Minggu, 07 Desember 2014

Kopdar ala Mak: Pertemuan Rutin yang Penuh Ilmu

Hari ini  Minggu 7 Desember 2014, sebagai warga dari komunitas Ibu Ibu Doyan Nulis, yang sesekali suka diplesetkan menjadi Ibu Ibu Doyan Narsis....kadang juga melenceng dari niat awalnya menjadi Ibu Ibu Doyan Ngeksis... kalau lagi pengin jalan-jalan menjadi Ibu ibu Doyan Ngebolang.... Kalau ditanya umur? Hahaha .... kepanjangannya berubah lagi menjadi Ibu Ibu Doyan Ngibul ....kalau lagi kumat jailnya dan pengin "ngeces" rame rame berubah kepanjangannya menjadi Ibu Ibu Doyan Nglotis ... lhoo?? Hehehe, suka suka saja bagaimana mengartikannya ....siang ini saya menghadiri Pertemuan Rutin yang "lebih istimewa" terasa. 

Betapa tidak, pertemuan kali ini diselenggarakan di rumah jeng Ita --begitu saya biasa menyapa nyonya rumah-- yang sejuk teduh dan adem. Meskipun cuaca dan suasana sangat mendukung, tetapi acara demi acara berlangsung dalam suasana yang sedikit panas.

Panas?

Iyaa... Hari ini dilaksanakan pemilihan Pengurus IIDN Korwil Jogjakarta yang baru. Setelah periode kepengurusan yang lama dibawah kendali dan komando jeng Astuti Rahayu, mulai hari ini tongkatnya berpindah ke tangan jeng Irfa Hudaya. Kami, para member yang hadir diberi secarik kertas kosong. Kita diminta untuk menuliskan satu nama yang dipandang bisa dan mampu untuk menduduki jabatan sebagai Pengurus IIDN Korwil Jogja.

Meskipun  pemilihan tersebut berlangsung dalam suasana yang "tegang" ...MC beberapa kali harus mengingatkan para hadirin untuk segera mengumpulkan nama yang sudah dipilih kedalam sebuah kotak, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Masing-masing dari kami sibuk bercengkerama sambil menikmati hidangan yang tersedia.

Oh iya....kebiasaan kami bila sedang berkumpul rame rame seperti ini adalah: masing-masing yang hadir akan membawa potluck untuk dinikmati bersama-sama. Nyonya rumah akan memberitahukan kesanggupannya untuk menyediakan nasi dan minuman misalnya....lalu kami-kami yang akan hadir juga memberitahukan "bawaannya". Misalnya si A akan membawa sayur oseng tempe, lalu si B akan membawa trancam, lalu si C mengajukan diri membawa bakwan jagung....begitu seterusnya.

Selain pemilihan pengurus baru, kopdar kali ini kita berbagi cerita "behind the scene" dari buku Pondok Mertua Indah. Seruuu.....Apalagi si nara sumber; jeng Nunung Nurlaela menjelaskan proses menulis buku tersebut sambil mengasuh si kecil. Hebat bukan? Sesekali penjelasannya diselingi dengan acara menyusui. Hehehehe ......dimana lagi ada pertemuan yang diwarnai dengan acara menyusui dan momong si kecil?








Sessi kedua, kami mendapatkan ilmu tentang food fotography. Nara sumber kami yang cantik ternyata tidak main-main dalam menyiapkan materinya. Selain materi dalam bentuk power point, jeng Vanny Mediana tak lupa membawa serta property pelengkap yang dipakai saat mengambil gambar suatu masakan.

Bayangkan......jeng Vanny rela "ngotong-otong" -- membawa pernak pernik yang tak pernah kami pikirkan sebelumnya.




Potongan karpet, styrofoam, aluminium foil lembaran yang ditempel di styrofoam, baki/nampan dari kayu dengan motif garis garis yang cantik dll.
Tak lupa, jeng Vanny juga menyelenggarakan kursus kilat bagaimana cara mengambil gambar masakan yang sudah di platting lengkap berikut prakteknya. Kalau kita kursus di luaran, berapa duit tuuh? Hahahaha .....
Mau liat bagaimana serunya kami belajar memotret masakan dan segala pernak perniknya? Foto-foto berikut mungkin bisa bercerita lebih jelas.





















Selesai makan siang, kami masih membahas beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan pada hari Senin 8 Desember 2014. Tidak banyak yang dibicarakan, kami hanya memastikan sampai seberapa jauh persiapan yang sudah dilakukan sekaligus checking terakhir.


Tapi dasar emak-emak, sepenting apapun persoalan yang dibahas, ujung-ujungnya tetap saja......."ngguyu ngakak". Hehehehe. Seruuuu pokoknya.

Selesai acara, seperti biasa nyonya rumah akan menyediakan kantung plastik untuk kami. Dengan wajah penuh senyum, nyonya rumah mempersilahkan kami untuk membawa hidangan yang masih tersedia. Tahu artinya "kirmah" kan? Emak emak yang "mikirke ngomah" ....Hahahaha.












foto-foto koleksi IIDN Korwil Jogja.


Hujan mengiringi kami pamit dan menuju rumah masing-masing. Siapkan tenaga untuk kegiatan esok hari. 


=====%%%%%%%%=====

Rabu, 03 Desember 2014

Cara Mudah Memperpanjang STNK ala Jogja

Siapa yang tak kenal STNK?

Yaa, Surat Tanda Nomor Kendaraan. Surat inilah yang selalu kita tanyakan kepada anggota keluarga yang hendak bepergian menggunakan sepeda motor atau pun mobil. Kenapa demikian? Bagi kami, dan juga bagi keluarga-keluarga yang lain, STNK menjadi hal yang 'wajib' ditanyakan setiap hendak ke luar rumah. Bukan karena di minggu minggu ini Kepolisian sedang giat melakukan Operasi Zebra 2014, bukan pula karena takut kena tilang. Tetapi alasan utamanya adalah perasaan tenang selama berkendara.

Okee...saya tidak akan membahas tentang perasaan saat bepergian tetapi terlupa membawa STNK.


*********

Beberapa minggu yang lalu, di awal bulan Nopember anak sulung saya sudah mengingatkan untuk memperpanjang STNK sepeda motor kesayangannya. Secara kebetulan, tanggal kadaluwarsa masa berlaku STNK tersebut berbeda satu hari dengan ulang tahun ayahnya. Saya bilang: "iya nak. Nanti mama yang akan urus perpanjangannya".

Tapi apa lacur? Karena kesibukan dan jeda yang terlalu jauh antara telepon dan tanggal kadaluwarsa STNK....saya pun lupa. Bukan hanya sehari dua, tetapi bahkan hingga bulan berganti. Alamaakk..gimana ini?

Sementara dhenok, dengan perasaan menyesal memberitahukan bahwa ia tidak bisa pulang ke Jogja dalam waktu dekat. Pekerjaannya tidak memungkinkan untuk ditinggal-tinggal, sementara untuk mengirimkan KTPnya via ekspedisi ..... terus terang kami sedikit khawatir. Takut tidak sampai , takut hilang, malas bila harus mengurus KTP lagi bila hilang dan sebagainya. Bingung kan?

Mengingat STNK kendaraan itu atas nama dhenok, mau tidak mau saya harus menunggu KTP aslinya untuk memperpanjang. Khawatir dan was was tentu saja melanda saya setiap kali ke luar rumah mengendarai motor itu. Betapa tidak, STNK motor itu sudah kadaluwarsa.

Untunglah, sejak tanggal 28 Nopember 2014 yang lalu, Pemerintah Kota Yogyakarta menyelenggarakan event tahunan Pasar Malam Perayaan Sekaten. Bertempat di Alun Alun Utara, acara ini dihelat sebagai acara yang menyedot animo masyarakat untuk sarana hiburan murah meriah.

Dua buah tenda berukuran besar berdiri megah di sisi sebelah Selatan bagian Barat. Beberapa kantor dinas membuka stand di sana. Salah satunya adalah Samsat (Sistem Administrasi Satu Atap) milik Kepolisian.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Di suatu sore yang cerah --beberapa hari Jogja diguyur hujan setiap sore-- kami mengunjungi stand Samsat. Sebelumnya saya mampir di stand BPJS untuk menanyakan beberapa hal yang ingin kami ketahui.

Di stand Samsat kami mendapatkan brosur seperti ini.


1417669468528498943


Jujur, saya terkaget-kaget membaca brosur yang diberikan petugas bagian informasi di stand Samsat. Selama ini yang kami pahami adalah, setiap kali memproses perpanjangan STNK, kami membutuhkan KTP asli beserta BPKB, Notice Pajak tahun terakhir dan sebagainya. Kenapa kami tidak tahu yaa? Apakah karena kami yang "kurang piknik" -- istilah kami bila ketinggalan berita atau informasi -- atau karena pihak Samsat yang kurang mensosialisasi peraturan ini ke masyarakat? Entahlah, saya kurang mengerti dimana kesalahannya.

Akhirnya, tanpa menunggu dhenok mengirimkan KTPnya yang asli, kami berangkat ke Sekaten --demikian kami biasa menyebutnya-- untuk yang kedua kalinya.


Berbekal BPKB, Kartu Keluarga asli, STNK, Notice Pajak --semuanya dilengkapi dengan fotocopynya-- kami segera menuju ke stand Samsat tanpa berputar-putar dahulu. Tidak butuh waktu lama, sekitar 5 menit proses perpanjangan masa berlaku STNK kendaraan kami pun selesai. Ada denda yang harus kami bayar, tetapi itu tidak kami sesali. Kecerobohan kami lah penyebab timbulnya denda tersebut.

Nah ...selesai. Setelah mengulurkan STNK berikut BPKB dan Kartu Keluarga yg asli, petugas yang ramah itu menyelipkan selebaran (lagi) sebagai berikut:


1417670020923293026


Lega? Tentu saja. Kenapa harus menunggu-nunggu begitu lama bila proses perpanjangan itu hanya butuh beberapa menit saja? Apalagi, stand Samsat buka dari jam 17.00 - 20.30 setiap hari. Jadi, tanpa harus meninggalkan pekerjaan utama pun kita bisa melakukan perpanjangan STNK. Cukup membantu kan?


*******


Jadi, siapa bilang perpanjangan STNK itu ribet dan memakan waktu? Datang saja ke Sekaten di Alun Alun Utara Yogyakarta, temukan kemudahan prosesnya di sana.
(ini bukan iklan atau promosi -- buktikan sendiri)


Semoga bermanfaat.
Salam.



=====&&&&&&&&&&=====

Biarlah Foto-foto yang Berbicara

==Yang Tersisa dari Penyelenggaraan Kompasianival 2014==


Kopdar akbar yang bertajuk Kompasianival 2014 sudah beberapa waktu usai. Selama itu pula, bertebaran tulisan tentang penyelenggaraan pesta ini di Kompasiana. Tentu saja, tulisan tersebut berdasarkan sudut pandang dari masing-masing Kompasianer yang menuliskannya.

Saya sempat mengunjungi tulisan beberapa Kompasianer, terutama yang berada di ter - ter - ter dan terutama yang sempat nangkring di HeadLine Kompasiana. Karena keterbatasan waktu, tidak semua tulisan tentang penyelenggaraan Kompasianival 2014 saya kunjungi. Maaf banget.

Dari beberapa tulisan yang telah saya baca, ada satu yang membuat saya merasa sedih. Sebagai warga dari komunitas Desa Rangkat, yang kebetulan posisi boothnya bersebelahan dengan KoplakYoBand --berselang satu-- saya betul-betul merasa nyesek luar biasa.

Booth Desa Rangkat yang kereeenn abiis ..... muji karya komunitas sendiri boleh doong .... dengan backdropwarna warni berisi informasi kegiatan Desa Rangkat sejak berdiri hingga berusia 4 tahun, juga foto-foto Kades dari periode pertama hingga periode ke-lima. Juga maskot Rangkat yang super duper pinky - Pongky si Pocong Pingky - keriuhan booth yang tak pernah henti karena selalu ada gelak tawa dan canda juga pelukan kerinduan dari masing-masing warganya yang datang, tumpeng nasi kuning yang nangkring di meja display bersebelahan dengan buku-buku yang pernah dihasilkan oleh komunitas Desa Rangkat, Duta Rangkat yang memakai selempang biru dengan senyum manisnya .... semuanya terlalu sayang bila dilewatkan.

Saya tidak ingin membahas tulisan yang membuat saya nyesek luar biasa. Saya hanya ingin membagikan foto-foto tentang booth Desa Rangkat, kemeriahannya, kasih sayang yang terpancar dari masing-masing warganya, dan cinta luar biasa yang bisa kami berikan kepada sesama warga.

14172538892133065801
booth Desa Rangkat
141725393659195185
Narsis dan narsis di setiap kesempatan
1417253985309659535
booth Desa Rangkat pagi hari...sebelum riuh oleh warga DeaR yang hadir
1417254069201839700
banner kegiatan dan Riwayat Desa Rangkat
14172542161539959931
serius membahas perkembangan Desa Rangkat
14172542592057347752
mantan Kades sedang in action -- melayani wawancara dengan wartawan Kompas.com
14172543131333169653
makan dan narsis .... tak pernah terlewatkan setiap kali warga DeaR ngumpul...dimana pun
14172544191432389143
Duta Rangkat
141725448279544454
Sekdes Rangkat periode 2014 - 2015 bersama maskot Rangkat
14172545211714163886
penasaran dengan tali si pocong
14172545671812309317
narsis dan narsis ...everywhere
14172546231038689968
kamera itu wajib .....
1417254653773984647
tak bisa menghindari
14172547101955571352
maskot Rangkat .... cantik yaa?
141725475624231245
tak terpisahkan ... ngeriung dan ngerumpi
1417254816575745743
makan duluuu
14172548471421020696
lokasi
1417254908513074366
Sekdes Rangkat, disela kesibukannya masih sempat narsis
14172549481021680107
speechless
14172549791090670583
tawaran menulis biografi dari pak dokter
14172550231670923747
tumpeng ulang tahun Desa Rangkat
14172550751399153427
pose yang maniiiissss
14172551051273638779
maskot Rangkat selalu jadi rebutan
Dengan begitu, saya tak perlu merasa sedih berkepanjangan. Kalau pun ada yang mengatakan bahwa booth Desa Rangkat tidak terlihat, biarlah foto-foto berikut ini yang menerangkannya dengan lebih jelas dan gamblang.

Tidak, saya tidak marah dengan kenyataan ini. Kenyataan bahwa Desa Rangkat tidak seterkenal komunitas lain yang membuka booth di Kompasianival 2014.

Sampai ketemu lagi di Kompasianival 2015 yaaa....jangan lupa berkunjung ke desa kami. Desa Rangkat. Desa yang berhiaskan Diskusi Elok aSah-Asih-asuh meRANGkai KATa.



=====%%%%%%%=====

note: foto-foto koleksi komunitas Desa Rangkat

Selasa, 16 September 2014

Pengin Nangis Sesiangan? Yuuuukkk .....

Musim kemarau seperti ini, harga bawang merah di pasaran “terjun bebas”. Bila biasanya harganya berkisar antara Rp19.000,- sampai Rp 22.000,-  tapi kali ini harganya berada di kisaran Rp 12.000,-sampai dengan Rp 15.000,-. Itu untuk harga bawang merah yang berukuran besar. Kalau yang lebih kecil, harganya tentu lebih murah lagi. Iklim yang mendukung menyebabkan ketersediaan bawang merah melimpah di pasaran.



1410770646493974207

Sebagai penggemar bawang merah goreng, kesempatan ini tak saya sia-siakan. Apalagi, kakangbojo juga menggemari bawang merah goreng yang gurih buatan saya. Hayyaaahhh…..namanya juga hasil masakan istri.


Duluuu, saya suka membeli bawang merah goreng di warung. Alasannya tentu saja kepraktisan. Tapiii, ternyata bawang merah kemasan yang kita beli aromanya tak sesedap bila kita menggorengnya sendiri. Dengan alasan itulah makanya saya rela “menangis sesiangan”. Hehehehe……

Tentu saja tidak demikian. Ada beberapa kiat yang bisa kita praktekkan bila kita ingin menggoreng bawang merah yang gurih tanpa harus ‘tersiksa’ dengan air mata yang terus menetes selama mengiris bawang.

Mula-mula siapkan baskom berisi air setengahnya. Kupas bawang merah lalu langsung masukkan ke dalam baskom tersebut. Lakukan hingga bawang merah habis dikupas.

1410770842326849686

Cuci bersih bawang merah kupas, lalu rendam kedalam air es/air dingin yang sudah dibubuhi garam. Diamkan kira-kira 15 menit.

14107709651273677925

Iris halus bawang merah yang sudah direndam tadi.

14107710601722109421

Taburkan garam halus ke atas irisan bawang merah, aduk rata. Diamkan sebentar.Biasanya irisan tersebut akan sedikit berair sesudahnya.

menunggu garam meresap, kita panaskan minyak goreng secukupnya. Goreng irisan bawang merah, jangan lupa diaduk-aduk agar tidak gosong. Bila bawang merah sudah kelihatan sedikit menguning, segera angkat. Siramkan minyak bekas menggoreng tadi - yang masih panas tentunya - beberapa kali hingga bawang goreng menjadi kuning kecoklatan.

Segera tuang ke dalam wadah, jangan taruh bawang goreng di atas serok panas. Hal itu akan menyebabkan bawang gorengnya menjadi kecoklatan.

1410771277770690740

Tunggu hingga dingin, lalu simpan dalam wadah bertutup rapat.


Naah, selesai sudah. Nikmat disantap dengan nasi hangat, sambel tomat, dan kerupuk. Ingat waktu jaman susah dulu? Saya nggak bertanggung jawab lhoo….

Selamat mencoba.



=====&&&&&&&&=====

Kamis, 15 Mei 2014

Jalan-Jalan ala Mak: Segarnya Air Umbul Cokro

Liburan Hari Raya Waisak 2558 yang jatuh pada hari Kamis kemarin, membuat galau......halaah, istilahnya ini.. Bagaimana tidak? Mau pergi ke luar kota yang agak jauhan dikit, nggak bisa karena hari Jumat bukan hari libur. Sementara bila bepergian ke obyek wisata yang agak dekat dan terjangkau dalam waktu 1 (satu) hari ....kita kebingungan sendiri. Bingung kan??
Sebagian besar sudah pernah mengunjunginya.......hehehehehe. Ini menggayaa beneran.....nggayaaaa....


Yaahh, mumpung kakang bojo sedang "longgar atine" dan mengajak kami sekeluarga pergi melancong....jiaah.... maka hari itu kami memutuskan untuk pergi berenang dan dilanjut makan-makan. Peduli amat berat badan naik drastis, yang penting pergi rame-rame dan senang-senang.

Kami segera bersiap, setelah menghabiskan makan pagi yang ala kadarnya, kami meluncur ke daerah Prambanan untuk menjemput beberapa keponakan yang unyu-unyu. Tak makan waktu lama, kami segera menuju ke daerah Polanharjo Klaten tepatnya di daerah Cokrotulung. Jangan membayangkan kami menuju ke kolam renang mewah ala hotel berbintang...... Terus terang, kami tak begitu suka. Kami lebih memilih mengunjungi pemandian yang asri, sejuk, dan menantang. Kok bisa? Tentu saja. 

Niii......foto-fotonyaa.....






Dikelilingi oleh pepohonan besar dan rindang, pemandian ini menawarkan sensasi berenang yang susah untuk dilupakan begitu saja. Oooohh yaaa? Apa coba buktinya??



Tentu saja. Ada trik khusus bagi siapa saja yang berencana untuk berenang di pemandian ini. Apa itu?
Menurut orang-orang sekitar yang terbiasa mandi (berenang) di pemandian itu, kita harus membenamkan sekujur tubuh hingga kepala ke dalam air. Kenapa memangnya? Iiihh, banyak nanya deeh...hehehehehe
Mereka percaya, dengan cara demikian kita tak akan kedinginan selama berenang di air mengalir yang sejuk dan segar ini. Segar? Huaahh......bagi saya siiihh, membekukan. Bagai air dari kulkas disiramkan ke tubuh yang kepanasan.


Bagi anak-anak, disediakan kolam khusus yang kedalamannya tak lebih dari 1.5 meter dan ketinggian air tak lebih dari 75cm --lebih kurang--.... Tentu saja, ini untuk mencegah agar anak-anak tidak tenggelam karena belum mahir berenang. Tetapi jangan khawatir, karena beberapa penduduk sekitar yang berjualan membuka warung gorengan, menyewakan tikar, menyediakan beberapa minuman ringan dan snack, juga sekaligus menyediakan ban bekas yang bisa digunakan sebagai pelampung.....





 Tak hanya anak-anak kecil, beberapa orang dewasa pun tak sungkan menyewa ban tersebut untuk berenang....eeh mandi. Jangan membayangkan mereka menggunakan pakaian renang yang modis dan seksi, memakai celana pendek dan kaus sehari-hari pun oke jugaa...


 ~~~~~ooOOOoo~~~~~

 Berhubung kami berkunjung pada hari libur, kami dihibur oleh pertunjukan live music. Sebuah panggung permanen didirikan di salah satu sudut pemandian, siang itu kebetulan mereka menyuguhkan musik dangdut. Musik yang kata sebagian orang dianggap sebagai musik kampungan. Aaahh, peduli amat dengan anggapan itu.

Buktinya? Beberapa anak-anak dan remaja asyik bergoyang mengikuti irama lagu dangdut yang menghentak. Bahkan ada pasukan joget yang memakai kaus seragam berwarna hitam yang asyik menggoyang-goyangkan tubuhnya. Ulah mereka menyebabkan beberapa pengunjung agak kesulitan untuk berlalu lalang.





Uniknya lagi, beberapa pengunjung dengan santainya duduk di bawah panggung pertunjukan....hahahahaha


Pokoknya seruuu deeh, nggak bisa berkata-kata lagi. Buktikan sendiri bila kebetulan sedang berkunjung ke Klaten, Jogja atau pun Solo.....sempatkan deh berkunjung ke sini....



Menjelang makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke kawasan Janti, dimana terdapat banyak sekali tempat pemancingan, tetapi bukan untuk memancing hehehehehe....

Di kawasan ini, mata pencaharian penduduk adalah memelihara ikan. Ketersediaan air yang melimpah dimanfaatkan benar-benar. Beberapa diantaranya sengaja membuka warung makan untuk melayani para pengunjung.
Sambil menunggu makan siang disiapkan, kami menghabiskan waktu dengan memancing di kolam yang terletak di belakang rumah. Seandainya kita berhasil mendapatkan ikan, kita dpersilahkan untuk memilih: membawa ikan itu pulang dalam keadaan hidup, dibawa pulang dalam keadaan matang (dimasak di tempat) atau dikembalikan ke kolam......dengan catatan masih hidup..... Enak kan?








Naaaahhh, berenang sudah, perut kembali kenyang juga sudah.......akhirnya kami memutuskan untuk pulang.

Ketemu lagi di cerita jalan-jalan selanjutnya yaaahhh.....


=====%%%%%%%%%%=====