Sabtu, 03 Mei 2014

Itung Itungan ala Mak: Cara Memilih Sekolah Lanjutan

Tahun ajaran baru hampir menjelang. Berbagai persiapan untuk menyambutnya sudah mulai dilakukan oleh orang tua, khususnya yang memiliki putra putri yang akan memasuki jenjang pendidikan lebih tinggi.

Tak dapat dipungkiri, memilih dan menentukan sekolah yang tepat untuk buah hati kita bukanlah persoalan yang mudah. Kita harus cermat berhitung untuk memutuskan sekolah mana yang akan kita pilih nantinya. Tentu saja, kita tak dapat mengesampingkan faktor nilai yang dimiliki oleh anak kita.
Beberapa tahun terakhir ini, di Jogjakarta khususnya di Kotamadya; Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru sudah melalui online. Real Time Online - begitu istilahnya. Sebagai orang tua, kita dimudahkan dengan adanya sistem ini.

Meskipun tahun ini saya tak lagi disibukkan dengan acara memilih dan mencari sekolah yang tepat untuk anak, tetapi ada beberapa hal yang pernah saya lakukan dulu yang ingin saya bagi di sini.

Kira-kira sebulan sebelum pembagian raport kenaikan ke kelas IV, saya sengaja membeli surat kabar lokal Jogja. Biasanya menjelang Tahun Ajaran Baru, mereka akan memuat beberapa tabel yang berisikan data lengkap tentang Penerimaan Peserta Didik Baru tahun sebelumnya. (sayangnya, saya tak punya satu pun contoh tabel dimaksud....hiks).......

Dari tabel tersebut, kita bisa menghitung dan mengira-ira kemana anak kita bisa mendaftar. Eits ....nanti dulu. Itung-itungan ini tidak asal hitung lhooo. Naah, setelah mengetahui persis jumlah siswa baru yang akan diterima, sebaran nilai terrendah hingga tertinggi dari siswa yang berhasil diterima di sekolah tujuan (biasanya sekolah negeri dan beberapa sekolah swasta yang bergabung di sistem RTO).... kita sisihkan dulu pemikiran ini.
Kenapa? Tentu saja karena kita harus menunggu. Apa yang ditunggu? Hehehe...raport anak kita tentunya. Lalu apa hubungannya?? Masih bingung?? .....Sabar yaaaa......


Setelah raport hasil belajar anak kita sudah diterima, saatnya mengajak anak untuk melihat dan membandingkan jumlah nilai raportnya dengan besaran jumlah NEM yang ada di tabel harian lokal tersebut.
Kita lihat nilai yang dicapai anak kita untuk mata pelajaran yang diujikan di Ujian Nasional. Berapa total jumlahnya?
Naah, setelah mengetahui total jumlah tersebut, kita bisa menentukan sekolah mana yang akan kita tuju nantinya. Terlalu dini? Tentu saja tidak...menurut saya lhooo....
Sebelumnya, tanyakan kepada anak, kemana ia ingin melanjutkan sekolahnya. Biasanya anak sudah punya gambaran kemana ia akan mendaftar.

Apa tidak terlalu terburu-buru? Ini anak baru mau naik ke kelas IV lhoo?
Tidak. Menurut saya, akan lebih baik bila anak dilibatkan sejak dini untuk memilih sekolah yang diinginkannya. Tak rasional? Tergantung dari mana kita melihatnya bukan?
Sejauh pengalaman saya selama ini, anak akan ikut bertanggung jawab dengan pilihannya bila dilibatkan dalam menentukan pilihan.

Voilaa.... point pertama sudah kita dapatkan. Anak sudah mempunyai gambaran SLTP yang akan ditujunya nanti.

Point yang kedua adalah..... jika anak sudah memilih, kita melangkah ke tahap selanjutnya. Apa itu?
Setelah SLTP dipilih, kita melihat ke total nilai UN di raport kenaikan kelasnya, lalu bandingkan dengan nilai terrendah dan tertinggi di tabel yang kita punya sebelumnya.

Sebagai contoh: 
Total nilai 3 mata pelajaran = 26
Nilai di SMP 1 = 28
Terdapat selisih nilai = 2.

Jelaskan kepada anak tentang kondisinya saat ini. Ia mempunyai kekurangan nilai 2 untuk bisa diterima di SMP 1. Tanyakan kepada anak, apa yang akan ia lakukan untuk mengejar kekurangan nilai tersebut?
Banyak alternatif pilihan: les privat, ikut kelas bimbingan belajar, les di sekolah atau belajar sendiri.Biarkan ia menentukan pilihannya sendiri. Tunggu.....kalau pilihannya tidak sesuai dengan keinginan kita? Bagaimana?
Untuk sementara kita yang mengalah. Setidaknya point yang kedua sudah kita peroleh.

Selanjutnya kita akan dampingi anak untuk melalui pelajarannya  di kelas IV seperti biasa. Biarkan anak melaluinya dengan perasaan senang. Karena saya seorang ibu rumah tangga, saya sediakan waktu untuk mengantarnya pergi ke sekolah, mengirim bekal makan siangnya, lalu menjemputnya saat sekolah usai. Kebetulan saya memilih SD yang tidak terlalu jauh dari rumah sehingga saya tak terlalu repot meskipun harus bolak balik dari rumah ke sekolah beberapa kali.
Tak lupa saya sempatkan untuk mengantarnya pergi ke tempat les pilihannya. Bila dirasa perlu, saya akan menungguinya selama ia mengikuti les.
Repot? Ya dan tidak. Kita hanya dituntut untuk bisa membagi waktu kita sebaik mungkin.

Point ketiga....... saat menerima raport  semester I di klas IV. Ajak anak untuk bersama-sama melihat pencapaiannya selama 6 bulan terakhir. Memuaskan atau ada yang harus digenjot kekurangannya?
Syukur bila nilainya bisa mendekati nilai SLTP tujuannya. Kalau tidak?
Ajak bicara anak kita. Berikan alternatif pilihan yang harus diambilnya. SLTP lain atau belajar lebih giat. Jangan lupa, berikan reward untuknya bila nilainya melebihi target yang kita tentukan (nilai SLTP yang ditujunya)..
Ribet yaaa..........?? Hehehe, yaa dan tidaak.

Kuncinya hanya pada kesepakatan antara saya dan anak. Bila nilainya memuaskan, anak tak harus ribet dengan les dan tambahan jam belajar yang menyita waktu bermainnya. Sementara bila hasilnya sebaliknya? Arahkan anak untuk lebih giat belajar dan mendampinginya selama waktu yang dibutuhkan.

Naah, tiba waktunya penerimaan raport kenaikan kelas ke kelas V. Sebelum itu, pastikan bahwa kita sudah mendapatkan tabel Penerimaan Peserta Didik Baru tahun ini dari harian lokal. Bandingkan tabel tahun lalu dengan tahun sekarang. Berapa banyak perbedaan sebaran nilai di SLTP yang dipilih anak?
Lalu bandingkan (lagi) dengan nilai raport anak. Berapa selisihnya? Besar kecilnya selisih ini lah yang kita pakai untuk menentukan gaya belajar anak kita di kelas V.

Balik lagi....bila kekurangan nilainya sedikit, anak tak perlu susah payah mengikuti segala macam bimbingan belajar, les privat atau pun pelajaran tambahan di sekolah. Biarkan anak menikmati waktu luangnya dengan bermain, mengerjakan hobinya atau kesenangan lain yang disukainya. Menggambar, nonton kartun, berenang, naik sepeda keliling kampung atau pun kegiatan lain. Tentu tak bijaksana kalau kita merampas masa bermainnya hanya demi memenuhi ambisi kita akan nilai terbaik.

Menginjak ke kelas VI, baru kita 'menyingsingkan lengan baju'. Dari dua tabel berbeda yang kita miliki kita sudah bisa mengira-ira kemana anak kita harus mendaftar. Sistem RTO di Kotamadya Jogjakarta memungkinkan siswa didik memilih 3 sekolah tujuan, 2 sekolah negeri dan 1 sekolah swasta. Disini kita diharuskan pintar pintar memilih. Kalau anak kita tidak diterima di sekolah pilihan ke-1, secara otomatis anak akan terlempar ke sekolah pilihan ke-2, dan atau terlempar ke sekolah pilihan ke-3.
Pastikan bahwa nilai anak kita berada dalam posisi aman di sekolah pilihan ke-1 kalau tidak ingin anak terlempar ke pilihan ke-2 atau ke-3. Jadi, berpikir masak-masak sebelum menentukan pilihan. Tetap lilbatkan anak dalam penentuan ini, karena dia lah yang akan menjalani pilihan ini. Bukan kita.

Selama duduk di bangku kelas VI, usahakan agar anak berada dalam kondisi prima. Hindarkan pertengkaran sesama anggota keluarga yang tak perlu, tekanan, perintah, bentakan atau pun hardikan yang bisa melemahkan semangat dan mood belajar anak. Jangan lupa untuk mengajaknya beribadah sesuai keyakinan kita, untuk memohon kemudahan dan pertolongan dariNya. Beberapa keluarga bahkan ada yang mengajak anak untuk berpuasa Senin Kamis...... selain mengajarkan kesederhanaan, puasa sunah ini diyakini bisa memuluskan jalan untuk menggapai cita-cita. Wallahu'alam.

Naah.......tibalah saat Ujian Nasional. Saya tak pernah meminta anak untuk mendapatkan nilai terbaik, tetapi selalu menekankan hasil maksimal sesuai kemampuan anak. Bila ia hanya mampu mendapat nilai 7, tentu tak bijak bila kita mengharuskan anak mendapatkan nilai 9 misalnya..... Biarkan anak menempuh ujiannya dengan tenang, bekali dengan sarapan yang disukainya, besarkan hatinya, beri semangat agar anak mengerjakan soal ujiannya dengan tenang. Tentu saja, doa dari kedua orang tua sebagai support spiritual tak boleh dilupakan.

Sambil menunggu pengumuman Nilai Ujian Nasional, kita bisa sedikit berlega hati. Setidaknya, kita sudah mulai mempersiapkan anak untuk menuju ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi jauh jauh hari. Menurut pengalaman saya, hal ini jauh lebih bermanfaat daripada membebani anak yang duduk di bangku klas VI dengan les  privat, tambahan jam belajar, bimbingan belajar selama seminggu penuh.
Tanpa kita sadari, kita telah merampas kegembiraannya, keceriaannya, masa 'bocah'nya dan memberinya tekanan bertubi-tubi. Bukan tidak mungkin, anak akan stress berkepanjangan hingga nilai Ujian Nasional yang digadang-gadang akan terbang entah kemana.

Naah, itu saja. Berdasar pengalaman saya, anak bungsu bisa mencapai target yang kita tetapkan bersama sejak awal. Tak ada rasa keterpaksaan atau pun keengganan dari pihak anak, dan kita sebagai orang tua tinggal memantau perkembangan anak. Tentu saja, jangan lupakan support dan bimbingan kita sebagai orang tua. Apa itu?
Mudah dan sederhana sebenarnya, tetapi belum tentu setiap orang rela melakukannya.
Salah satu contohnya: matikan televisi pada saat anak kita sedang sibuk belajar. Meskipun anak belajar di kamarnya dan kita menonton di ruang keluarga, tetapi itu sangat 'njomplang'....... Anak butuh contoh nyata, bukan hanya kata-kata yang tanpa bukti.
Kalau memungkinkan, dampingi mereka. Sediakan camilan sebagai penyemangat. Elusan dan tepukan di pundaknya pun bolehlah. Anak akan merasa orang tuanya ada bersamanya melewati hari-hari sulitnya.

Berani mencoba??
Salam


=====&&&&&&&&&&=====

Tidak ada komentar:

Posting Komentar