Beberapa pipit dan burung gereja melintas, menyapa dalam cericit gelisah. Bangau putihpun tetap tegak berdiri satu kaki, menanti mangsa timbul tenggelam di air tenang.
Tlah lewat dua dasa warsa, saat digandengnya tanganku menyapa masa depan. Selama itu pula selalu ada cerita cinta dan air mata di pergantian waktunya. Semuanya mewarnai lembaran hidup yang tengah kugambar dengan anganku, dengan asaku, dengan citaku dan juga dengan kesedihan jiwaku. Biarkan semua mengalir apa adanya, biarkan semua berkejaran sesuai kodratNya.
Kini aku melangkah menuju senja, saat kepalaku terukir sebuah angka. Takkan cukup jemari kita membilangnya, karena butuh bantuan beberapa tangan lagi tuk mencukupkannya. Senjaku masih berwarna, meski sesekali berpendar kelabu kehitaman.
Aku menikmatinya. Seperti kali ini saat bersendiri menyusuri setapak jalan dan pematang. Waktu yang berlalu tlah menempa dinding hatiku untuk tetap tegak, meski palu dan godam setiap saat menempanya, mencoba merobohkan segala asa dan ketegarannya.
Meski terkadang tak mampu kusimpan tangis, tetapi selalu saja tetes embun menyejukkan perasaanku.

Aku akan terus melangkah, hingga kujelang saat malamku. Saat dimana aku tertidur, menyongsong keheningan waktu. Saatnya berdamai dengan segala hiruk pikuk kehidupan dunia di saat terang.

Semoga bukan gelap yang menemaniku, karena warna warni kan menghangatkan hari dan hati sepiku.
---000---



special thanks for my " hunnybunnybuddy"

atas uluran kukuh lenganmu, membantuku tegak berdiri




---000---