Sabtu, 28 Januari 2012

Menghitung Bintang

Badrun dan Heru asyik berdebat di gardu ronda. Entah apa yang diributkan. Berisik sekali.
Mereka tak menyadari bila Bondan, bocah kecilku sedang bermain di dekatnya.
“ aku tahu jumlah bintang di langit ...” sombong Heru. Tangannya asyik menunjuk ke atas.
“ emang pernah ngitung ?? ga percaya ...” sahut Badrun.
“ eits, dengar dulu. Jumlah bintang di langit sama dengan jumlah bulu kucing “ panjang lebar jawaban Heru.
Diam diam Bondan berlari pulang ke rumah.

......

“ ayah, ayaahh ..” seru Bondan, terengah engah mendekatiku.
“ ada apa nak ? “
“ ayah liat si gembul nggak ? “
Aku menggeleng. Bondan pun ngeloyor ke dapur.

.....

Dari arah dapur terdengar si gembul mengeong kesakitan. Bocah kecilku sedang mencabuti bulunya sambil komat kamit.
“ aku juga mau menghitung bintang ! “

---000---

Terlambat

Tergesa gesa Ryan berlari menaiki tangga ke puncak gedung bertingkat itu. Di atas sana nampak Nindi sedang berdiri di ujung balkon, sedang menangis sesenggukan. Rambutnya berantakan, bajunya awut awutan, sementara wajahnya pucat pias tanpa riasan.
Ryan mendekat sambil mengulurkan tangannya. Langkahnya terhenti saat dilihatnya Nindi bergeser menjauh darinya. Dia takut bila Nindi benar benar melakukan ancaman yang tadi dia kirimkan melalui sms.
“ ayolah Nindi. Jangan lakukan itu...please....” sambil melangkah mendekat, Ryan membujuk Nindi.
“ tinggalkan aku sendiri. Aku muak dengan janji palsumu.....pergiiiii...pergiiii “ Nindi makin histeris.
“ oke ..okee... aku pergi. jangan salahkan aku bila nanti aku tak peduli lagi denganmu.....” Ryan meninggalkan Nindi sendirian, pura pura tak peduli.
........

Rupanya gertakan Ryan berpengaruh juga. Nindi mulai menghentikan tangisnya. Dengan bingung dipandanginya jalan beraspal nun jauh di bawah sana, lalu menoleh ke arah Ryan yang meninggalkannya sendirian. Ada ketakutan dalam sorot matanya. Sambil melangkah menjauh dari ujung balkon, Nindi memanggil Ryan.
“ tunggu Ryan..... tungguuu...”
Ryan menghentikan langkahnya. Menunggu. Sunyi sesaat.
“ aku ikut pulang.. yaaa... “ rintih Nindi. Ada keputus asaan dalam nada suaranya.
Ryan pun mendekat. Diulurkannya tangannya, dan Nindi menghambur kedalam pelukannya.
Mereka berjalan bersisian menuju tangga. Sesekali Ryan tersenyum, merasa bangga bisa menggagalkan niat buruk Nindi. Merasa telah berhasil, dia melepaskan pegangan tangannya.
Nindi tersenyum penuh arti. Dia berdiri merentangkan tangannya, kedua kaki tegak.
“ maka disinilah aku sendiri sekarang menatap cakrawala, dan menitipkan sebuah doa yang penuh harapan untuk hari esok “ teriaknya lantang. Bahkan tawanya terdengar sangat lepas, tanpa beban.

Sebelum Ryan menyadari tingkah Nindi yang berubah menjadi sangat aneh, tiba tiba gadis itu berlari, dan melompat.

Tubuhnya melayang ke aspal jalanan di bawah sana, diiringi teriakan histeris Ryan.


---000---

Lelaki dan Ujung Perempatan

Setiap pulang ke rumah, Ariana mendapati laki laki itu berdiri tegap di ujung perempatan. Tak peduli hujan, tak peduli angin. Selalu begitu selama berminggu minggu, bahkan hingga tahun berlalu. Ariana tak pernah mengacuhkannya, rasa herannya disimpannya dalam hati. Hingga kecelakaan itu merenggut kebersamaan mereka.
......
Kali ini Ariana tegak berdiri di hadapan lelaki itu. Dia berdiri tegap dengan sikap sempurna. Begitu juga Ariana. Sampai senja menghilang dan mbok Nah membimbingnya pulang ke rumah.
“ ayoo Arin, kita pulang. Besok kita ketemu lagi dengan dia yaa .... “ bujuk mbok Nah selalu. Ariana menurut.
.......
Tangis Ariana pecah ketika lelaki itu tak lagi ada di sana. Mbok Nah tak bisa membujuk gadis itu untuk diam.
Buldozer semalam telah menghancurkan patung lelaki tegap itu. Sementara amnesia Ariana, menghalangi penalarannya. Sungguh, mbok Nah tak bisa apa apa.
13268600651626356798

Surat Wasiat

Arina mengatupkan matanya. Sunyi memaku sekeliling, menghadirkan kebisuan yang memerihkan hati. Hary telah pergi meninggalkannya seminggu yang lalu. Rasanya masih tak percaya dia pergi secepat itu, menghancurkan angan angannya menjadi berkeping.
" Aah mas, aku belum sempat katakan berita gembira ini padamu. Kenapa terlalu cepat kau tinggalkan aku ? "  rintihnya pilu. Arin merasa hidupnya tak berarti lagi. Dia merasa tak sanggup menghadapi hari esok tanpa Hary.
---000---
Dua hari yang lalu Arin diam diam pergi ke dokter kandungan. Haidnya sudah telat dua minggu, dan untuk lebih meyakinkan diri iapun pergi ke laboratorium. Setelah membaca hasil test yang diserahkannya, dokter Nisa tersenyum. Tangannya menjabat tangan Arin erat erat.
“ selamat ya Arin, sebentar lagi kau akan menjadi seorang ibu “ katanya sumringah.
Arina melongo. Tak menyangka bila dia sedang mengandung. Selama ini dia mengira bila sedang masuk angin ataupun maagnya kambuh. Airmata menggenang di pelupuk matanya, bahagia rasanya.
“ eh, kok malah nangis ? ini berita gembira....ayolaaah Arin “ dokter Nisa menepuk punggung tangannya, menenangkan kekagetan Arina.
“ terima kasih dokter. Aku sangat gembira sampai nangis begini “ sahut Arina, tangannya menghapus air matanya dengan tissue.
“ baiklah. Obat ini buat kesehatan calon bayimu. Yang ini diminum sehari tiga kali, yang ini dua kali. Trus kapsul yang warna hijau ini, vitamin untukmu. Diminum tiap mau tidur ya...”
“ jangan sungkan untuk hubungi saya bila ada sesuatu dengan kandunganmu “ kata dokter Nisa lagi.
Arina mengangguk. Disalaminya dokter Nisa.

---000---

Belum sempat Arin mengatakan berita gembira ini pada Hary, dirinya dikejutkan oleh panggilan telepon dari nomor hpnya.
“ mas Hary.... hallooo ...” teriak Arin gembira.
“ maaf bu, apakah anda mengenal pemilik nomor telepon ini ? “ sebuah suara yang asing menyapanya.

“ be...benar. itu milik mas Hary. Ada apa ya ? “
“ kenapa dengan mas Hary ?? “ panik Arina bertanya, airmatanya mulai bercucuran.
“ saya Kapten Indarto bu. sebaiknya ibu ke Rumah Sakit Yayasan Bunda, akan kami jelaskan sesampai ibu di sana “.
Tangis Arina pun pecah di ruang IRD Rumah Sakit. Hary ditemukan telah meninggal dunia di pinggir trotoar depan Kantor Polisi dimana Kapten Indarto bertugas. Tak ada satupun tanda pengenal di temukan di tubuhnya, hanya handphone yang ada di saku celananya.
Kapten Indarto mendapati nomor Arina lah yang paling sering dihubungi oleh Hary.
Pengacara Hary segera datang ke rumah sakit. Rupanya Kapten Indarto berteman baik dengan Gunawan, dan kebetulan dia menjadi penasehat hukum Hary sejak setahun terakhir.
Dialah yang mengurus semuanya hingga selesai. Biaya rumah sakit, ambulans, pemakaman dan segala keperluan meninggalnya Hary. Arina hanya menurut saja apa kata pengacara itu. Pikirannya buntu, lidahnya kelu. Hanya air matanya yang tak berhenti mengalir,  menyiratkan kesedihan hatinya.

---000---

Kemarin Gunawan menghubunginya. Menurut jadwal, hari ini pembacaan Surat Wasiat Hary yang telah ditulisnya sebulan yang lalu.
Arina mengenakan blus hitam berenda batik warna coklat dan  celana panjang hitam. Wajahnya pucat pias tanpa riasan sama sekali. Ada kantung mata di bawah kelopak matanya, sementara rambutnya hanya diikatnya ke belakang, tanpa disisir lebih dahulu.
“ bu Arina, kau sudah siap ? “ Gunawan menyentuh tangannya.
Arina mengangguk. Tatapan matanya masih saja kosong.
Gunawan mengulurkan sepucuk amplop coklat tebal. Di dalamnya terdapat bermacam macam hasil test laboratorium yang belum pernah dilihat Arina sebelumnya.
Sambil meneliti satu persatu dokumen itu, Arina tak henti hentinya menangis.
“ ternyata mas Hary selama ini sakit keras. Kenapa dia tak pernah sekalipun membicarakannya denganku ? “ tanya Arina. Batinnya teriris pilu.
“ pak Hary mewanti wanti saya untuk tidak memberitahukannya kepada ibu. Dan sekarang, beliau sudah meninggal. Saya berkewajiban menyerahkan semua berkas milik pak Hary kepada ibu. Ini sesuai permintaan beliau sepuluh hari yang lalu “ panjang lebar penjelasan Gunawan.
Arina makin tergugu. Disesalinya semua prasangka buruk di minggu minggu terakhir sebelum mas Hary meninggal. Ia belum sempat meminta maaf.

“ ibu tanda tangan bukti penyerahan di sini. ... silahkan “ Gunawan menyodorkan form tanda terima, dan menyimpannya kembali setelah Arina membubuhkan tanda tangannya.
“ berapa saya harus membayar.....” tanya Arina terhenti. Gunawan tersenyum sambil menyahut pertanyaan tak selesai itu.
“ semuanya sudah diselesaikan pak Hary bu. Ibu tak usah khawatir...”
“ nah, ini sudah selesai. Saya pamit bu. Semoga ibu tabah ya....” Gunawan menyalaminya dan segera berlalu.
Tinggallah Arina sendirian di ruang tamu. Beberapa dokumen dan test laboratorium dibolak baliknya. Tetapi ada satu amplop putih yang menarik minatnya.
Dibukanya perlahan. Selembar surat keterangan dari sebuah Rumah Sakit X menyembul keluar. Tak sabar Arina membaca kalimat demi kalimat yang tertulis di sana. Seketika Arina menjerit. Iapun pingsan.

---000---


Surat Keterangan itu berisikan riwayat penyakit yang diderita Hary selama ini. Dia terinveksi virus HIV AIDS, dan Arina terlambat mengetahuinya.
Tetapi Arina tak hendak menampik karuniaNya yang bersemayam di rahimnya. Dikuatkannya hatinya, dimantapkannya tekadnya. “ Maka disinilah aku sendiri sekarang menatap cakrawala, dan menitipkan sebuah doa yang penuh harapan untuk hari esok “ bisiknya, seolah kepada angin.



---000---

Menarilah Bersama Angin

Jajaran bunga bunga tebu melenggok seirama
Tarian kelepak bebungaan padang perdu
Ditingkah gemulai lambai ilalang
Dalam tiupan bayu, mengoyak siang
……
Daun menguning yang luruh
Berhumbalang meniti kesiur angin
Cemara pun terayun
Sisihkan kelepak sayap burung kecil
Bersendiri di sudut dahan
Dalam sarang rapuh terayun, kencang
……
Tangisan alam yang terluka
Dan sapa mentari panaskan duka
Butir butir debu halangi sejauh pandang
Tak ada rinai hujan
Cawan mendung bak payung berjelaga
…….
Jalanan tak lagi ramah buat pengendara
Segala butir lembut berhambur
Bagai tabir, mengoyak pedih retina
Saat badai, meski tangis langit tak menjamah gerah
……

Bumi membara, seolah mentari
Hanya sedepa di ubun ubun
Mendidihkan benak mengacaukan isak
Itu karena kita tak berarti apa apa
…….
Jangan melawan angin
Menarilah bersamanya, seirama
Agar tak terhuyung bagai tak menjejak bumi

Salahkah Aku ? (Asmara Usia Senja)


Susah payah kucoba enyahkan bayanganmu dari hatiku. Sejak kutuliskan kata pamit itu untukmu.Aku mencoba lari menjauh, mencoba melupakanmu, dan menghapuskan segala kenangan indah yang terjadi di antara kita.
Tidak. Aku mengeluh dalam diam. Seberapa besar usahaku untuk melupakanmu, tetapi sebesar itu pula bayang wajahmu ada di benakku. Selalu saja hanya kau, kau dan kau. Tak ada lagi yang lain.
Salahkah aku ? aku yang mulai mencintaimu, aku yang mulai menyayangimu, aku yang mulai menghadirkan dirimu dalam kehidupanku. Dulu aku tak pernah percaya pada kata teman temanku. Dulu aku tak pernah mengerti mengapa ada cinta di usia senja. Dulu aku tak pernah memahami kenapa orang bisa jatuh cinta lagi.
Tetapi sekarang ? aku mengalaminya sendiri. Aku mencintaimu, meski sekuat tenaga kucoba enyahkan perasaan itu. Tetapi aku tak pernah sanggup. Aku tak pernah bisa mengusir perasaan itu dari hatiku. Aku menyayangimu. Setiap saat yang kupikirkan hanya dirimu. Meskipun aku tahu, kau tak pernah menganggapku istimewa. Aku hanyalah teman masa lalumu. Aku hanyalah teman kesepianmu. Aku hanyalah teman kesunyianmu. Tak apa. Aku mengerti.
Kita memang orang orang masa lalu. Masa indah yang terlewatkan oleh waktu. Kita pernah berjumpa, bersama meski tak saling sapa. Disatukan oleh keadaan, tetapi dipisahkan pula oleh kesempatan.
Kau menjauh, makin tak terjangkau. Sementara aku ? aku masih saja di sini, di kota ini. Bercumbu dengan jalanan basah. Berkutat dengan asap knalpot dan bisingnya perempatan setiap siang. Berebut tempat dengan para penglajo tiap pagi, sementara sore hari mengulangi hal yang sama setiap hari.
Hingga hari itu. Tak sengaja kita bertemu kembali setelah tahun tahun berlalu. Tak sengaja kita saling menyapa saat prahara itu melanda. Tak sengaja kita saling menguatkan saat duka dan pilu itu mengemuka. Sungguh teduh. Kata katamu bagai air pegunungan yang menyejukkan hati. Nasehatmu bagai seorang sufi yang berkelana berpeluk sunyi.
Jadilah. Hari hari kita lewati dengan sapa dan canda. Jauhnya jarak tak pernah menjadi halangan untuk saling berkirim cerita di tengah kesibukan yang hampir tak pernah ada matinya. Kita makin dekat, makin terbuka, dan tirai yang mengantarai itupun terkoyak sudah.
---000---
Kini aku memutuskan untuk menjauh darimu. Sekuat tenaga kuhapuskan segala kenangan tentangmu dari hidupku. Meski bersamamu menjadi sebuah cerita yang tak pernah usai. Tetapi kita telah melangkah pada jalan yang tak berujung. Di sinilah aku. Di penghujung jalan yang kuciptakan sendiri. Di persimpangan yang kubuat ada, meski sebenarnya tak pernah terlihat.
Kubiarkan segala pengharapan dan duka cita mewarnai hari hariku. Kubiarkan segala anganku mengembara dalam luasnya impian. Semuanya menjadi bayang bayang kelabu, yang membuatku terus saja menangis tiap kali mengingatmu.
Engkau terlalu baik, terlalu agung, terlalu terhormat untuk menjadi bagian hidupku. Aku tak ingin menjadikanmu bagian dari hatiku seperti halnya dulu kita pernah berjanji untuk tidak merubah apapun yang telah mapan di keseharian kita. Benarkah ? Benarkah kita tak pernah menginginkan untuk merubah segala keteraturan yang menjadi bagian hidup kita sehari hari ? Jujur, terkadang aku mengangankan andai saja kita punya sedikit lagi keberanian untuk menggantikan segala yang telah ada dengan hal hal baru.  Tetapi selalu saja ada ketakutan yang melingkupi hari hari kita. Masih pantaskah kita melakukannya sekarang ? Kita tak berani menghadapi apa kata orang di sekitar kita. Kitapun terlalu takut untuk menengadah, menghadang segala komentar miring dan segala cemooh yang akan kita terima seandainya kita mewujudkan apa angan angan kita.
Tetapi kita tak pernah berani ambil resiko yang sebegitu besarnya, hanya karena ingin membahagiakan diri kita masing masing. Ada banyak orang di sekitar kita yang akan  terluka. Ada banyak hal di lingkungan kita yang harus diubah. Dan yang paling membuat haru biru, kita tak ingin beradaptasi dengan hal hal baru, yang tak pernah kita tahu bagaimana dan seperti apa nantinya. Buat apa kita berandai andai, buat apa kita berangan angan yang tak tentu arah, buat apa kita menginginkan segala hal yang sebenarnya kita sudah memilikinya ?
Susah payah aku mencoba untuk tidak mengingatmu, meskipun jauh di dalam lubuk hatiku ada perasaan perih yang mengiris. Aku menangisinya dalam diam, dalam kelamnya perasaan hati yang sakit dan pedih. Meskipun aku tahu ini yang terbaik, tetapi sisi hatiku yang lain tetap saja merasa ada kekosongan yang tak bisa tergantikan bahkan dengan musik sekeras apapun, dengan pekerjaan sesibuk apapun ataupun segala perintang waktu yang lain. Selalu saja ada saat dimana aku merasa sangat kehilangan, seberapapun usahaku untuk segera bisa melupakanmu, mengenyahkan bayanganmu dari hari hariku yang kian sunyi.
Meski kuakui, dalam kondisi begini aku malah lebih produktif untuk menulis. Entah sudah berapa judul puisi dan prosa karyaku yang tercipta. Beberapa judul malahan sudah ku expose ke suatu komunitas, dengan mendapatkan apresiasi dari anggotanya. Aku tak pernah menyangka bila ungkapan hatiku, tangisan jiwaku dalam puisi begitu menarik perhatian mereka dan mendapatkan komentar yang makin membuatku semangat untuk terus menulis.
Aku memang berharap segera bisa menyalurkan kesedihanku, tangis jiwaku dan perasaan kehilanganku kepada hal hal yang positif buatku, mungkin juga buat orang lain di luaran sana. Selama ini aku selalu menyimpan segala duka nestapa dan galau jiwa dalam relung hati.  Aku selalu punya sejuta alasan dan logika yang pas bila ada yang menanyakan beberapa kata atau kalimat yang kutuliskan.  Kegemaranku menulis puisi, membaca, mendengarkan musik, menjadi tirai dan alasan yang tak pernah terbantahkan. Bagaimana tidak, karena aku selalu menuliskan potongan syair lagu yang kebetulan kudengarkan, di sebuah media penulisan. Meskipun ada beratus ratus syair lagu, berjuta bahkan, tetapi aku lebih suka menuliskan yang berkaitan dengan hatiku saat itu. Aku akan dengan mudah menjawab apabila ada yang menanyakan apa arti tulisan itu bagiku. Bukankah ini suatu kebetulan dan kamuflase yang sempurna untuk menutupi keadaan hatiku ?
Saat sedang sendiri, terkadang aku tersadar bila apa yang kulakukan, tepatnya yang kita lakukan adalah sebuah kesalahan besar yang tak termaafkan. Benarkah ? Dilihat dari kacamata logika manapun tak akan pernah ada yang membenarkan tindakan ini. Tetapi dapatkah kita menolak perasaan yang muncul ini dari hati kita masing masing ? Dapatkah kita menolak kehendakNya yang terjadi pada kita saat ini ? Sulit sekali mencari jawaban atas pertanyaan ini. Dengan segala konsekuensi yang akan timbul, dengan segala resiko yang akan dihadapi, dan segala ketidak nyamanan yang akan kita hadapi di masa mendatang. Sanggupkah kita menghadapinya berdua ? Mampukah kita, saling bergandeng tangan dan memantapkan hati untuk melalui segala kesemrawutan yang terhampar di hadapan kita ?
Tak pernah kita berani saling bertanya mengajuk hati, apa sebenarnya yang menjadi damba dalam penghujung usia kita sekarang ini ? Kebersamaan dalam rentang waktu yang lama telah mengikis perasaan deg degan dan gemetaran yang dahulu menjadi penghias saat saat berdua. Masihkah kita memilikinya sekarang ? Masihkah getar getar itu mewarnai kedekatan dan kebersamaan kita bila sedang berdua ? Kita tak pernah berani, kita terlalu takut bila mendapati jawaban dari pertanyaan itu yang membuat kita jengah karenanya. Kenapa ? Terkadang kita bahkan tak dapat menemukan kata yang tepat untuk ungkapkan apa perasaan kita, apa yang sedang terpikirkan dalam hati kita.
Meski kalau kita mau untuk jujur pada perasaan kita sendiri, kita sedang menganyam angan angan yang membuat kita panas dingin dan demam. Terkadang pula membuat kita seperti kehilangan akal dengan sering sering menengok hp meskipun tak ada satupun sms yang masuk ataupun nada dering yang terdengar. Terlebih lagi bila kita sedang menunggu balasan pesan yang terkirim, jam jam yang berlalu serasa sangat lama, membuat gelisah, resah, bolak balik yang membuat gundah.

Kini aku mengerti, aku menjadi benar benar memahami ungkapan bila cinta tak harus memiliki yang pernah kau ucapkan dulu, duluuu sekali itu ada benarnya juga. Saat pertama dulu, hal itu yang muncul dalam perbincangan kita. Waktu itu aku tak begitu hirau dengan pernyataan itu. Kupikir kau sedang ngegombal, hal yang biasa dilakukan seseorang yang sedang merayu ataupun mengajuk hati. Aku menyadarinya sekarang, aku sangat sangat mengerti kenapa waktu itu kau ungkapkan hal yang membuatku sedih dan terluka. apakah kau bisa membaca isi hatiku lewat sinar mataku ?
Yah, telah susah payah kucoba untuk menyingkirkan perasaan ingin memiliki itu. Tetapi toh perasaan bukan hitung hitungan matematika yang rumit bin ruwet itu. Perasaan bukanlah seperti sekotak kue bolu, yang bisa dibagi  rata sesuai kebutuhan. Perasaan selalu berhubungan dengan hati, dan kita sama sama tahu bila hati tak bisa dikotak kotakkan sesuai mau kita. Pernahkah kita merasa mampu membagi perasaan kita sama kepada satu orang dan orang lainnya ? Pernahkah kita merasa mampu memisahkan perasaan dan hati kita dengan logika kita selama memecahkan suatu persoalan ? Itulah yang selama ini melingkupi hatiku, meski tak ingin menampakkannya bila dihadapanmu. Bila kita tanyakan hal ini pada orang orang di luaran sana, ku tahu jawabannya kurang lebih sama dengan apa yang kita pikirkan sekarang.

Aku mengerti, kita selalu jalan bareng dan seiring. Tetapi sama halnya seperti rel kereta api, kita akan selalu bersama, berjalan bersisian sampai kemanapun kaki melangkah. Kita sadari bahwa tak pernah akan ada ujung yang mempertemukan kita. Namun, seperti halnya ujung kuku yang menghitam, yang selalu kita potong dan kita buang ke tempat sampah, seperti itulah perasaan kita. Sekeras apapun usaha kita untuk saling menjauh, tak saling berkhabar, tak saling bertegur sapa; tetap saja ada perasaan kehilangan, perasaan kosong yang melingkupi hari hari kita. Mungkin lebih tepatnya hari hariku, bukan kita. Aku tak begitu yakin dengan keseharianmu, karena selama ini tak banyak cerita yang bisa terungkap tentangmu.
Kau terlalu pendiam bila dibandingkan denganku yang cerewet dan jail.

---000---

Kini aku sendiri, menganyam senyum mentari yang tepat mengetuk pintu rumahku setiap pagi. Berandai andai seakan kau masih merenda asa bersamaku seperti halnya hari hari lalu. Aku masih menunggu, bersediakah kau memenuhi permintaanku terakhir dulu ?  Karena masih saja dapat kulihati kegiatanmu, perasaanmu, dan bahkan rutinitasmu. Kau benar benar hanya di dunia maya untukku. Ada, namun tiada. Dekat namun tak teraih.
Tetapi bukankah ini sebuah pilihan yang kuyakin benar adanya ? Sebuah keputusan yang terkadang masih membuatku limbung tak berdaya. Jujur, aku sama sekali tak menyangka bila reaksimu demikian datar dan kering. Garing, seperti kata anak anak muda sekarang. Benarkah ?  Benarkah tak bisa kau temukan sebaris kalimatpun untuk mengungkapkan apa yang ada di hatimu ? Benarkah  bila yang kutuliskan panjang lebar itu tak menerbitkan satu baitpun jawaban untukku ?
Ada apa dengan hatimu ? Ada apa dengan perasaanmu? Ada apa denganmu ? Rasanya serentetan tanya ini tak kan pernah menemukan jawab. Sama halnya dengan senyum mahalmu, sama halnya dengan kalem raut wajahmu. Sama halnya dengan sederet panjang agenda yang mesti kau penuhi  hari ke hari. Tak peduli hujan, tak peduli banjir, tak peduli macet bahkan tak peduli tubuh penat. Tetapi seperti katamu, semua adalah ekses dari sebuah pilihan. Mau tinggi menjulang, dengan penghasilan yang lebih dari cukup, selalu ada tanggung jawab mengekor di belakangnya. Atau sepertiku, yang tenggelam dalam kewajiban keseharian yang sangat menyita waktu, menghabiskan energi dan tenaga, tetapi dianggap paling beruntung karena tak perlu bersusah payah keluar rumah untuk mendapatkan semua kesenangan ini.
Yaaahh, orang akan memandangku sebagai perempuan paling beruntung. He, tapi bukankah mereka tak pernah tahu apa isi hatiku sesungguhnya ? Mereka tak pernah tahu apa sebenarnya yang kurasakan dalam melewatkan hari hari sepanjang minggu.
Layar warna warni menjadi tempat bercurah kini, dia yang diam, yang tak pernah menolak apapun yang kumau, yang menemaniku menghabiskan waktuku dalam senyap waktu. Hanya jemari, yang sesekali menari mengikuti nyanyian angin, mengembara melukiskan isi jiwa. Tetapi aku nikmati semua yang kupunya, bagaimanapun aku tak bisa menghindar dari pandangan masyarakat yang sering terlontar di luaran sana. Apa yang kucari sebenarnya ?
Sampai kapan ? Entah, aku sendiri tak mengerti. Tetapi aku tetap akan jalani hari hari, sendiri meski dalam sepi. Aku tak ingin perpisahan ini, menjadikanku beku dan terpenjara. Aku tetap harus melangkah, karena esok tak pernah kutahu, cerah ataupun hujan,mendung ataukah berawan.

Tetaplah disana, dengan keseharianmu. Aku akan disini, dalam sepi sibukku.





---000---